Menggugat fiqih, membela emansipasi ?

Menggugat fiqih, membela emansipasi ?

Ketika menyimak tulisan Muhammad Musa MA “Hak Reproduksi Perempuan Dalam Hukum Islam” (Mimbar ALMUHAJIRIN Jakaperamai Bekasi, No.8, 1 April 2011 ?), saya serasa membaca “Menggugat fiqih, membela emansipasi”. Berbeda dengan ketika saya membaca tulisan Dr Ahmad Syauqy alFanjari “Perkawinan sehat” (“Pengarahan Islam Tentang Kesehatan”, alHidayah, Jakarta, 1990:140-149), Dwi Astuti “Adab Hubungan Suami-Isteri” (PANJI MASYARAKAT, No.255, 15 September 1978, hal 51-52), dan lain-lain semacam itu.

Dalam tulisan Muhammad Musa tersebut antara lain disebutkan bahwa “dalam banyak literature fiqh Islam, hak penikmatan seksual tampak hanya menjadi milik laki-laki. Hak-hak seksual perempuan direduksi (dinafikan, dikebiri ?). Suami berhak atas kenikmatan seksnya kapan saja, dan isteri wajib memenuhinya. Ini merupakan konsekwensi logis dari rumusan nikah yang dibuat oleh mayoritas besar para ahli fiqh (yang semuanya adalah para lelaki ?) yang merumuskan perkawinan atau pernikahan sebagai akad yang memberikan hak kepada laki-laki untuk penikmatan tubuh perempuan. Pandangan ini sulit dimengerti ketika dihubungkan dengan prinsip kesetaraan hak laki-laki dan perempuan (hak kesetaraan gender ?).

Dalam tulisan Muhammad Musa tersebut tak dibahas bahwa “Hubungan Suami Isteri Dalam Tuntunan Islam” antara lain agar “Bersungguh-sungguh, tidak tergesa-gesa dan berusaha selesai bersama”. ‘Jika salah seorang kamu bersaggama dengan isterinya, hendaklah ia bersungguh-sungguh. Bila ia sedang menyelesaikan kebutuhannya padahal isterinya belum sampai klimaksnya, maka janganlah tergesa-gesa untuk mengakhirinya sebelum kebutuhan isterinya selesai pula” (HR Abu Ya’la, RISALAH, Bandung, No.10, th.XXV, hal 37, Keluarga Islami. Apakah masalah ini sengaja dilewati agar terlihat bahwa Islam itu tak memperhatikan kebutuhan perempuan ?

Kata “masih” dalam ungkapan … literature fiqh klasik yang sampai hari ini masih menjadi sumber otoritatif kaum muslimin sesudah alQuran dan hadits …” menyiratkan secara impliist (tersembunyi) bahwa penulis Muhammad Musa menginginkan, mengharapkan agar literatur (khazanah, kepustakaa) fiqih Islam klasik tidak lagi (relevan) menjadi sumber rujukan otoritatif kaum Muslimn sesudah alQuran dan Hadits. Mengharapkan re-interpretasi dari fiqih Islam agar sesuai dengan prinsip-prinsip kesetaraan hak laki-laki dan perempuan. Penulis tampaknya merasa fiqih Islam klasik menggugurkan prinsip kesetaraan gender. Dengan sangat ilmiah, dengan penyusunan premis/muqaddamah sedemikian rupa, sehingga dapat menggiring pembaca memperoleh konlusi/natijah yang sesuai dengan perspektif penulis.

Jahili sekuler memang sangat intens berupaya menggugat tafsir ulama Salaf sebagai referensi tunggal, bahkan menuding tafsir ulama Salaf sebagai pemicu radikalisme/terorisme (Simak Tony Rudyansyah : “Tragedi Bom Bali : ‘Radikalisme, Globalisme dan Krisis Kemanusiaan’”, KOMPAS, Sabtu, 22 Oktober 2005, hal 14). Menggugat (mereduksi, menafikan, mengkebiri) literatur (khazanah, kepustakaan) karya-karya ulama terdahulu yang dipandang sangat situsional, hanya sesuai dan cocok untuk zamannya (Simak Majalah TABLGH, Vol.03/No.02/Septeber 2004, hal 39, “Intelektual Jahil Berbahaya” dari hidayatullah.com, Adian Husani MA).

Written by Asrir Sutanmaradjo at BKS
(look also at http://asrirs.blogspot.com https://sicumpas.wordpress.com
http://sikumpas.blogspot.com http://kamimenggugat.blogspot.com http://kami-menggugat.blogspot.com http://islamjalanlurus.truefreehost.com http://sicumpaz.truefreehost.com http://sicumpas.multiply.com http://fauziah_sul.livejournal.com http://pontrendiniyahpasir.wordpress.com )

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s