Kenang-kenangan dari Rosihan Anwar

Kenang-kenangan dari Rosihan Anwar

Ada berbagai macam teori tentang pertarungan. Karl Marx dalam “Das Kapital”nya mengintrodusir “Pertarungan antara Kelas Proletar dan Kelas Borjuis” yang berakar pada perbedaan status sosial ekonomi. Samuel Huntington dengan “The Clash of civilization” memperkenalkan “Pertarungan antara Islam dan Barat”. Amy Chua dalaam “World on Fire : How Exporting Free Market Democracy Breeds Ethnic Hartred and Global Instability”nya memperkenalkan “Pertarungan antara Market-dominant minorities (kelompok konglomerat minoritas) dan kelompok melarat mayoritas”. Rosihan Anwar dalam GELANGGANG memperkenalkan “Pertarungan antara Santri-Orthodoks dengan Priyayi-Abangan-Sinkretis”.

M Natsir waktu itu tak ikut serta dalam pertukaran pikiran tersebut. M Natsir pernah bertukar pikiran dengan Soekarno, dengan mengusung Islam sebagai satu-satunya “Dasar Indonesia Merdeka”, sedangkan lawan-debatnya, Sukarno mengusung Nasionalisme. M Natsir kurang atau bahkan tak mendapat dukungan dari kalangan sendiri. Dari dulu sampai kini pendukung paham Nasionalisme – Priyai-Abangan – lebih mendominasi daripada pendukung paham Islam – Mutihan-Santri – di seluruh Nusantara (Simak antara lain H Rosihan Anwar : “Santri Dan Abangan”, dalam GELANGGANG Sastra, Seni Dan Pemikiran”, No.1, Desember 1966, hal 54). Dakwah Islam Mutihan-Santri tak menyentuh, tak menarik Nasionalisme Priyayi-Abangan. Akibatnya posisi-kedudukan Nasionalisme Pryayi-Abangan-Sinkretisme lebih dominan dari pada Islam Mutihan-Santri-Orthodoks.

Jauh sebelum jadi Presiden, Gus Dur menolak konsep negara Islam. Sejak lama ia mengemukakan bahwa Islam tidak berfungsi ideologi di kalangan mayoritas kaum Muslimin. Bahwa wilayah kehidupan suatu agama memiliki otonominya sendiri. Bahwa Islam secara historis belum merumuskan tentang negara Islam. Bahwa dari sudut historis, tuntutan harus adanya negara Islam, rapuh sekali. Bahwa dari sudut pemikiran agung tentang keharusan adanya negara Islam. Bahwa Ibnu Khaldun berpendapat, bahwa unsur yang membentuk masyrakat bukanlah agama, melainkan ikatan kebersamaan atau kebangsaan (Rosihan Anwar, PANJI MASYARAKAT, No.528, 21 Januari 1987, hlm 73).

H Rosihan Anwar mengemukakan bahwa idealnya (das Sollen) “Islam itu merupakan semen persatuan Indonesia”, namun realitas historisnya (das Sein) menunjukkan bahwa “Islam gagal menjadi titik pusat fokus penghimpun bagi nasionalisme Indonesia”. SI Tjokroaminoto gagal memegang peran pemersatu dalam gerakan nasional Indonesia, namun PNI Sukarno yang berorientasi modern dan sekuler sukses dalam menggalang pergerakan nasional”. Bahwa sebelum Indonesia Merdeka, kaum orthodok konservatif menjauhkan diri (memisahkan diri) dari SI Tjokroaminoto, dan pada Januari 1926 mendirikan organisasi Nahdhatul Ulama. Dan setelah Indonesia Merdeka, golongan orthodox konservatif Nahdhatul lama memisahkan diri dari Masyumi tahun 1952, karena masalah pembagian kursi kabinet, dan dalam muktamarnya di Palembang dengan formil dijadikan sebagai partai politik (GELANGGANG, No.1, Desember 1966, hal 54-58, “Santri Dan Abangan”).

Hubungan antara Sumber Syari’at Islam dengan Syari’at Islam itu dipandang bagaikan hubungan antara poros, sumber lingkaran dengan lingkarannya. Sumber Syari’at Islam sebagai poros, sumber, pusat bersifat tetap, tidak berubah, tidak berkembang. Sedangkan Syari’at Islam berubah, berkembang, berputar, beredar sepanjang lingkaran edarnya. Dalam menyikapi alQur:an sebagai Sumber Syari’at Islam, umat Islam secara garis besar terbelah dua. Pertama, kelompok yang menerima (muthi:in, literal, tekstual, orthodox, formal, tradisional), Kedua, yang menolak (aba:an, liberal, konstektual, deformal, sinkeretis, rasional) (H Rosihan Anwar : “Santri Dan Abangan”, GELANGGANG, No.1 Desember 1966).

Rosihan Anwar dalam tulisannya “Pahlawan Nasional” mempertanyakan “mengapa tidak juga mengusulkan sebagai Pahlawan Nasional tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir, Syafrudddin Prawiranegara, atau Amir Sjarifoeddin ? Orang-orang ini adalah pejuang kemerdekaan dari jam-jam pertama revolusi.

Written by Asrir Sutanmaradjo at BKS
(look also at http://asrirs.blogspot.com https://sicumpas.wordpress.com http://sikumpas.blogspot.com http://kamimenggugat.blogspot.com http://kami-menggugat.blogspot.com http://islamjalanlurus.truefreehost.com http://sicumpaz.truefreehost.com http://sicumpas.multiply.com http://fauziah_sul.livejournal.com http://pontrendiniyahpasir.wordpress.com)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s