Kita hanya ikut-ikutan

Kita hanya ikut-ikutan

Sebelum belajar secara formal, baik disekolah, di madrasah, atau di pesantren, kita telah lebih dahulu belajar agama di sekitar kita, baik dirumah, di mushollah, maupun di masjid.

Kita belajar ikut-ikutan. Orang berdiri, kita berdiri. Orang komat-kamit, Kita ikut komat-kamit. Orang ramai-ramai mengucap amin, kita lebih kencang lagi aminnya. Orang membungkuk, kita ikut membungkuk. Orang duduk, kita ikut duduk. Orang melengong, kita ikut melengong. Orang mengerak-gerakan kepala serta menggoyang-goyangkan badan, kita ikut pula bergoyang. Orang bangun makan malam, kita ikut bangun makan malam. Orang tak makan siang, kita pun ikut tak makan siang. Dan seterusnya.
Kita melaksanakan tanpa pilh-pilih. Kita ikut-ikut melaksanakan, baik yang ada tuntunannya maupun yang hanya kira-kira saja. Kemudian kita belajar agam secara formal, baik di sekolah, di madrasah, atau di pesantren. Yang kita pelajari bercampur baur. Ada yang mengacu pada tuntunan Allah dan Rasul Nya, dan adapula yang hanya kira-kira ( zhanni ).

Kembali kita melaksanakan ajaran agama tak beda seperti semula, seperti sebelum belajar formal. Tak mampu, tak mau memisahkan antara yang ada tuntunannya dan yang hanya kira-kira saja. Setelah kembali ke tengah masyarakat, tetap saja keadaan kita beragama seperti semula. Tetap tak mau berusaha untuk memisahkan antara yang ada tuntunannya dan yang hanya kira-kira.

Demikianlah turun temurun dari kakek kepada bapak, dari bapak kepada anak, dari anak kepada cucu. Terus menerus. Tapi kita kadang-kadang pintar berhujah. Kadang-kadang kita fasih berfatwa bahwa dalam melakukan amal ibadah jangan hanya kira-kira. Tapi kita sendiri tak mau mau memeriksa diri kita sendiri apakah amal ibadah kita itu telah sesuai dengan nash yang shahih lagi sharih? Apalagi kita tak pernah berupaya memeriksa shahih tidaknya suatu nash. Asalkan di katakan orang ada nashnya, kita sudah merasa cukup puas. Untuk apa berpayah-payah mempelajari mushthalah dan ushul kalau hanya beramal ikut-ikutan? Untuk apa ikut-ikutan berfatwa kalau tak menguasai mushthalah dan ushul? Muqallid

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s