Mentalitas preman-koboi

Mentalitas preman/koboi/kekerasan

Tak ada satu bangsa pun ang luput dari sejarah kekerasan. Negara modern ternyata tidak sepenuhnya mampu melawan warganya meninggalkan identitas tribalnya (kebuasannya). Negara koboi menyelesaikan masalah dengan senjata.

Mentalitas Amerika adalah mental koboi. Ketika identitas mereka diserang (secara teori mapun praktek) mereka akan bereaksi secara ekstrem. Mereka akan mengerahkan seluruh sumber daya dan kekuatannya (Fahmi Suwaaidi : “Strategi AlQaidah Menjebak Amerika”, 2008:XI).

Ketika kekerasan terjadi, manusia lupa pada hakikat kemanusiaannya sendiri.

Di dalam sistim kapitalisme neo liberal, pertmbangan utmanya adalah uang.

Kekerasan dijadikan komoditas oleh para politisi, akademisi, industrialis.

Masalah kekerasan saling kait berkait dengan masalah hukum, eonomi, politik, budaya, sosial.

Kekerasan bisa saja disebabkan oleh kekuasaan. Kekerasan bisa pula digerakkan oleh kekuasaan.

Indonesia menyerupai gabungan Negara-negaa tradisional yang mejadi sat Negara modern.

Ada masalah yang bisa diselesaikan secara politis. Ada masalah yang bisa diselesakan secara akademis. Ada perbedaan antara dunia akademis dan politik. Suatu teori betapa pun cantik dan ekonomisnya harus ditolak atau diperbarui, jika tidak benar. “Berbeda dengan kalangan politisi, sepanjang bermanfa’at bagi suatu kepentingan, yang salah itu dapat dibenarkan”, kata Siswono Yudohusodo (KOMPAS, Selasa, 3 September 1991, hal 29, “Nama dan Peristiwa).

“Stu keputusan politis bisa saja dipertanyakan secara akademis” ungkap Yusril Ihza Mahendra (SUARA DIDAYATULLAH, No.01/IX/Oktober 1996, hal 74, “Orang akademisi bisa melihat lebih jauh”).

Yang suka munkin akan merasa bahagia.

Kekerasan itu universal
(KOMPAS, Sabtu, 5 Juli 2004, hal 41-42, Fokus).

Sejarawan Asvi Warman Adam memandang bahwa budaya kekerasan berlangsung terus menerus karena sejarah tentang kekerasan disampaikan kepada generasi-generasi penerus sebagai sarana pemindahan penguasa itu, tafsir sejarah terhadap kekerasan harus memberikan pembebasan dari trauma masa silan (KOMPAS, Sabtu, 18 Desember 2010, hal 4, “Kekerasan : Tafsir Sejarah Bisa Bebaskan dari Kekerasan).

Pada awal tahun 1995, istilah preman sekonyong-konyong menjadi popular setelah seorang politisi dikeroyok, ditikan di Blok M, Jakarta oleh sekelompk preman. Mencuatnya preman ini kembali, sedikit banyak membuka tabir/misteri biang pelaku kerusuhan/aanarkis. Dalam kontek situasional, preman adalah orang-orang yang tak mau terikat dengan aturan agama, adapt, Negara. Bebas tanpa batas. Mereka tak peduli dengan norma-norma, tak peduli dengan batas antara halal dan haram. Bagi mereka “The End justified the means”. Ada preman jalanan, ada pula preman kantoran, gedean. Ada yang menjadi copet, penodong, perampok, sebagai tukang peras, tukung pukul, centeng (KOMPAS, Jum’at, 12 Mei 1995, hal 5; Kamis, 6 April 1995, hal 4).

(written by sicumpaz@gmail.com in sicpas.wordpress.com as Asrir at BKS1011251030)

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s