Kita ini jahil

Kita ini Jahil

“Fenomena keseharian masyarakat kita menggambarkan dengan telanjang betapa masih terlalu banyak umat Islam sendiri yang jahil dengan agamanya sendiri” (SABILI, No.6, Th.VIII, 6 September 2000, hal 10). Kita ini benar-benar jahil. Jahil akan hakikat uluhiyah (mengingkari ke Mahakuasaan Allah). Jahil akan hukum Allah (mengingkari kebenaran Allah (QS 2:16, 4:44). Kita mengucapkan “La ilaaha illallah”. Kita mengakui ahwa “Taak ada Tuhan selain Allah”. Namun kita tak rela diatur dengan aturan Allah. Tak rela diatur oleh Islam. Kita benar-benar alergi terhadap Islam. Alergi terhadap “Negara Islam”. Jahil terhadap Islam ( Zinal Muttaqin : SABILI, No.20, 22 Maret 2000, Muhasabah).

Meskipun yang memimpin dan yang dipimpin sama-sama orang Islam, tapi kita lebih suka diatur oleh yang bukan Islam. islah hanyalah sekedar objek pembicaraan, sekedar komoditas bisnis. Terhadap label “Negara Islam” Prof Dr Ahmad Syafe’I Ma’arif, Ketua DPP Muhammadiyah saja sedemikian sewotnya (Fokus INDOSIAR, Sabtu, 11 Maret 2000, 1630-1700).

“Qur^an tak pernah memerintahkan kita agar negeri ini diatur, ditata oleh Islam”. “Menjadikan Islam sebagai satu-satunya aturan yang mengatur negeri ini adalah merupakan sikap dan tindakan diskriminatif terhadap yang bukan Islam”. “Islam hanyalah da’wah diniyah. Semata-mata mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya. Tak ada hubungan apa-apa dengan masalah keduniaan, seperti urusan peperangan, urusan politik”. “Agama adalah satu hal, dan politik adalah suatu hal yang lain” (Prof Dr TM Hasbi Ash-Shidieqy : “Ilmu Kenegaraan Dalam Fiqih Islam”, 1991:6).

Namun demikian, alhamdulllah, di atas ring tinju, lafazh takbir “Allahu Akbar” dan tahlil “La ilaaha illallalla” dikumandangkan oleh petinju Naseem Hameed di London Inggeris (Siaran langsung SCTV, inggu pagi, 12 Maret 2000, 0530-0600).

Kita ini lebih jahil dari musyrikin Quraisy. Orang Arab jahiliyah lebih mengerti, lebih memahami, lebih mengetahui tentang arah, tujuan, maksud yang sesungguhnya dari seruan “La ilaaha illallah”. Mereka mengetahui bahwa uluhiyah (ketuhanan) itu berarti hakimiyah (penguasaan) yang tertinggi.

Mereka mengerti bahwa mentauhidkan ketuhanan dan menyatukan Allah itu dengan tauhid berarti melucuti kekuasaan yang dipergunakan oleh pemuka agama, ketua suku, pangeran dan penguasa, dan mengembalikan semuanya kepada Allah.

Mereka menetahui bahwa “La ilaaha illallah” itu adalah suatu revolusi terhadap kekuasaan bumi, pemberontakan terhadap yang memerintah. karena itu mereka bersikap jahili, menyambut seruan “La ilaaha illallah” itu dengan tantangan, sambutan yang amat keras, dengan peperangan yang belum dikenal sebelumnya (Sayid Qutb : “Petunjuk Jalan”, Bab : Wujud Metode Qur^ani)

Written by Asrir Sutanmaradjo at BKS0002131930
(visit and look also at http://asrirs.blogspot.com https://sicumpas.wordpress.com
http://sikumpas.blogspot.com http://kamimenggugat.blogspot.com http://kami-menggugat.blogspot.com http://islamjalanlurus.truefreehost.com http://sicumpaz.truefreehost.com http://sicumpas.multiply.com http://fauziah_sul.livejournal.com http://pontrendiniyahpasir.wordpress.com

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s