Kepedulian sosial Islam

catatan serbaneka asrir pasir

Kepedulian Sosial Islam (Kesalehan ritual dan kesalehan sosial)

Islam sangat peka, sangat peduli akan kesejahteraan sosial. Kepeduliaan sosial Islam melebihi kepedulian akan pelaksanaan, pengamalan ibadah ritual. Kesalehan ritual dituntut dibarengi dengan kesalehan sosial. “Tidak dinamakan beriman kepadaku – kata Nabi Muhammaad saw – orang yang habiskan harinya dengan kenyang sedag tetangganya di dalam kelaparan padahal ia tau” (HR AlBazzar dari Ans, dalam Sayyid Ahmad AlHasyimi Beik : “Mukhtarul Ahadits Annabawiyah”, halaman 147, hadits no.1016).

Dalam berbagai nash aQuran dan asSunnah, keimanan selalu dibarengi amal saleh. Ini menunjukkan bahwa keimanan yang bewrpangkal pada kalimat syahadat, harus didikuti dengan amal saleh sebagai konsekwensi yang dituntut oleh kaliamt syahadat itu (Taboild REPUBLIKA. “Dialog Jum’at”, 28 November 2008, hal 16, “Sedekah Roadmap”).

Dari surah Al’Ashr dpahami bahwa kesempurnaan manusia itu hanya bisa tercapai dengan iman (untuk mempergunakan kekuatan ilmiahnya), dengan amal saleh (untuk menyempurnakan kekuatan amaliahnya), dengan nsehat kepada akebenaran dan nasehat kepada kesabaran , menghadapinya (“Madarijus Salikin” Ibnu Qayyim, terbitan Pustaka AlKautsar, Jakarta, 2008:29).

Dari ayat 177 surah alBaqarah setidaknya ada 17 ciri orang bertakwa. Lima yang pertama adalah aspek keyakinan atau akidah (Beriman kepada Allah, Hari kiamat, Malaikat-Malaikat, kitab-Kitab, Nabi-Nabi). Empat lainnya amalan fardhiyah (Shalat, sabar dalam penderitaan, sabar dalam peperangan). Delapan berikutnya berupa amalan sosial (berinfaq kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, hamba sahaya, menunaikan zakat dan menepati janji). (Simak juga QS 4:36). Dengan demikian, maka amal sosial merupakan perwujudan nyata dari keimanan. Atau dengan kata lain, amal sosial itu juga merupakan wujud nyata taqarrub ila Llah.

Dalam setiap momentum umat Islam selalu bermuatan ibadah ritual dan sosial. Misalnya puasa Ramadhan disempurnakan dengan sedekah. Idul Fitri digenapkan sebelumnya dengan zakat fitrah. Ibadah haji dilengkapi dengn kurban (“Dialog Jum’at” REPUBLIKA, 28 November 2008, hal 16).

Secara sosiologis-antropologis, salah satu bentuk taqarrub ila Lalah dengan menyantuni sesame, menyantuni fuqara-miskin. Disebutkan dalam satu hadits shahih (Riayat Muslim dari Abi Hurairah) bahwa pada hari kiamat nanti, Allah menanyai manusia : “Wahai hambaKu, Aku meminta makan kepadamu, namun kamu tidak memberiKu makan … bila kamu member makan (orang yang minta makan kepadamu), niscaya kamu mendapatkan yang demikian itu (rahmat keridhaan) di sisiKu (“Madarijus Salikin” Ibnu Qayyim, 2008:451-642; “Mutiara Hadits Qudsi”, oleh A Mudjab mahali, 1980:60, pasal “Kasih Sayang dan Dermawan”; kultum menjelang bukapuasa lewat RCT, senin 1 Oktober 2007, 1800 oleh Quraisy Syihab).

Menyantuni sesama itu mengundang kasih saying ridha Allah. Menyantuni sesame itu memang berat, sukar. Berkorban untuk kepentingan sesama adalah berat, sukar (simak antara lain QS 90:11-16). Yang tak mau menyantuni sesama dikategorikan sebagai pendusta agama (simak QS 107:1-3), tak percaya akan hari berbangkit (simak QS 69:33-34, 74:43-46, 89:17-20).

Ada yang memahami “al’aqabah” dalam QS 90:13-17 sebagai “jalan yang merepotkan”, yaitu “Melepaskan belenggu perbudakan” (dari Penindasan exploitation de l’home par l’home, Perbudakan antar sesama manusia, Perbudakan yang menyebakan kelaparan dan ketakutan). “Atau memberi makan pada saat kelaparan” (Pembagian santunan). “Merawat, menyantuni anak yatim yang masih jadi kerabat” (yang bisa terjadi akibat revolusi, pergolakan). “Merawat, menyantuni orang miskin yang terlantar” (bisa juga terjadi akibat revolusi yang memporakporandakan, meludeskan harta bendanya). “Saling nasehat menasehati sesama orang beriman dengan kesabaran dan kasih saying” 9Drs Mohammad Soebari, MA : “Makalah : Kesenjangan Dengan Sembilan Basis Konsepsi”, Biro Dakwah DAKTA, Bekasi, 1998:6-7).

Imam Nawawi mengawali kitabnya “Riadhus Shalihin” dengan Kata Pendahuluan yang memuat ajakan agar mengabaikan tipud daya dunia dengan zuhud, sebab duna akan rusak, dan sebagai batu loncatan, bukan tempat tinggal dan kesenangan. Jngan sampai tertipu oleh kesibuan dunia, sehingga mengabaikan kewajiban ibadat. Sehubungan dengan ini, Imam Nawawi dalam kitabnya itu memuat fasal “Ketamaan zuhud, tidak rakus pada dunia, keutamaan miskin”, “Keutamaan lapar, keutamaan kesederhanaan”, “Qana’ah, menerma apa adanya”.

(written by sicumpaz@gmail.com at BKS11021230)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s