Saya dan Madrasah Diniyah Pasir

Saya dan Madrasah Diniyah Pasir

Saya lahir dari keluarga Muslim 13 Jumadil Akhir 1358 atau 31 Juli 1939. Dibesarkan di tengah lingkungan komunitas Muslim di desa Pasir di kaki Gunung Merapi, tujuh kilometer arah timur dari Jam Gadang Bukittinggi Sumatera Barat.

Ketika berusia delapan tahun mulai belajar membaca AlQur:an di Madrasah Diniyah Pasir Ampek Angkek Bukittinggi tingkat awaliyah dari Ustqadz Haji Husin Ishaq dan Ustadz Rakanan Kari Sulaiman. Baru belajar Ilmu Tajwid setelah duduk di bangku sekolah menengah lanjutan pertama dari Ustadz Haji Sa’adduddin.

Belajar pengetahuan dasar Bahasa Arab dan Agama Islam pada tingkat Ibtidaiyah di Madrasah Diniyah Pasir. Di antara yang mengajarnya di Ibtidaiyah adalah Ustadz Ismail Saleh (Kepala Madraqsah), Haji Husin Ishaq (Nahwu dan Sharaf), Abdul Manaf Rasyad (Tarikh, Khath), Said Saleh (Tafsir, Ushul), Anwar Saleh, Ali Amran Zasini, Zuraida Ja’far (Muthala’ah, Muhadatsah), Zub aidah Rahman, Nawir Zubir, Munawir Nabi.

Buku teks yang dipakai antara lain : Fiqih Wadhih Mahmud Yunus, Muthala’ah dan Muhadatsah Mahmud Yunus. Kitab us Sa’adah Abdul Rahim Manafi (Tauhid), Tafsir AlMunir Jalaluddin Thaiyib, Hadits Arba’in Imam Nawawi, Mabadi Awaliyah Abdul Hamid Hakim (Ushul). Durusul Lughah Arfabiyah Galayaini (Nahwu dan Sharaf), Miftahul Yaqin (Tarikh), Targhib wa tahdzib (Akhlaq).

Di Sekolah Dasar (Sekolah Rakyat) dan di Sekolah Lanjutan Pertama (SMP) yang mengajarnya pengetahuan dasar tentang Agama Islam adalah Ustadz Ismail Saleh (Kepala Madrasah Diniyah Pasir).

Di Sekolah Lanjutan Atas (SMP) yang mengajar pengetahuan dasar tentang Agama Islam adalah Ustadz Haji Jalaluddin Thaiayib (Pengarang Tafsir AlMunir).

Di luar sekolah pengetahuan tentang Agama Islam diperoleh dari penceramah-penceramaah di taklim mingguan, seperti Qari Makhdum, dan dari bacaan dalam majalah dan buku, termasuk yang terjemahan dari berbagai aliran, paham, ideologi.

Ketika berusia dua puluh lima tahun saya menikah dengan wanita sedesa yang latar belakang keislamannya hamper sama dengan saya.

Anak-anak semua kami sekolahkan ke sekolah, madrasah, pesantren yang mengajarkan penghetahuan dazsar tentang Agama Islam menurut AlQur:an dan Sunnah yang disepakati (muttafaqun ‘alaih).

(BKS1010310615)

Sosok Said Saleh

Salah seorang tamatan/lulusan pertama Madrasah Diniyah Pasir (1928-1935) adalah Ustadz Said Saleh. Beliau bukan seorang kutu buku. Bukan seorang yang suka banyak baca. Pendidikan beliau hanya terbatas sampai disitu. Tak pernah melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tnggi. Namun beliau mampu mengajar di alamamaternya Madrasah Diniyah Pasir (1935). Mengarkan buku-buku seperti Tafsir Qur:an dan Ushul Fiqih berbahasa Arab. Membuat ujian dalam bahasa Arab. Padahal pelajaran bahasa Arab di MaDRASAH Diniyah Pasir yang beliau terima hanya bersifat pasif, bukan aktif. Beliau juga dipercayai sebagai Khatib Jum’at di Masjid Jami’ Pasir. Beliau berkhutbah tanpa menggunakan teks khutbah. Apakah hal ini merupakan salah satu buah/hasil pendidikan. Kurikulum dan bidang studi Madrasah Diniyah Pasir di masa Said Saleh sekolahsangat terbatas, sangat sederhana dibandingkan dengan kurikulum dan bidang studi pada masa kini. Bagaimana model sistim pendidikan yang dapat melahirkan sosok-sosok Said Saleh.

(BKS0905091330).

Mengenang Syekh Abdul Latif Syakur

Syek Abdul Latif Sakur adalah salah seorang ‘alim di ranah Sumatera Barat, dari desa Baligurah, kecamatan Ampek Angkek, Bukittinggi pada awal abad ke-20 (Simak antara lain Hamka : “Kebudayaan dan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Aceh”, PANJI MASYARAKAT, No.197, 15 April 1976, hal 29).

Diperkirakan pada awal abad ke-19 di Ampek Angkek terdapat seorang ulama yang sangat besar peranan dan pengaruhnya, seorang yang ternama dan sangat disegani, dikenal dengan nama Tuanku Nan Tuo dari Koto Tuo. Beliau belajar ilm agama pada Tuanku Kamang, Tuanku Sumanik, Tuanku Nan Kacik dar Koto Gadang, Tuanku Mansiang Nan Tuo dari Paninjauan. Beliau mahir Ilmu Manthiq, Ma’ani, Tafsir, dan Ilmu Syariat lain. Banyak alim ulama seluruh alam Mnangkabau dan sekitarnya datang berguru menuntut lmu kepada beliau. Dengan usaha beliau berangsur-angsur banyak orang yang memeluk agama Islam. Di Ampek Angkek (di desa Batu Taba) Haji Miskin dari Pandai Sikek pernah tinggal menetap.

Tuanku nan Tuo mempunyai putera, yaitu Jalaluddin Fakih Sagir sekaligus adalah mired beliau. Jalaluddin Fakih Sagir yang kemudian dikenal dengan Muhammad Salim, atau lebih dkenal dengan sebutan Syekh Muhammad Cangking.

Dari Syekh Muhammad Cangking inilah asal trunan syakh Thaher Jalaluddin. Sekh Thaher Jalaluddin dengan Syekh Ahmad Khatib adalah saudara sepupu pihak ibu, sepersukuan di bawa Datk Bagndo, Lareh Ampe Angkek.

Syekh Abdul Latif Syakur aalah salah seorang anak didik syekh Ahmad Khatib. Di antara anak didik Syekh Ahmad Khatib yang lain adalah : Syekh Sulaiman ar-Rasuli Candung, Syekh Muhammad Jamil Jambek Bukittinggi (1860-1947), Syekh adang Laweh, Syekh Abdul Kaim Amarullah Manibnjau (1879-1945, Syekh Abdullah Ahmad Padang Panjang (1878-1933), Syekh Muhammad amil Jaho Padang Panjang, Sekh Thaib Umar Sungaiang batusangkar (1874-1920), Syekh Musa Parabek (1884-). Beliau-beliau ini di atas angkatan Syekh Mahmud Syaltut Mesir.

D antara anak didik Syekh Abdul Latif Syakur adalah Syekh Abbas Padang Japang Payakumbuh (1883-1957), pendiri Darul Funun Abbasyah (Thawalib Padang Japang).

Sebagai Muballigh, Syekh bdul Latif Syakur berdakwah dari suatu desa ke suatu desa, dari satu masjid ke satu masjid. Salah satu masjid yang secara rutin tetap beliau kunjungi sekali seminggu adalah di kampng Bonjol Alam, desa Ampang Gadang, Bukittinggi. Ketika menyampaikan pengajian, beliau langsung menyedakan minuman sendiri. Untuk mengurangi kesulitan suaranya, beliau sesalu mengantongi permen (untuk melegakan tenggorokan beliau).

Pada tahun lima puluhan (1951) beliau turut mengajar pada Madrasah Diniyah Pasir Ampek Angkek Bukittinggi. Madrasah ini disponsori berdirinya oleh salah seorang anak didi Syekh Muhammad Cangking, yaitu Haji Mhammad Isa. Syekh Abdul Latif Syakur memberikan pelajaran Insyak (karang mengarang dalam bahasa Arab). Belai ‘alim mengena dialek (logat/lahjah) Arab.

Salah satu karya tulis Syekh Abdl Latif Syakur adalah kitab “Lathaif al-Ahaadits an-Nabawiyah”, terdiri dari beberapa jilid. Kitab ini merupakan terjemahan hadis secara abjadiyah (alfabetis) dalam bahasa Melayu dengan hruf Ara-Melayu (Jawa Pegon).

(Dismak dari berbagai sumber antara lain :
1. Muslim D : “Mengenang 50 tahun Perguruan Madrasah Diniyah Pasr IV Angkat Candung Kabupaten Agama”, “50 Tahun Madrasa Dinyah Pasir IV Angkat Candng, 11 Oktober 1928 – 11 Oktober 1978”, hal 35-37
2. Prof H Mamud Yunus : “Sejarah Pendidikan Islam di Indnesia, Hidakarya Agung, Jakarta, 1983, hal 25,163.
3. KH Sirajddin Abbas : “lama Syafi’is dan kitab-kitabnya dari abad kea bad”, Tarbiyah, Jakarta, 1975, hal 458-459.
4. H A Lathif Syakr : “Latahaif al-Ahadits an_Nabawiyah”, Fort de Kock (Bukittinggi).
5. Affan Madjrie : “Sang Perintis Jurnalistik sla”, REPUBLIKA, amis, 11 Maret, 1993, hal 7.
6. Dar Hati Ke Hati : “30 Tahun Panjimas, Media Isam dari Masa ke Masa”, PANJI MASARAKAT, No.614, 11-20 Juni 1989.
7. ALMANAK SMATRA THAWALIB, 1347H, Fort de Kock, hal 151-164,

(written by sicumpaz@gmail.com in sicumpas.wordpress.com at BKS7811271415)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s