Panggilan Adzan

Catatan serbaneka asrir pasir

Panggilan Adzan

Panggilan, seruan Adzan memanggil, menyeru untuk mengagungkan Allah, membesarkan Allah, mentauhidkan Allah, mengesakan Allah. Tegak berdiri, siap melaksanakan perintah Allah, meninggalkan larangan Allah. Ruku’, sujud kepada Allah. Berdo’a memohon kepada Allah.

Memanggil untuk memuliakan, menghormati Rasulullah. Mengikuti petunjuk Rasulullah. Meneladani perilaku Rasulullah. Menyiarkan, menyebarkan ajaran Rasulullah.

Memanggil untuk menkonsolidasi kekuatan dengan beramai-ramai berjama’ah melaksanakan shalat di masjid. Memakmurkan masjid. Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan.

Memanggil untuk meraih kemuliaan, kejayaan, kemenangan. Tampil sebagai umat pemenang, bukan sebagai umat pecundang.

Semuanya itu dalam bentuk harapan sebagai Das Sollen. Belum terwujud dalam kenyataan sebagai Das Sein. Umat Islam di mana-mana tetap saja sebagai umat pecundang, bukan sebagai umt pemenang. Bahkan tak ada satu Negara pun yang menerapkan keadilan Islam, setidaknya keadilan dua Umar (Umar bin Khatthab dan cicitnya Umar bin Abdul Aziz). Apakah sosok ustadz, ustadzah, muballigh, muballighah, pencerqamah yang tampil pada kuliah subuh tayangan televise merupakan sosok umat pemenang, umat wasathan, umat moderat, ataukah hanya merupakan sosok umat pecundang, pelawat, pembadut ? Apakah negar-negara yang menyaandang predikat Islam merupakan sosok negara pemenang, ataukah sosok Negara pecundang, pembeo yang jadi bulan-bulanan lawan/musuh Islam ?

aAdzn adalah panggilan untuk bersedia hidup dalam kesadaran “Tuhan yang selalu hadir”. Panggilan ini bisa oula disebut panggilan kepada “jalan lurus”. Panggilan adzan bersifat teologis/teosentris sekaligus berimplikasi sosiologis/antroposenris. Panggilan adzan adalah panggilan pada kebebasan, kemerdekaan (Simak Budhy Munawar-Rachman : “Panggilan Azan”, KOMPAS, Jum’at, 4 Oktober 1996: Abul A’la alMaududi : “Metoda Revolusi Islam”, ArRisalah, Yogyakarta, 1983, hal 64). Jika memakai slogan Revolusi Perancis, maka Panggilan Adzan merupakan panggilan “Liberte, Egalite, Fraternite”. Hal ini akan tampak nyata dalam pelaksanaan shalat berjama’ah di masjid. Semuanya tanduk patuh mengikuti komando imam. Tak seoangpun akan mendengarkan, mempeduliakn, memenuhi seruan, panggilan siapa pun.

(written by sicumpaz@gmail.com as BKS1106230515)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s