Masalah bangsa

Masalah bangsa

Masalah bangsa dan negara adalah himpunan dari berbagai masalah IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB yang satu sama lainnya terkait, terintegrasi. Masalah bangsa dan negara tidaklah dapat diselesaikan hanya secara parsial, tetapi secara terintegrasi, terpadu, menyeluruh. Pada pundak para pemerintah beserta jajarannya di segala bidang, legislative, eksekutif, yudikatif terletak tugas dan tanggungjawab untuk menyelesaikan masalah bangsa dan neara, sehingga seluruh kekayaan alam yang terkandung dalam bumi Indonesia(sumber daya alam dan sumber daya manusia) dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat, kemaakmuran fakir miskin, kemakmuran yang terlantar.

Misalnya masalah pengangguran saling terkaait dengan masalah pendidikan, masalah dana dan prasarana, masalah kesejahteraan rakyat, masalah sumber daya alam (bumi, hutan, lautan), masalah sumber aya manusia, sikap mental masyarakat, pandangan hidp. Juga saling terkait dengan masalah kejahatan, masalah keamanan, masalah kerusuhan, masalah penegakkan hukum, masalah keuangan negara. Masing-masing masalah itu satu sama lain saling terkait (IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB).

Para penyelenggara negara beserta jajarannya berkewajiban dan bertqanggunjawab mengupayakan, menganalisa, meracang, merencnakan, meaksanakan sistim penyelesaian masalah secara terpadu, terintegrasi. Merumuskan, melaksanakan cara pengelolaan (DBMS) pencekalan pengangguran, kemiskinan, kerusuhan, keterbelakangan, korupsi secara terpadu berbasiskan data analisis kuantitatif.

Kewajiban Pemimpin Ummat

Setiap waktu ummat ini dikeroyok, direcoki, digerayangi, ditarik kian kemari agar keluar, terlepas dari jalan lurus, dari jalan Allah, agar padam cahaya Islam. Dibawa ke sekularisme, pluralisme, liberalisme, sinkeretisme, kompromisme, moderatisme, modernisme, westernisme, hedonisme, nihilisme.

Pada pundak para Pemimpin Ummatlah terletak tanggungjawab kewajiban untuk mengembalikan ummat ini ke jalan lurus, ke jalan Allah. Setiap saat kondisi umat ini harus dipantau.

Setiap Muslim harus berada dalam Jama’ah Muslinin. Jama’ah itu membawa berkah. Jama’ah itu rahmat, sedangkan perpecahan itu ‘adzab. Yang terpisah dari jama’ah akan menjadi santapan, sarapan, makanan dari pemangsa. (Simak Faathi Yakan : “Saya dan Gerakan Islam”, alIkhlas, Suraaya, 1983:117; “Bagaimana Kita Memanggil Kedalam Islam”, Bulan Bintang, Jakarta, 1978:163).

(written by sicumpaz@gmail.com in sicumpas.wordpress.com as Asrir at BKS100320600)

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s