Kita ini bangsa munafiq

Kita ini bangsa munafik

Kita ini triliunan wajah. Pintar/jujur berbohong. Mulai dari puncak/atas sampai bawah. Baik eksekutif, legislative, yudikatif semuanya pembohong, pendusta. Berbeda antara omongan/ucapan dan perbuatan/tindakan. Semua fasiq, munafiq.

Kita tak suka bila aib, cacat, cela, kejelekan, keburukan kita diketahui oleh pihak lain. Kita berupaya dengan segenap tenaga dan sarana untuk menutupi, menyembunyikan aib diri kita.

Kita butuh topeng penutup bopeng. Untuk menutupi kebopengan kita misalnya wajah kita, kita gunakan pupur-bedak dari berb agai macam merek dan beraneka ragam bahan kosmetika. Kita malu, takut ketahuan akan kebopengan kita. Bedak merupakan satu dari sekian sarana untuk menutupi, menyembnyikan aib diri.

Umumnya sarana untuk menutupi, menyembunyikan aib diri ini disebut dengan masker atau topeng. Seribu satu macam bentuk, model, tipe, jenis masker, topeng yang kita gunakan sesuai dengan situasi dan kondisi ang memerlukannya.

Dengan menggunakan masker, topeng, kita berupaya menimbulkan imej, citra, kesan pada khalayak, bahwa kita tak memiliki aib. Agar khalayak memiliki kesan bahwa kita orang intelek, orang terpelajar, maka kita berupaya tampil sarat dengan kosa-kata, istilah-istilah yang asing, yang teraasa keren dan canggih.

Agar khalayak memiliki kesan bahwa kita orang alim, orang saleh, maka kita tampil dengan setumpuk hafalan kutipan-kutipan nash-nash agama. Agar khalayak memiliki kesan bahwa kita orang maju, orang moern, maka kita berupaya tampil dengan berbagai asesoris yang nyentrik, yang merupakan rangkaian dari fan, fashion and food.

Ada pula masker yang digunakan untuk melindungi, mengamanka, menyelamatkan diri dari sengatan matahari. Agar terlindung, aman, selamat harus mempu bermimikri, mampu menggunakan masker, topeng sesua sikon yang membutuhkannya, harus mampu berperilaku bunglon.

Termasuk jalan selamat dari ancaman, d antaranya adalah perilaku yang adaptif, akomodatif, kooperatif, kompromi, moderat, inklsif. Mak Cik Poli (Machiavelli) menasehati penguasa untuk pandai-pandai secara berhati-hati meggunakan masker, topeng.

Penguasa harus memiliki kebuasan singa yang dapat membikin gentar manusia-manusia serigala. Sekaligus ia harus pula memilki kecerdikan dan kelcikan anjing pemburu yang dapat mendeteksi pelbagai ranjau perangkap, dan data menghindari pelbagai jebakan. Ia harus mampu berperan ganda. Berperan sebagai elitokrat dengan wajah democrat. Harus mengutamakan kepentingan Negara di atas segala-galanya, meskipun akan bertabrakan dengan norma-norma kesusilaan.

Demi kepentingqn Negara (baca kepentingan penguasa), maka kepentingan rakyat boleh dilecehkan. Rakyat hanyalah objek Negara. Ia harus mampu hipokrit, berskap seperti musang berbulu ayam, atau seperti serigala berbulu domba.

Sekali-seali bleh berlagak dermawan melalui berbagai sarana informatika untuk menutupi kerakusan, ketamakan (kolusi dan korupsi). Ia harus mampu membuat lawan-lawan politiknya ertekuk lutut secara telak, sehingga tak sempat bangkit berkuti.

Demi stabilitas nasional, demi kepentingan Negara, maka penindasan da penekanan (agitasi, provokasi, intimidasi) boleh dlakukan terhadap lawan-lawan politik. Hanya ada kawan atau lawan. Tak ada benar atau salah, etis atau tiran.

Sesekali boleh tampak ramah-tamah, lemah lembut untuk menyembunyikan kekerasan, kebrutalan, kekejaman, keculasan, kecurangan. Pokoknya demi keamanan, ketenteraman, stabilitas nasional, maka segala upaya boleh dilakukan, tak peduli dengan norma-norma kesusilaan. Bila perlu diciptakan, disebarkan isu gangguan keamanan dan ketertban, gejolak sosial, keresahan dan kerusuhan, goncangan ekonomi, dan lain-lain. Penamplan boleh alim, tapi tindakan tak terikat dengan norma. Demokrasi digunakan sebagai topeng penutup elitokrasi.

Sebagai bangsa tampaknya kita sudah sangat terbiasa mengenakan bermacam ragam topeng, tergantung keperluan dan kebutuhannya. Ketika keperluan menntut mengenakan topeng Sukarnois, maka kita pun mengenakannya beramai-ramai. Ketika zaman berubah, maka secara missal, kita pun mengenakan topeng Orde Baru. Begitu seterusnya (Simak PIKIRAN RAKYAT, Jum’at, 8 November 2002, hal 18, tajuk Rencana : “Suharto dan Budaya Jawa”, Simak juga KOMPAS, Sabtu, 5 Februari 2011, hal 12, “Teroka : Sastra dan Kebohongan Endemik”, oleh Rizka Ramadhani).

(written by sicumpaz@gmail.com in sicumps.wordpress.com as Asrir at BKS709081400)

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s