Menggugat kapitalistik

Menggugat kapitalistik (Antara sosiologis dan teknokratis)

Kondisi sosial masyarakat seharusnya (Das Sollen) juga dipahami secara sosiologsi, tak hanya dengan teknokratis atau teknologis.

Petunjuk hidup yang termaktub dalam Qur:an seyogianya juga dipahami secara sosiologis, tak hanya secara teologis.

Selama era Orde Baru, kondisi sosial masyarakat hanya ditangani secara teknokratis, teknologis.

Orde Baru dengan sembilan jalur pembangunannya memperlebar jurang antara yang kaya dengan yang miskin, bukan meratakan kesejahteraan.

Selama Orde Baru yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.

Kondisi sosial masyarakat masa kini adalah hasil akselerasi pembangunan model Orce Baru, model teknokrat Berkeley.

Masa kini adalah masa transisi, masa peralihan dari masyarakat desa ke masyarakat kota.

Dalam masyarakat desa, hubungan antara arganya bersifat solid, erat (gemeinschaft), homogen (baik keturunan, kepercayaan, keahlian, kesetiaan).

Dalam masyarakat kota, hubungan antara warganya bersifat longgar, rapuh (geselschaft), heterogen (baik keturunan, kepercayaan, keahlian, kesetiaan).

Masyarakat desa sangat sosialistik. Masyarakat ota sangat individualistic.

Dari sudut pandang sosio-psikologi, tingkat pertumbuhan perkembangan suatu masyarakat, komunitas, bangsa aalah dari masyarakat kolektivistik ke masyarakat individalistik.

Sikap sosialistik kuat di era peterakan. Sikap individualistic tumbuh berkebang di era industri, perdagagan besar, bank. Bank memfasilitasi yang kaya semakin kaya, memperlebar kesenjangan sosial ekonomi. Bank adalah biang kapitalisme, keserakahan, kerakusan (dampak industrialisasi).

Masyarakat Arab di akhir era jahiliyah di awal era peradaban masa transisi, masa peralihan dari masyarakat desa (badui) ke masyarakat kota (madani). Jahiliyah berkonotasi bidab, primitive, kacau. Sedangkan Islam berkonotasi beradab, modern, tertib.

Pada masa transisi ini tumbuh sikap mental kapitalistik (rakus, kikir, pongah), takatsur, lumazah.”Yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya”. “Dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekaklkannya” (Simak QS 104:1-3; 89:20).

Islam dating antara lain menggugat sikap mental kapitalistik 9rakus, kikir, pongah), menggugat lembaga bank (rentenir). “Allaha menghalalkan jual beli (lembaga niaga) dan mengharamkan riba (lembaga riba)” (Siak QS 1:275-281) (Tiga hal yang merusak tatanan sosial ekonomi : rakus, kikir, pongah).

Islam lebih menekankan pada perubahan skap mental dari sikap mental kapitalistik ke sikap mental sosialistik.

Kondisi sosial masyarakat dapat disaksikan dengan kasat mata. Pemukiman rumah, bangunan mewah dikelilingi rumah, gubuk reyot. Lihatlah di kiri dan kanan ala sepanjang Bandara Sukarno Hatta sampai Jakarta.

Kebjakan pemerintah, baik Daerah maupun Pusat tak pernah berpihak kepada yang melarat, tak pernah memberikan fasilitas (infrastruktur) kepada yang melarat untuk meningkatkan harkat-martabat, derajat kehidupannya.

Kebijaksanan hanya menciptakan yang konglomerat semakin subur-makmur, dan yang melarat semakin tergusur.

Pembukaan UUD-45 menyebutkan bahwa tugas pemerintah adalah untuk mencerdaskan masyarakat rakyat, bukan meningkatkan kesenjangan sosial-ekonomi rakyat. Kita ini sudah jauh menyimpang ke berorientasi duniawi semata, meninggalkan berorientasi ke ukhrawi. Sosiologis berkonotasi berorientasi ke bumi. Teologis berkonotasi berorientasi ke langit,

(written by sicumpaz@gmal.com in sicumpas.wordpress.com as Asrir at BKS1011250930)

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s