Mencegah munculnya teroris

Mencegah munculnya teroris
(Siapa yang teroris ? Siapa yang otaknya dicekoki ?)

Hewan, sekecil apapun, bila kehidupannya terancam, akan melakukan tindakan perlawanan apa pun yang bisa ia lakukan.

Manusia pun, bila kehidupannya terancam akan melakukan tindakan perlawanan apa pun yang bisa ia lakukan.

Mereka-mereka yang diklasifikasikan, dikategorikan sebagai teroris, sebagai pelaku teror bom, karena diteror, diintimidasi, diuber-uber, dikejar-kejar terus menerus, akan melakukan tindakan perlawanan apa pun yang bisa ia lakukan. Teror bom, bom bunuh diri hanyalah salah satu aksi perlawanan yang ia lakukan, karena kehidupannya sudah sangat kritis, sangat terancam kelangsungannya.

Pertumpahan darah merupakan fenomena (alam dan sosial) yang diprogramkan Allah sejak awal (simak QS 2:30). “Allah telah mentakdirkan dan apa yang dikehendakiNya” (HR Muslim dari Abi Hurairah, dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi). “Allah menghendaki, tak ada kekuatan selain dengan Allah” (QS 18:39).

Keras lawan keras, teror kontra teror tidak akan menyelesaikan masalah. Kutuk-mengutuk pun tak akan menyelesaikan masalah, bahkan akan memperparah keadaan. Kekerasan melahirkan kekerasan (Yudi Latif : “Terorisme : Anak kandung Kekerasan”, KORAN TEMPO, Sabtu,, 12 Agustus 2003, hal 6).

Apa yang dinamakan terror oleh George Bush, Tony Blair, John Howard dan pendukungnya adalah aksi kontra terror, aksi menantang, melawan anti terorisme. Aksi anti terorisme ini dilakukan oleh pendukung Palestina Merdeka. Sedangkan aksi teror dlakukan oleh pendukung Zionisme Israel. Slama tindakan brutal dilakukan oleh Zionis Israel dan pendukngnya terhadap Palestina Merdeka, maka aksi anti terorisme akan tetap dilakukan ole pendukung Palestina Merdeka.

Aksi anti terror hanya dapat dihentikan, bilamana Amerika Serikat dan sekutnya berhenti mendukung kebrualan Zionis Israel, tak membiarkan Zionis Israel berbuat semena-mena terhadap Palestina Merdeka. Aksi anti terror tak dapat dibasmi dengan dengan menyingkirkan Taliban, AlQaaeda, Osama bin Laden, Hambali, Imam Samudera, Saddam Husein, dan lain-lain. Amerika Serikat dan sekutunya memandang bahwa dengan melenyapkan mereka itu persoalan selesai. Ternyata semakin banyak aksi anti terror ditumpas, semakin marak aksi anti terror.

Para ahli dan praktisi ilmu sosial seyogianya urun rembuk menemukan solusi bagaimana caranya agar mereka-mereka yang dituding sebagai dalang teroris tidak lagi terancam kehidupannya, dan segera meninggalkan aktivitasnya yang berhubungan dengan bom-membom. Para ulama, kiyahi, ajengan, ustadz, da’i, muballigh secara berjama’ah mengkaji Qur:an dan Hadits, menemukan solusi Islam bagaimana caranya agar mereka-mereka yang dituding sebagai dalang teroris tidak terancam kehidupannya dan segera meninggalkan aktivitasnya yang berhubungan dengan bom-membom.

Teroris legendaries dari Venezuela, Illich Ramirez Sanchez yang popular disebut Carlos adalah orang kaya. Carlos pernah kuliah di Moskwa. Ia meninggalkan kemewahan, mati-matian berkiprah dalam dunia terorisme. Begitu juga later belakang anggota kelompok Baader-Meinhof di Jerman Barat, Brigate Rose di Italia, atau Sekigun di Jepang.

Para analis seperti Anthony Storr menyatakan, pelaku terror umumnya penderita psikopat agresif, yang kehilangan nurani, kejam dan sadistis. Kelompok psikopat agressif bisa melakukan terror sekedar untuk terror, terror qua terror, menciptakan sensasi dengan kekejaman. Kaum anarkis, nilistis, dan revolusisoner melakukan terror untuk mengubah tatanan dunia yang penuh ketimpangan dan ketidakadilan. Penganjur utamanya adalah tokoh Rusia dari abad ke-19, Mikhail Bakunin. Mereka ingin menghancurkan dunia yang ada dan menggantinya dengan tatanan baru yang penuh keadilan (KOMPAS, Sabtu, 18 Juni 2009, hal 3, “Teror Puncak Kekerasan”).

Filosof Barat, Joseph Pierre Proudhon mencetuskan revolusi kiri dengan kredonya “Destruam et aedificabo. Hancurkan lalu bangun” (SABILI, No.01, Th.X, 25 Juli 2002, hal 35, “Saatnya Revolusi Islam”).

Menurut Tan Malaka, revolusi itu hanya bisa timbul pada saat krisis, pada saat adanya pertentangan, pertempuran, pergolakan antara Orde Yang-Lama yang tak sanggup lagi mengatur, dan Orde Yang-Baru, yang sudah sanggup berkorban sebesar-besarnya (“Dari Penjara ke Penjara”, III, 1948:34).

Organisasi teroris ekstrim kiri Italia, Brigade MERAH (Brigate Rossa) diresmikan berdrinya pada 1970. Pendirinya Renato Curcio dengan membentuk kelompok diskusi berhaluan kiri.

Kelompok teroris sayap kiri Jerman Barat, Sempalan Tentara MERAH (Rote Armen Fraktion), Baader-Meinhof berdiri pada 1968. Pemimpinnya Andrea Baader (1943-1977) dan Ulrike Meinhof (1934-19986).

Orgaisasi Pembebasan Palestna (Munazzarat atTahrir Filistiniyah), PLO berdiri pada 1964, bertujuan menciptakan negara Palestina yang sekuler dan demokrasi, dengan usaha menyingkirkan Israel.

Tentara MERAH Jepang (Sekigunbu) dibentuk pada 21 Oktober 1961 oleh mahasiswa Universitas Kyoto dan Universitas Meiji. Dipimpin oleh Tokaya Shiomi dan Fusako Shigenobu.

Semula stigma teroris itu disandangkan kepada kelompok MERAH, kelompok Marxis, kelompok kiri yang meresahkan kapitalis. Kini stigma teroris disandangkan kepada kelompok Islam yang meresahkan kapitalis.

Mayoritas teroris yang tetangkap polisi berasal dari Jawa, “besar dan matang” dalam lingkungan Jawa. Mereka akan ngamuk jika terus-menerus didesak adan diinjak. Ini salah satu karakter dari Werkuduro (Bima), Pandawa Lima. Mereka sudah tak punya pilihan ngalah dan ngalih. Satu-satunya pilihan, mereka harus ngamuk, perang habis-habisan melawan AS, dengan melakukan pengeboman bunuh diri (suicide bombing). Bagi mereka, penjajah Rusia dan Amerika adalah orang kafir yang harus diperangi. Penjajah Amerika sangat kuat dan punya outlet-outlet ekonomi dan budaya. Outlet-outlet ini harus dihancurkan. Bagi mereka, Islam itu harus tegak dengan label Islam lengkap dengan atributnya (H Bambang Pranowo : “Orang Jawa Jadi Teroris”, SEPUTAR INDONESIA, Sabtu, 23 Juni 2007, hal 6).

Pelaku terror itu sekuler, sangat kejam dan berani, sekjaligus juga pengecut. Pelaku terror tak kenal Tuhan, akhirat dan moral. Pelaku terror takut mati. Pelaku jihad syahid) kenal Allah, akhirat dan akhlaq Pelaku jihad (syahid) siap mati. Pembunuh ada yang ahli surga dan ada pula yang ahli neraka. Begitu pula korban pembunuhan ada yang ahli surga dan ada pula yang ahli neraka.

Ada yang membunuh dan yang terbunuh masuk neraka. “Jika ada dua orang muslim berhadapan dengan pedang masing-masing, maka yang membunuh dan yang dibunuh keduanya dalam neraka”. Sesungguhnya yang terbunuh juga berniat akan membunuh lawannya (HR Bukhari, Muslim, dalam “alLukluk wal Marjan” Muhammad Fuad Abdul Baqy, hadis no.1238, “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, Pasal “Niat Iklas”.

Ada yang membunuh dan yang terbunuh masuk surga. “Allah tertawa pada kedua oang, yang satu membunuh yang lain dan keduanya masuk surga. Yang pertama berperang fi sabilillah lalu terbunuh, kemudian yang membunuh diberi tobat oleh Allah, lalu berjihad, sehingga terbunuh mati syahid” (HR Bukhari, Muslim dari Abu Hurairah, idem, hadis no.1834, idem).

Pelaku jihad (be a good Moslem or die as syuhada) dipandang sebagai orang-orang bodoh yang sudah dicuci otaknya, mengalami brainwashing sehingga mudah percaya akan imng-iming bidadari di surga (Simak pandangan sinis dari orientalis Amerika Serikat, Washington Irving, yang sangat benci terhadap Islam, yang dijadikan acuan, dalam “Sejarah Hidup Muhammad” Muhammad Husein Haekal, terbitan Tintamas, Jakarta, 1984:693).

Model pencegahan teroris menurut mantan Komandan Densus 88, Suryadarma Salim adalah dengan memperlakukan mereka sebagai warganegara (Tayangan TVOne, Rabu, 22 Juli 2009, 0700-0800, 2000-2100). Diperlukan penegakan keadilan dan HAM. Memberikan mereka pekerjaan, kata AM Hendrprioyono, mantan intelijen.

Dulu diisukan komunis merupakan bahaya laten. Kini diisukan Islam Wahabi merupakan biang teroris (Simak pernyataan AM Hendropriyono, dalam wawancara dengan Karni Ilyas d TVOne, pada Rabu, malam Keis, 29 Juli 2009).

Catatan :
Selama kaum Muslimin belum memiliki kekuasaan politik secara riil, apa saja yang dilakukan oleh kaum Muslimin, baik secara perorangan (infardiah) dan secara kolektif (berjama’ah) ? Dan apa juga kaum Muslimin melakukan upaya-upaya untuk memiliki kekuasaan politik secara riil ?

Teroris dan Intelijen itu, apakah bagaikan Tom dan Jerry ?

Bagaimana caranya membuat lawan jadi kawan ?

Pada situasi dan kondisi masa kini, sangat diharapkan para tokoh, para pemikir di semua bidang agar pro aktif mencari jalan supaya musuh, lawan bisa menjadi kawan, sahabat, ikhwan. Dale Carnegie pernah menulis buku menjawab pertanyaan “Tuan Ingin Banyak kawan ?”. Dalam bukunya “Mencapai Kebahagiaan Sejati” pada satu babnya, ia memaparkan ‘Bagaiman caranya untuk mencegah permusuhan ?”.

Siapa pun harus mampu mengendalikan lidah, lisan, ucapan, pembiaraan, omongan agar jangan sampai mengeluarkan statemen, sinyalemen, pernyataan yang dapat mengobarkan rasa perlawanan dari musuh, lawan. Teroris sebagai musuh, lawan hanya bisa dimusnahkan, bilamana mampu menariknya menjadi kawan, sahabat. Ajakalah semua yang dikategorikan sebagai teroris itu duduk bersama mendengarkan aspirasi, keinginannya. Bicaralah secara terbuka, tapa saling curiga mencurigai. Ketulusan, kejujuran dalam tukar betukar pandangan akan menghasilkan sesuatu yang positif. Teroris seharusnya ditangkis/dihadapi dengan demokrasi, dialog, diskusi, bukan dengan caci maki, bukan dengan stigmatisasi, pengdiskreditan. Kekerasan, radikalisme bukan dilawan dengan kekerasan, radikalisme. Kesantunan, kelembutan, laiyinah akan mengirami kekerasan, radikalisme. Bukanlah suatu aib, tercela bagi negara memberikan pengampunan masal (amnesti umum) pelaku kekerasan, radikalisme.

Media masa, baik media cetak maupun media elektronik haruslah proaktif mengambil bagian dalam upaya/gerakan “Menjadikan lawan menjadi kawan”. Dulu Saddam Husein, Khaddaafi, Osama bin Ladin adalah kawan, sekutu dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Kemudian mereka berseberangan menjadi lawan dari pemerintah AS. Dan sebelum terjadi krisis politik di Afrika Utara, AS dan Khadafi pernah rujuk berbaikan jadi kawan kembali. Dan sebelum itu ada pula yang pernah berharap agar Bush dan Osama bisa berjabat tangan. Musuh bebuyutan sebenarnya bisa saja dihapuskan. Antara lain perlu dihilangkan watak provokator, watak tukang kipas, watak tukang pemanas-manasi. Bahkan Indonesia bisa berbaikan dengan Jepang, dengan Belanda dengan melupan peristiwa masa lalu. Sengketa, masalah, perbedaan diselesaikan bersama dengan dialog terbuka.

Menyimak sosok Muhammad Syarif

Akibat berita media yang sedemikian menyolok (tendensius-provokatif ?), maka kita semua begitu membenci sosok (almarhum ?) Muhammad Syarif bin Abdul Ghafur si terduga (tersangka ?) pelaku bom bunuh diri di Masjid AdzDzikra Mapolresta Cirebon saat Jum’at pada 15 April 2011 yang melukai sekitar 30 orang. Kita jadi lupa mengontrol diri, mengontrol ucapan. Padahal Islam menuntun, membimbing, mengajarkan agar selalu berlaku adil terhadap siapa pun, bahkan terhadap yang dibenci sekali pun. Adalah tak etis menuding sosok yang sudah meninggal sebagai orang sakit jiwa, sebagai orang kafir bayaran. Yang sudah meninggal tak akan dapat membela diri. Biarlah aparat kepolisian yang menyidiknya. Dan serahkanlah kepada Allah tentang amal perbuatannya dan sanksi hukumnya.

Barangkali cukuplah menudingnya sebagai yang temperamental, yang agresif, paling-paling sebagai anarkis. Dan tak layak melarang menguburkan mayat siapa pun di daerah tempatnya berdomisili. Siapa pun adalah makhluk Allah. Bumi di mana pun adalah milik Allah. Setiap yang meninggal harus dikuburkan di bumi. Allah melarang membuang, membakar mayat. Jadilah kita mejadi manusia hamba Allah.

Setiap yang mengaku Muslim pastilah juga mengakui bahwa Quran itu adalah Kitab Sucinya. Namun masing-masingnya berbeda-beda pemahamannya terhadap yang tercantum dalam Quran tersebut. Bahkan umat Islam itu diprediksi oleh Rasulullah akan terpecah lebih dari 70 aliran. Meskipun berguru, belajar dari ustadz, kiyahi, ajengan, ulama yang sama, maka pemahamannya pun akan berbeda-beda pula. Apalagi kalau hanya sama-sama mendengarkan ceramah seorang ustadz, muballigh, ulama, maka pemahamannya pun berbeda-beda pula. Adalah naïf mengait-ngaitkan tindakan, perbuatan seseorang dengan orangtuanya, saudaranya, gurunya, idolanya.

Mencari jejak misteri bom bunuh diri di Masjid Mapolresta Cirebon

Termasuk kategori bom canggih atau biasa. Berdaya ledak tinggi atau rendah. Menggunakan biaya rakit besar atau kecil. Dirakit oleh tenaga profesional atau amatiran. Dilakukan oleh kelompok atau perorangan. Sasarannya kelompok atau pribadi. Motivasinya apakah ideolgis atau balas dendam. Apakah suatu karya atau rekayasa.

Silakan temukan siapa, sasarannya. Apakah ini aktivitas teroris ataukah anarkis. Apakah punya dalang, aktor intelektual, di dalam atau di luar negeri. Apakah punya jaringan atau lokal.

Bom buku

Bom buku bisa berarti bom yang dibingkis, dibungkus, dikemas dengan menggunakan buku, seperti yang dikirimkan, dipaketkan untuk Islam Liberal, Pendukung Pancasila, Densus 88, Pentolan Yahudi pada Selasa, 3 Maret 2011. Daya ledaknya tergantung dari unsur, bahan bom itu sendiri. Sampul buku yang dikirim berjudul “Mereka harus dibunuh karena dosa-dosa mereka terhadap Islam dan kaum Muslimin”. Apakah isi, materi buku tersebut mengenai analisa kritis terhadap “Fiqih Jihad”, lagi didalami oleh pihak berwajib.

Bom buku juga bisa berarti isi (ide, konsep, gagasan) buku yang dapat menggoncangkan pola pikir pembacanya, sebagaimana halnya bom. Lima enam puluh tahun yang lalu Robert B Downs mengarang/menulis “Book that changed the world” (“Buku-Buku Yang Merubah Dunia”, terjemahan Drs Asroel Sani, terbitan PT Pembangunan, 1959, Pustaka Sardjana, No.27). Di dalamnya terdapat sekitar sepuluh buah buku yang menggoncang, meledakkan dunia, lebih dahsyat dari tsunami. Menggoncang pola piker. Menggoncang dunia budaya. Menggoncang dunia politik. Menggoncang dunia ekonomi. Dan lain-lain. Daya gancangannya lintas sektoral, lintas wilayah. Ada karya Yahudi dan ada karya anti Yahudi. Di antaranya “Il Prince” (Sang Pangeran) Nicco Machiavelli. “Mein Kampf” Adolf Hitler, “Relativiteit Theory” Albert Einstein, “Origin of Spices” Charles Darwin, “Das Kapital” Karl Marx, “Das Ich und das Es” Sigmund Freud, dan lain-lain.

Adakalanya pena penulis lebih dahsyat daya ledaknya dari senapan militer. Ide, ideologi itu lebih dahsyat daya ledaknya dari bom konvensional apa pun, lebih dahsyat dari pada yang terjadi di Hirosyima enam puluh lima tahun yang lalu.

(written by sicumpaz@gmail.com in sicumpas.wordpress.com as Asrir at BKS1103170800)

Seruan kepada pengemban jihad

Jihad itu merupakan cabang, bagian dari aktivitas dakwah. Jihad itu memerlukan kesabaran yang tinggi. Tak terburu-buru, tak tergesa-gesa melihat, menyaksikan hasil dakwah. Dakwah itu berproses, bertahap, tumbuh berkembang secara evolusi. Hasil dakwah bisa saja terlihat setelah bertahun-tahun, atau bisa pula setelah berpuluh-puluh, beratus-ratus tahun kemudian. Yang perlu tetap konsisten melakukan dakwah. Hasilnya serahkan kepada Allah. Kapan matang dan berhasilnya pun serahkan kepada Allah. Sabar adalah salah satu senjata orang mukmin. Sabar dalam berjuang. Sabar dalam berjihad.

Kepada pelaku bom jihad

Para pelaku bom jihad seyogianya senantiasa memohon ampun kepada Allah. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS 3:133). Dan mohon ma’af kepada para keluarga korban yang tak bersalah.

Para pelaku bom jihad seyogianya senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar hasil ijtihadnya dan aktivitas jihadnya berada pada jalan yang benar, jalan yang diridhai Allah.

Para pelaku bom jihad seyogianya senantiasa tetap bertawakkal kepad Allah. “Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan dari pada Tuhan yang telah menciptakn kami, maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja” (QS 20:72).

Para pelaku bom jihad seyoginya menyadari bahwa raga boleh saja mati, nyawa boleh saja hilang, namun semangat, ruh jihad memperjuangkan berlakunya hukum Allah di bumi sebagai hukum positif tetap saja langgeng abadi sepanjang masa. “Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesunguhnya waktu yang dijanjikan Allah itu, pasti datang” (QS 29:5).

(BKS 081050630)

Himbauan kepada calon pelaku teror bom bunuh diri

Bunuh diri itu, haram. Bahkan seseorang yang berperang dengan semangat keras, namun ia bunuh diri karena tak tahan menderita luka, maka ia termasuk ahli neraka (Simak “AlLukluk wal Marjan” Muhammad Fuad Abdul Baqi, Bab “Haram Bunuh Diri”, hadis no.69-73, 1695, 1699).

Status haram sesuatu, memang bisa saja berubah jadi halal, mengacu kepada kaidah usul fiqih. Tetapi tergantung pada zaman (tempo), makan (loco) dan sikon. Yang berwewenang menentukan peralihan status hukum tersebut adalah ulama yang berwawasan luas. Tetapi antara ulama yang satu denagan ulama yang lain bisa saja berbeda pendapat (ikhtilaf), karena berbeda kwalitas keilmuannya dan sudut pandangnya. Kearifan diperlkan untk memilih salah satu dari pendapat-pendapat tersebut.

Namun untuk kontek Indonesia masa kini, status hukum bunuh diri fi sabilillah masih tetap haram, belum bisa berubah jadi halal. Yang diperlukan masa kini di Indonesia adalah meingkatkan aktivitas dan kwalitas dakwa di semua sektor dan di semua lini.

Imam Ibnu Nuhas, salah seorang ulama yang syahid pada 814H membahas tentag in-ghmas” (jibaku, mengorbankan, menceburkan diri ke medan perang fisik) dalam satu bab dalam bukunya “Masyari’ul Asywaq” yang memuat lebih dari 15 hadis/atsar tentang operasi jibaku. Inti dari seluruh hadis/atsar tersebut mengisahkan tentang peristiwa nyata tentang jibaku.

Berjibaku, menceburkan diri ke medan perang fi sabilillah menurut Abu Ayub alAnshari bukanlah tindakan menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan. Menjatuhkan diri ke dalam kebinasaan adalah mengumpulkan kekayaan dan kemewahan dunia sehingga takut menghadapi perjuangan; cinta dynia dan takut mati (Simak tafsiran ayat QS 2:195, dalam “Tafsir AlAzhar” Prof Dr Hamka, juzuk II, 1983:142, “Berjuang Pada Jalan Allah”).

Jumhur Fuqaha memandang bahwa keselamatan nyawa didahulukan atas keselamatan agama, bila keselamatan nyawa terancam. Keselamatan nyawa digunakan untuk menjaga keselamatan agama (Simak “Sirah Nabawiyah” Dr Muhammad Said Ramadhan alButhy, Buku Kesatu, 1992:100, “Ibrah Dakwah Secara Rahasia”).

Terhadap aksi jibaku (Bara bin Malik), para sahabat bersikap diam (sukut). Abu Hurairah ra menanggapi aksi jibaku seseorang sahabat dengan membacakan ayat QS 2:207 “Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah”. In-ghimas (jibaku) dipahami Abu Hurairah ra sebagai “mengorbankan diri untuk mencari keridhaan Allah”.

Di kalangan pelaku bom syahid dikenal terminology istimata (mencari mati) dan istisyhad (mencari syahid). Namun di antara ulama terdapt perbedaan pendapat (ikhtilaf). Ada yang berpendapat bahwa istimata atau istisyhad itu dapt dikategorikan sebaggai in-ghimas (aksi jibaku). Ada pula yang berpendapat bahwa istimata atau istisyhad itu tak dapat dikategorikan sebagai in-ghimas (aksi jibaku) (Silakan temukan “in-ghimas” menggunakan mesin Google).

Segeralah Anda hentikan/batalkan rencana, aktivitas, kegiatan untuk melakukan teror bom bunuh diri. Tak usah mencari-cari alasan, dalil, hujjah untuk pembenaran aksi teror bom bunuh diri. Pentolan pelaku teror 37 tahun yang lalu (1972) seperti Baader-Meinhof dengan Fraksi Tentera Merah (RAF)nya hanya melakukan penangkapan, penembakan, pembunuhan, pembajakan terhadap lawannya (dari kalangan polisi, tentara, pengusaha, pejabat, politisi, dan lan-lain) (Simak PANJI MASYARAKAT, No.235, 15 Nopember 1977, hal 29, “Teror di Jerman Barat). Tak ada yang mengorbankan nyawanya sendiri.

Teror berfungsi hanya sekedar untuk menakut-nakui lawan, agar lawan mau, bersedia memenuhi tuntutannya yang diajukan kepadanya. Setelah tuntutan terpenuhi tak perlu lagi meneruskan aksi terror. Baik yang meuntut, mapun yang dituntut sebenarnya sama-sama menginginkan hidup dalam kedamaian, ketenteraman. Tak ada mansia yang benar-benar berwatak jahat, yang menginginkan hidup selalu dalam kekacuan, kerusuhan.

(BKS0908251215)

Do’a bagi subjek-objek bom

Subjek, pelaku bom harus diperingatkan bahwa haram menumpahkan darah orang Muslim. Subjek, pelaku bom seyogianya dido’akan. Jika ia berniat dengan perbuatannya itu agar masuk surga, semoga Allah menyapaikan niatnya itu. Sebaliknya, jika ia bukan berniat untuk mask surga, semoga Allah mengampuni kesalahannya.

Objek, korban bom serta keluarganya seyogianya juga dido’akan. Jika ia dan keluarganya ridha menerima takdir Allah, semoga Allah memasukkan mereka ke dalam surga. Sebaliknya, jika mereka tak ridha menerima takdir Allah, semoga Allah mengampuni kesalahan mereka.

Hentikan saling kutuk-mengutuk. Islam tak membenarkan saling kutuk-mengutuk itu.

Hentikan sikap snis terhadap pencari syahid, pencari surga. Jangan jadi pengikut orientalis Wahington Irving yang sangat benci terhadap Islam itu. Ia menyifati Islam sebagai “ajaran yang mendorong orang-orang bodoh ke medan perang secara buas. Mereka diimingi-imingi, kalau hidup mendapat rampasan perang, kalau mati mendapat surga” (Muhammad Husain Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:693).

Diharapkan ada yang bersedia terjun menjadi mediator, yang menjembatani antara negara, pemerintah dan pelaku terror, musuh negara. Jika negara, pemerintah bersedia menerapkan syari’at Islam, maka pelaku terror harus bersedia pula menghentikan aksi terornya dan menyerahkan diri untuk mejalani hukuman menurut hukum Islam. Atau jika pelaku teror bersedia menghentikan aksi terornya dan menyerahkan diri, maka negara, pemerintah berjanji akan menghukumnya seringan-ringannya.

(BKS0908150600)

Wajib militer semur hidup

Terdapat sebuah HR Muslim dari Abi Hurairah yang terjemahannya “Barangsiapa mati sebelum berperang, dan tidak pernah berniat untuk berperang, maka ia mati dalam bagian kemunafikan” (“Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, Bab “Jihad”, hadis no.57). Juga HR Muslim dari Abu Bakar bin Abu Musa alAsy’ari yang terjemahannya “Sesungghnya pintu-ntu surga itu di bawah naunga pedang” (idem, hadis no.18).

Apakah makna dan maksud dari hadis tersebut. Apakah Rasulullah mengiyaratkan bahwa Islam akan senatiasa menghadapi serangan musuh Islam, karenanya setiap umat Islam harus senantiasa siap siaga untuk berperang, mempertahankan Islam dari musuh-musuh Islam.

Apakah isyarat tersebut juga menghendaki adanya mobilisasi umum, untuk mengikututi wajib militer seumur hidup.

(BKS0908131730)

Noda persatuan

Tak ada yang suka dikatakan salah. Namun harus dikatakan bahwa yang salah itu salah.

Seorang Master dari Lembaga Dakwah AsySyams Bekasi, H Nur Zamzam MA, jadi khatib Idul Fitri 1430H di pelataran parker Grand Mall Hypermart Bekasi. Sang Master mengusung tema “Persatuan Umat”. Dalam khutbahnya, Sang Master mengajak jama’ah untuk menciptakan, merajut, memelihara, mejaga persatuan umat, serta menghindari, mencegah timbulnya perpecahan umat. Sungguh, khutbah yang bertemakan persatuan umat itu sangat berbobot.

Namun sayangnya, tanpa disadari, Sang Master menodai ajakan persatuan umat yang diusungnya. Karena noda setitik, maka bisa-bisa hilang makna persatuan. Tanpa disadari bisa-bisa diperalat musuh.Ia terjebak, tererangkap menyampaikan pesan sponsor anti Islam. Sang Master mengajak jama’ah agar berbaikan dengan kafir Amerika. Kafir Amerika itu orang baik-baik, bukan musuh Islam. Dan mencaci maki mereka-mereka yang dituding teroris. Mereka dicap zhalim, tak berperikemanusiaan. Orang zhalim itu tempatnya di neraka bukan di surga.

Berbeda dengan Sang Master, Abubakar Baasyir dari kalangan Ansharut Tauhid memandang kafir Amerika, juga kafir lain adalah kafir. Kafir itu musuh Islam. Musuh itu harus diperlakukan sebagai musuh. Ayat QS 2:130 tentang permusuhan kafir terhadap Islam tak pernah mansukh (dihapus, dibatalkan).

Mengenai cara memperlakukan musuh sebagai musuh, Abubakar Baasyir berbeda dengan mereka-mereka yang dicap teroris. Dalam pandangan Abubakar Baasyir, mereka itu adalah objek dakwahyang harus didakwahi. Meskipun berbeda dengan mereka-mereka yang dicap teroris, namun Abubakar Baasyir tak pernah mencaci-maki mereka-mereka yang dicap teroris itu, tak pernah mencap mereka zhalim, tak berperikemanusiaan, ahli neraka.

Ini masalah ijtihad. Mesipun mereka salah, tapi mereka bisa saja mendapat pahala (nilai baik) di sisi Allah. Wallahu a’lam. Serahkan kepada Allah. Tak usah kita ikut-ikut menghakimi.

Ismanto, ayah Urwah (Bagus Budi Pranoto) yang tinggal di Kudus, yang anaknya tewas dalam penggerebekan di Mojosongo, Surakarta (Kamis, 17 Sepember 2009) berujar “Saya berharap anak saya mati syahid” (KORAN TEMPO, Jum’at, 18 September 2009, hal A4, “Tewasnya Anak Didik Azhari”). Kebencian melahirkan ketidakadilan. Jenazah mereka yang dituding teroris tak diizinkan dimakaman di kampung halamannya. Sungguh ketidakadilan meresap ke dalam diri bangsa ini.

(BKS0909201700)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s