Kartosoewirjo bukanlah militer

Catatan serbaneka asrir pasir

Kartosoewirjo bukalah militer

Kartosoewirjo bukanlah keluaran/alumni pondok pesantren. Bukan pula kutu buku. Baahkan bukan pula militer. Ia hanyalah imam, imam dari NII (citra NII dinodai/diciderai oleh NII gadungan, simak SUARA MUSLIM, DDII Bekasi, Edisi 32-2011/1432, hal 18-19, “Geraan Kriminal Bentukan Intelijen”, oleh Mumtaz/VOI). Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir pada tanggal 7 Januari 1905 (?1903, ?1907) di Cepu (antara Blora dan Bojonegoro, daerah perbatasan Jawa Timur dengan Jawa Tengah).

Pada tahun 1911, saat berusia 8 tahun (?), Kartosoewirjo masuk sekolah ‘Kelas Dua” (untuk kaum bumiputera) di Pamotan. Empat tahun kemudian ia melajutkan sekolah HIS di Rembang. Tahun 1919 ia dimasukkan ke sekolah ELS.

Semasa remajanya di Bojonegoro, Kartosoewirjo mendapat pendidikan agama dari Notodihardjo. Notodihardjo adalah tokoh Islam modern yang mengikuti Muhammadiyah (didirkan oleh H Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1912). Pemikiran-pemikiran Notodihardjo sangat mempengaruhi Kartosoewirjo dalam merespon ajaran-ajaran agama Islam.

Ketika mulai memasuki usia dewasa, Kartosoewirjo mulai berkenalan dengan SI (Pada tahun 1911 Tirtoadisoerjo bersama Haji Samanhoedi mendirikan Syarikat Dagang Islam dan pada tahun 1921 berubah nama menjadi Syarikat Islam).

Pada tahun 1923 setelah menamatkan ELS Kartosoewirjo melanjutkan studinya pada NIAS (Sekolah Kedokteran Belanda untuk Pribumi) di Surabaya. Pada tahun 1926, Kartosoewirjo banyak terlibat dengan aktivitas pergerakan nasionalisme Indonesia di Surabaya. Ia tinggal di rumah HOS Tjokroaminoto bersama Soekarno dan Semaun.

Semenjak tahun 1923, Kartosoewirjo sudah aktf dengan gerakan kepemudaan. Di Jong Java ia terpilih menjadi ketua cabangnya di Surabaya. Tahun 1925 didirikan JIB yang lebih mengutamakan cita-cita keIslaman dari pada nasionaalisme. Dalam JIB, Kartosoewirjo terpilih menjadi ketua cabang Surabaya. Kartosoewirjo adalah orator ulung.

Selama di sekolah, Kartosoewirjo mulai berkenalan dengan pemikiran-pemikiran Islam. Kemudian ia menjadi Islam minded. Semua aktivitasnya hanya untuk mempelajari Islam semata (secara otodidak ?). Dengan modal ilmu-ilmu pengetahuan yang dikuasainya, ia aktif di berbaga diskusi poltik. Ia memasuki Syarikat Islam. Pemikiran-pemikiran politik Tjokroaminoto banyak mempengaruhi sikap tindak da orientasi Kartowoewirjo. Selama tingggal di rumah HOS Tjokroaminoto, secara kontinu Kartosoewirjo memperoleh transformasi pengalaman politik dari Tjokroaminoto. Pengaruh pamannya, Marko Kartodikoro membangkitkan minat Kartosoewirjo untuk memperdalam ilmu dibidang politik.

Dengan keaktifannya di organisasi kepemudaan, Kartosoewirjo berkenalan dengan tokoh Agoes Salim dan Oemar Said Tjokroaminoto (sekaligus merupakan guru politik dan agamanya yang diantaranya nanti bisa menjadi Orang Seiring Bertukar Jalan). Pada tahun 1927 di Pekalongan, Kartosoewirjo terpilih dalam kongres menjadi sekretaris umum PSII. Pada Oktober 1928 kartosoewirjo menjadi peserta kongres pemuda Indonesia di Batqavia (Jakarta). Pada kongres tersebut kartosoewirjo terlibat debat sengit dengan ketua kongres Soegondo tentang akikat pendidikan masa depan.

Di samping bertugas sebagai sekretaris umum PSII, Kartosoewirjo bekerja sebagai wartawan di Koran harian Fadjar Asia (pimpinan Tjokroaminoto ?). Reputasi Kartosoewirjo muda cukup tinggi, ia pernah sekolah di NIAS, menjad sekretaris pribad HOS Tjokroaminoto, menjabat sekretaris umum PSII, anggota staf harian Fadjar Asia.

Pada tahun (September) 1929, dalam usia yang relatif muda, sekitar 22 tahun (?), Kartosoewirjo telah menjadi redaktur harian Fadjar Asia (menggantikan HOS Tjokroaminoto, yang jaruh sakit)). Pada kongres PSII ke-22 di Batavia (Jakarta) bulan Juli 1936 Abikoesno terpilih menjadi ketua. Abikoesno menggandeng/mengangkat Kartosoewirjo sebagai pendampingnya, sebagai wakil ketua. Abikoesno menugaskan kartosoewirjo untuk menyusun suatu brosusr tentang sikap hijrah PSII. Jabatan wakil ketua dipegang Kartosoewirjo sampai ia keluar dari PSII dalam tahun 1939(karena berseberangan dengan Abikoesno tenang konsep hidjrah).

Abikoesno Tjorosoejoso menyatakan bawa kongres PSII juli 1936 telah menyetujui politik Hjrah yang rinciannya telah disusun oleh Kartosoewirjo dalam brosur “Sikap Hidjrah PSII ( dua jidid). PSII terbelah antara yang pro dan kontra tentang konsep hidjrah. Pada bulan Januari 1939 Salim, Roem, Sabirin, Sangaji, Muslich dan 23 anggota fraksi Salim dikeluarkan dari keanggotaan PSII. Namun pada tahun 1939 Kartosoewirjo terlibat dalam pertengkaran sengit dengan mayoritas pimpinan PSII yang diketuai Abikoesno masih tentang konsep/politik hidjrah (non-kooperasi). Kartosowirjo dengan anggota yang sealiran antara lain JusufTaoedji dan Kamran membentuk KPK-PSII.

Kartosoewirjo mengharapkan persatuan dunia Islam dengan umatnya secara keseluruhan. Dengan demikian dapat tercipta suatu dunia baru “Darul Islam” (Khilafah Islamiyah ?). Program aksi hidjrah (islamisasi ?) Kartosoewirjo meliputi bidang politik, sosial, ekonomi, ibadah (ritual ?), mistik (spiritual ?).

Pada tahun 1943 Kartosoewirjo masuk MIAI dibawah pimpinan Wondoamisono sekaligus menjadi sekretaris umum dari Majlis Baitulmal dari MIAI tersebut. Melalui SOEARA MIAI, kartosoewirjo menuliskan gagasannya tentang masyarakat Islam yang benar-benar sempurna baik secara ideology maupun ide. Setiap gerak langkah kehidupannya hanya untuk kesuksesan dunia Islam.

Pada bulan Oktober 1943 MIAI dibubarkan (hanya berjalan selama 6 bulan saja) dan pada tanggal 11 Nopember 1943 didirikan Masjoemi. Kartosoewirjo sendiri masuk menjadi anggota Masjoemi.

Dalam masa pendudukan Jepang, Kartosowirjo tetap memfungsikan lembaga Suffah. Lebaga Suffah adalah lembaga pendidikan kader PSII, di dekat Malangbong, yang dibentuk dalam gaya sebuah pesantren tradisional. Kartosoewirjo memberikan pelajaran bahasa Belanda, Astrologi (?), Ilmu Tauhid. Disamping mendapat pengajaran pengetahuan umum dan pendididkan agama, para siswa juga dididik dalam Ilmu Politik. Namun kini lebih banyak memberikan pendidikan kemiliteran (dari militer Jepang/PETA ?) untuk lebih mempersiapkan perjuangan. Siswa yang menerima latihan kemiliteran di Institut Suffah akhirnya memasuki salah satu organisasi gerilya Islam (Hizbullah untuk yang lebh muda dan Sabilillahuntuk yang lebih tua), yang nanti menjadi inti Tentara Islam Indonesia (TII) di Jawa Barat. Pada masa itu Kartosoewirjo bekerja di kantor pusat Jawa Hokokai (Perhimpunan Kebaktian Rakyat Jawa yang didirikan Jepang pada bulan Nopember 1944). Kelihatannya Kartosoewirjo berseda bekerja sama dengan Jepang. Namun selama itu dia tidak pernah mengeluarkan pernyataan politik. Dia memanfa’atkan kedudukannya dan memanfa’atkan sarana propaganda yang dibentuk Jepang guna mencapai tujuannya. Dia tidak pernah memutuskan hubungannya dengan teman-temannya dari KPK-PSII. Ia benar-benar konsekwen dengan sikap hidjrahnya (non-kooperasi dalam pandangan politiknya).

Menjelang Proklamasi RI tanggal 17 Agustus 1945, Kartosoewirjo datang ke Jakarta bersama dengan beberapa orang pasukan Laskar Hizbullah, dan bertemu dengan beberapa elit pergerakan/nasionalis untuk memperbincangkan peluang untuk mengubah determinisme sejarah rakyat Indonesia.

Pada bulan Oktober 1945 Kartosoewirjo beserta Wahid Hasyim dan Mohammad Natsir mengadakan pembicaraan untuk menjadikan Masjoemi sebagai partai politik. Namun tidak ada kata sepakat dalam pertemuan tersebut. Pada tanggal 7 Nopember 1945 di Yogyakarta Masjoemi didirikan (dengan memakai nama yang lama), sebagai wahana organisasi bagi semua kelompok Islam, sebagai partai politik kesatuan bagi semua Muslim. Dalam Masjoemi Kartosoewirjo menduduki jabatan sebagai sekretaris pertama.

Dalam kongres pembentukan Masjoemi ditetapkan bahwa disamping Hizbullan (untuk yang lebih muda) dibentuk lagi Sabilillah (untuk yang lebih tua). Keputusan lain bahwa Umat Islam haruslah dipersiapkan untuk menjalankan jihad. Tujuan Masjoemi adalah untuk menciptakan sebuah negara hukum yang berdasarkan ajaran agama Islam.

Karena RI berdasarkan kedaulatan rakyat, demokrasi (suara rakyat terbanyak yang berdaulat, yang memegang kekuasaan negara), maka menurut Kartosoewirjo konsekwensi logisnya yang berdaulat, yang berkuasa, yang memegang tampuk pemerintahan negara adalah Islam, bukan komunis, dan bukan nasionalis.

Dalam konferensi (pertama ?) di Cisayong (Pangwedusan, 10-11 Februari 1948 ?) diambil keputusan (terpenting) untuk mendirikan TII. Dalam konferensi (kedua ?) di Cipeundeuy (Banturujeg, Cirebon, 1-2 Maret 1948) ditetapkan Kartosoewirjo sebagai Imam di Jawa barat. Kartosoewirjo masih berharap untuk dapat merealisir pendirian Negara Islam secara legal. Kartosoewirjo dan Ono menyusun strktur militer dan pemerintaha Negara Islam menggantikan Pemerintahan Republik jika kalah melawan Belanda. Pada konferensi ketiga di Cijoho (1-5 Mei 1948) Kartosoewirjo memimpim Majlis imamah (cabinet) dari Majlis Isam Pusat.

Kartosoewirjo lebih banyak berkiprah sebagai ketua/sekretaris di organisasi (Jong Java, JIB, PSIHT, MIAI, Masjoemi), wartawan (Fadjar Asia) dan konseptor/ideoloog DI/TII/NII.

(Al-Chaidar : “Pengantar Pemikiran Politik Proklamator NII SM Kartosoewirjo”, Darul Falah, Jakarta, 1999)

(BKS1107140530)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s