Natsir bicara “Rasionalisme” dalam Islam

catatan serbaneka asrir pasir

Natsir bicara “Rasionalisme” dalam Islam

Pada awal abad ke-2 Hijriyah mulai timbul aliran paham yang digerakkan oleh beberapa ahli akal terkemuka yang mendirikan satu madzhab yang dinamai Muktazilah. Sejarawan Barat menamakannya dengan Rasionalisme dalam Islam. Pada hakekatnya Rasionalisme seperti yang dipahami barat itu tidak sama dengan paham, I’tikad yang dibentangkan oleh ulama Muktazilah.

Di antara masalah terpengtingyang menjadi focus pembahasan kaum Muktazilah adalah tentang “sifat-sifat Tuhan”, masalah “Qadha dan Qadar”, masalah “Quran” aapakah itu makhluk atau tidak, masalah “politik” (khilafah).

Seringkali terlihat bagaimana dua masa yang amat berjauhan, yang berjarak beberapa abad, mungkin menghasilkan pemikir-pemikir yang bersama aliran fikiran, walau tak ada perhubungan antara satu dan yang lain, dan walau pun yang satu di Timur dan yang lain di Barat.

Antara Imam Ghazali dengan Descartes ada lebih kurang 5 abad. Yang seorang di Baghdad, dan yang lain di Perancis. Akan tetapi aliran fikiran hazali dalam “Tahafut” bertemu kembali dalam pembahasan Descartes dalam “Discours de la method”. Beberapa anasir dan keadaan-keadaan yang bersamaan dalam dua zaman yang berjauhan itu telah menghasilkan dua aliran fikiran manusia yang menunjukkan beberapa prsamaan pula. Halini biasanya disimpulkan dengan l’Histoire se repete”, zaman beredar, riwayat berualang.

(Apakah JIL, Jaringan Islam Liberal yang disebut “Jumawa” masa kini merupakan langan, repetisi, reinkarnasi dari Muktazilah masa lalu ? Apakah Sekularisme, Sinkretisme, Pluralisme, Liberalisme dan kerabatnya merupakan jelmaan, metamorfosa dari Ilmaniah, Zandaqiah, Dahriyin, Nazzhamiah, dan yang sekerabat dengannya ?AS)

Pendiri madzhab Muktazilah pertama adalah Washil bin ‘Atha, lahir di Madinah tahun 80H dari Banu Makhzhum. Ia adalah ahli pidato yang tangkas dan lancer. Semua kata dalam pidatonya tak menggunakan hruf ra (er), karena ia tak pandai melafalkan huruf ra (er). Ia melafalkan huruf ra (er) seperti ghain (ge). Pengikutnya dinamakan dengan Washiliah.

Golongan Muktazilah terpecah-pecah sampai tidak kurang darpada 20 golongan yang lebih kecil. Bla ada sedkit saja perbedaan pemahaman di antara mereka, maka timbullah madzhab baru. Ada yang tinggal kecil, dan ada yang bertambah besar.

(M Natsir dari Pendidikan Islam Bandung, dalam ALMANAAR, no.2, pg 89-96)

Muktazilah masa kini

AlImam Abul Hasan AlAsy’ari berlepas diri dari Kaum Asy’ariyin (Abul Hakim bin Amir Abdat : “Risalah Bid’ah, 2001:115). “Saya bukan Marxis” kata Karl Marx (Muhammad Hatta : “Ajaran Marx”, 1975:7).

Abul Hasan AlAsy’ari (260-324H) adalah perumus dan pembela faham Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Salah satu kitab karangannya adalah “ArRaaddu ‘alal Ibnu Rawandi”, Menolak faham Ibnu Rawandi. Ibnu Rawandi adalah orang Muktazilah (KH Siradjuddin Abbas : “Thabaqat AsySyafi’iyah”, 1975:94).

Ibnu Rawandi berkata , “Kalau apa yang dibawa oleh para nabi mendukung akal, maka kita tidak memerlukannya, karena kita telah memiliki akal, tapi kalau bertentangan maka lebih-lebih tidak memerlukannya”.

Ibnu Rawandi menilai bahwa :shalat, mendi junub, melontar jumrah, dan thawaf, semuanya tidak sejalan dengan akal. Orang Arab – katanya _ dapat menyusun semacam “AlQur:an” (M Quraish Shihab : “Mukjizat AlQur:an”, 1997:268-269).

Golongan Muktazilah (“Rasionalisme”) terpecah-pecah sampai tidak kurang dari 20 golongan madzhhab. Perselisihan kecil bias menimbulkan golongan madzhab baru. Semuanya dihadapi dan diantang oleh golongan madzhab “Ahli Sunnah” (M Natsir : “Rationalisme dalam Islam dan Reactie atasnya”, ALMANAR).

Ulil Abshar Abdallah dengan “jaringan Islam Liberal menganggap bahwa misi Islam yang penting sekarang adalah bagaimana menegakkan keadilan di muka bumi, terutama di bidang politik dan ekonomi (juga di bidang budaya), bukan menegakkan jilbab, mengurung perempuan kembali, memelihara jenggot, memendekkan ujung celana, dan tetek bengek masalah yang menurutnya amat bersifat furu’iyah (KOMPAS, Senin, 18 November 2002). Namun tak jelas bagaimana “keadilan versi Ulil”.

Belajar Memahami Khawarij dan Muktazilah

Khawarij :

Khawarij Masa Lalu, picik, dangkal dan tidaka mendalam memahami permasalahan yang dihadapinya, tidak jauh pandangannya dalam menilai hasil dan akibat dari perbuatan yang hendak dikerjakan. (tak berbobot analisa-ilmiahnya). Sedangkan Khawarij masa Kini sangat terampil membawakan hujjah-argumentasi yang tampak sangat ilmiah-akademis (pseudo ilmiah).

Khawarij Masa Lalu sangat tekun beribadah. Sedangkan Khawarij Masa Kini tak serius beribadah (ghafil, sahun fil ibadah).

Sebagian Khawarij Masa Lalu mengingkari sebagi suarat alQur:an (surat Yusuf). Khawarij masa Kini juga mengingkari sebagian ayat Qur:an. Antara lain ayat QS 3:19, 3:85, 2:221, 58:22, 60:10, dan lain-lain.

Khawarij Masa Lalu berani dan menganggap enteng terhadap kehidupan di dunia, demi untuk mempertahankan pendapat dan prinsip yang diaanustnya. Sedangkan Khawarij Masa Kini hanya aktif menyebarkan pendapatnya namun tak berani mati mempertahankan pendiriannya.

Khawarij Masa lalu bersifat anarkis, sedangkan Khawarij Masa Kini bersifat kompromis.

Muktazilah :

Muktazilah Masa lalu sangat berlebih-lebihan dalam menghormati akal (rasio). Muktazilah Masa Kini juga sangat berlebih-lebihan mengagung-agungkan akal (rasio).

Muktazilah Masa Lalu, dengan menggunakan filsafat membuat ajaran Islam menjadi kabur, menjadi tak jelas. Muktazilah Masa Kini juga dengan menggunakan filsafat (rasio) membuat ajaran Islam menjadi kabur, kacau. Yang sudah qath’i dibuat menjadi zhanni.

Muktazilah Masa lalu menggunakan filsafat untuk mempertahankan Islam. Muktazilah Masa Kini menggunakan filsafat untuk melemahkan Islam. Muslim yes Islam no.
Muktazilah masa Lalu memandang Qur:an sebagai makhluk. Muktazilah Masa Kini menjadikan Qur:an sebagai objek kritik (Hermeneutika).

Kelompok :

Baik masa lalu, maupun masa kini, Khawarij dan Muktazilah ada yang rajin beribadah juga rajin berjihad. Ada yang rajin beribadat tapi malas berjihad. Ada yang malas beribadat tapi rajin berjihad. Ada yang malas beribadat juga malas berjihad. Ada yang label Islam yes Ibadah no. Ada yang Ibadah yes Syari’at no.

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS0708051500)

.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s