Belajar mengenali nagari Ngayogyakarta

Belajar mengenali nagari Ngayogyakarta
Sejarah mencatat Kerajaan Islam Demak (1458-1546), Pajang (1546-1582), Mataram (1586-1601). Pajang dan Mataram menganut sinkretisme antara Islam dan Hindu-Budha sebagai falsafah kerajaan resmi (Bhineka Tunggal Ika Mataram) (Umar Hasyim : “Sunan Giri”, 1979:93). Budaya kraton sangat kental didominasi oleh budaya feudal Majapahit. Kitab Primbon merupakan peninggalan zaman Demak (Prof H Mahmud Yunus : “Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia”, 1983:220).
Disebutkan bahwa Sultan Demak pertama adalah Raden Fatah, putera Brawijaya V, putera Bhre Kertaabumi (1466-1478), raja Majapahit terakhir. Sultan Pajang (Surakarta ?) pertama adalah Pangeran Adiwijaya. Bupati Mataram (Yogyakarta ?) adalah Kiai Gede Pamanahan (Anwar Sanusi : “Sejarah Indonesia untuk Sekeolah Menengah”, II, 1955:15).
Setelah Kiai Gede Pamanahan mangkat (1575) maka puteranya, Sutawijaya diangkat menjadi penggantinya dengan gelar Senopati Ing Alaga Saidi Panatagama (1575-1601). Senapati mengangkat puteranya Mas Djolang (1601-1613) menjadi penggantinya. Yang ditunjuk oleh Mas Djolang sebagai penggantinya adalah puteranya, Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Agung Senapati Ing Alaga Ngabdurrahman, yang masyshur sebagai Sultan Agung (1613-1645) (idem 1955:34). Atas kebijakan Sultan Agung kebudayaan Hindu-Budha disesuaikan dengan kebudayaan Islam (Maqhmud Yunus, 1983:221).
Dari Sultan Agung inilah berasal Susuhunan Surakarta, Pangeran Mangkunegara, Sultan Yogya, Pangeran Paku Alam (Anwar Sanusi, 1955:79). Swapraja Surakarta dan Mangkunegara dijadikan Keresidenan dalam Propinsi Jawa Tengah dengan UU rII 1950 No.10. Swapraja Yogyakarta dan Paku Alaman dijadikan Daerah Istimewa Yogyakarta setingkat Propinsi dengan UU RI 1950 No.3 (Simak antara lain Drs GJ Wolhoff : “Pengantar Hukum Tata Negara Republik Indonesia”, 1955:251).
Raja-raja Mataram, baik Surakarta maupun Yogyakarta, kedua-duanya bergelar “Sampeyan Dalem Hingkang Sinuhun” (penguasa pemerintahan yang ditaati), “Senapati Hing Ngalogo” (panglima angkatan bersenjata), “Sayyidin Panatagama Kalipatullah” (pengatur bidang agama) (Zaini Ahmad Noeh : “Bercermin dengan Fiqh alMawardi”, PESANTREN, No.2/Vol.II/1985, hal 56).
Raja-rajanya secara formil mengaku beragama Islam, tetapi dalam prakteknya justru bertentangan denan kaidah-kaidah dari ajaran agama Islam sendiri. Feodalisme hidup di kalangan rakyat yang mendewa-dewakan bangsawan dan raja (Solichin Salam “ “KH Ahmad Dahlan reformer Indonesia”, 1963;37)

Budaya kraton dan budaya Islam
Kraton Yogyakarta adalah pewaris Kerajan Islam Mataram. Karena itu budaya kraton seharusnya kembali kepada budaya Islam. Segala budaya kraton yang bertentangan dengan ajartan Islam seharusnya dikembalikan kepada budaya Islam.
Alam dan suasana Kraton Yogyakarta sedari dahulu menggunakan alam dan suasana keagamaan. Namun demikian alam feodalisme, egoisme, tradisionalisme dan konservatisme masih tebal di kalangan mereka. Para alim ulama maupun pemimpinpemimpinnya, umumnya adalah pegawai-pegawai dari Kesultanan.
Masyarakat Kauman umumnya berjiwa statis, hidup dalam alam kekolotan dan kebekuan. Gerak langkah Ahmad Dahlan menimbulkan letusan dari Kauman yang memuntahkan lahar feodalisme, tradisonalisme, konservativisme dari kawahnyaaa, menjebol tonggak-tonggak kekolotan dan kebekuan. Semangat reformasi dan modernisasi Islam yang pernah dulu menyala di Kauman Yogya, kini dipertanyakan eksistensi, keberadaannya (Solichin Salam : “KH Ahmad Dahlan Refomer Islam Indonesia”, Djamurni, Djakarta, 1963:4446).
Kebudayaan itu mencakup sains, teknologi, ekonomi, sosial, bahasa, seni, religi spiritual, etik, moral) yang saling terkait satu sama lain (IPTEK plus IPOLEKSOSBUD). (Simak antara lain Prof DR HM Rasyidi : “Strategi Kebudayaan dan Pembaruan Pendidikan Nasional”, Media Dakwah, Jakarta, 1979:27; TM Usman ElMuhammady : “Islamologie”, Pustaka Agus Salim, Dajakarta, hal 5).
Dakwah Kultural Muhammadiyah yang diusung oleh KH Ahmad Dahlan bukanlah untuk melestarikan budaya local, nasional, regional, internasional), tetapi untuk membersihkan budaya itu dari noda sirik, tahyul, bid’ah, khurafat (Simak antara lain TABLIGH, vol.04/No.02/15 Mei – 15 Juni 2006, hal 24-27; Lembaran Dakwah USWATUN HASANAH, No.942, Th.XIX, 10 November 2006m; bandingkan dengan SUARA AISYIYAH, No.6 Th Ke-82, Juni 2005, hal 1-18)
(written by sicumpaz@gmail.com in sicumpas.wordpress.com as Asrir at BKS10200600)

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s