Negeri absurditas

Negeri absurditas
Negeri Indonesia ini ironi dan absurditas (irrasional). Negeri yang punya tambang gas luar biasa tapi PLN dan pabrik pupuk kekurangan gas. Punya laut amat luas, tapi isi laaut yang berlimpah tidak membuat nelayan kaya. Nelayan tetap miskin dan tidak berdaya, karena isi laut dicuri oleh pihak asing. Menurut BPS produksi gabah/beras domestic melimpah. Ironisnya, pemerintah justru menambah impor beras (Khudori : “”Logika Absurd Impor Beras”, Koran tempo, Sabtu, 4 Desember 2010, hal A8, Pendapat).
Di Indonesia ini rakyat boleh berpendapatan rendah asal para pemimpin berpendapatan tinggi. Tingkat kecerdasan tak seimbang dengan pendapatan (tingkat jabatan). TKI bias berpendapatan 10 kali pendapatan professor. Pemimpin lebih makmur dari rakyat, bukan memakmurkan rakyat. Tak seimbang antara bobot isi dan bobot wadah (Jakob Sumardjp : “Negeri Orang Sakit”, KOMPAS, Sabtu, 4 Desember 2010, hal 6, Opini).
Meski dibahasakan sebagai kejahatan luar biasa, tetapi napi koruptor diperlakukan terhormat, tak mengenakan baju tahanan, memperoleh banyak kemudahan di penjara (Yonky Karnen : “
Pemimpinnya teriak akan berdiri di depan dalam menumpas, memberantas mafia hokum, mafia peradilan, mafia pajak. Tapi takut, tak berani berkotor-kotor, terkena, tercemar noda intervensi Trias Politica. Demi citra diri. Dicari pemimpin yang berani mengorbankan citra dirinya demi mendahulukan kepentingan rakyat.
Di Jawa dan daerah yang kena pengaruhnya, seorang pemimpin adalah seorang yang berkharisma. Semboyannya “Bapak selalu benar”. Mati hidup saya bergantung pada Bapak. Borok atau jaayanya Negara terserah kepada Bapak. “Righ or wrong my Bapak” (Budaya vertical, otokrat),
Di Sumatera atau Melayu dan daerah yang dipengaruhinya, semboyan mereka “raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah” (Budaya horizontal, democrat) (idem).
Yang dibutuhkan rakyat/masyarakat adalahn sosok pemimpin yang cerdas, cendekia, merakyat. Frederik II dari Prusia (1740-1786), Katharina II dari Rusia (1762-1796), Josef II dari Jerman/Austria adalah sosok pemimpin yang cerdas, cendekia, merakyat (Simak antara lain Anwar Sanusi : “Sejarah Umum”, II, 1954:63).
Inilah Indonesia. Di Republik (Indonsia) ini logika sering brjalan terbalik.
Pemerintah Indonesia, melalui kolaborasi legislatif dan eksekutif, memicu desertifikasi lewat eksplorasi alam habis-habisan dengan dalih pemasukan negara.
Penguasa dan politisi menjadi perpanjangan tangan kepentingan modal kapitalis internasional.
Eksplorasi para penguasa Indonesia hanya berpikir untuk mencari uang cpat demi kepentingan pribadi atau kelompk tanpa mempedulikan dampak di masa mendatang. (Iwan Santosa : “Republik Padang Pasir Kepulauan Tropis”, KOMPAS, Sabtu, 24 Juli 2004, hal 38, Fokus).
Telah terjadi penjarahan mineral secara besar-besarab dengan pemberian berbagai perlakuan istimewa – secara ekonomi, politik dan hukum – kepada perusak tambang atas ama pendapatan negara (Nasr Alan Aziz : “Menggali Petaka di Hutan Lindung”, KOMPAS, Sabru, 24 Juli 2004, hal 39, Fokus).
Kunci dari pertumbuhan ekonomi untuk menciptakan lapangan pekerjaan adalah peningkatan investasi dan ekspor.
Investasi asing diyakini memiliki fek manfa’at yang nyata terhdap perekonomian, khususnya dalam memperluas dan menciptakan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, disamping meningkatkan peerimaan negara berupa pajak dan devisa (Buyung Wijayakusuma : “Penggerakan Ekonomi versus Klaim Arbitran”, KOMPAS, Sabtu, 14 Juni 2004, hal 40, Fokus).
Pembuatan undang-undang. Menurut Achille Lorin (1857-), hukum ialah suatu sistim untuk melindungi milik si pemilik, politik ialah orgaisasi yang dipakai si pemilik untuk mempertahankan miliknya, moral ialah senjata halus untuk melindungi milik si pemillik (Mr J Bieren de Haan : “Sosiologi”, 1953:100).
Menurut Vilfredo Pareto (1848-1923), bagaimana jua pun bentuk regim politik yang memegang kekuasaan senantiasa menggunakannya bagi kepentingan dirinya sendiri (idem, 1953:104).
Menurut Abdul madjid ‘Aziz azZandani, dewan legislatif membuat undang-undang untuk kepentingan mereka sendiri, demi memenuhi tuntutan nafsu mereka (“Jalan Menuju Iman”, hal 48).
(written by sicumpaz@gmail.com in sicumpas.wordpress.com as Asrir at BKS1012070800)

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s