Puspa ragam bahan renungan

Bahan renungan

1. Dari sudut pandang Islam, bencana tsunami di Mentawai dan gempa vulkanik di Merapi, apakah merupakah :
– teguran, peringatan dari Allah, ataukah
– ujian, cobaan dari Allah tentang keimanan, ataukah
– hukman, siksaan, azab dari Allah atas dosa-dosa yang dilakukan, ataukah
– pamer kekuasaan dari Allah, atakah
– sunnatullah (fenomena alam) semata ?

2. Dari sudut pandang Islam, dana untuk korban bencana apa perlu disleksi halal atau haramnya. Apakah penggalangan dana itu boleh saja dilakukan oleh semua kalangan, termasuk komunitas koruptor, maling, mucikari, germo, psk, gay, dan yang semacam itu ?

3. Mana saja hadis dalam “Bulughul Maram” yang berbeda syarahnya antara Shan’ani (Subulus Salam) dan ‘Asqalani (Fathul Bari) ?

4. Padahari tasyrik ada seseorang peternak kambing baru punya anak lelaki berumur tujuh hari. Kambingnyaa ada 40 ekor. Apasaja kewaajiban agama Islam yang harus ia lakukan berkaitan dengan kambingnya?

Kawasan rawan bencana

Sebelum korban berjatuhan, seyogianya pemerintah bertindak tegas mentransmigrasikan warga yang berada di kawasan rawan bencana (gempa, tektonik, vulkanik, tsunami, banjir, longsor). Pos APBN untuk keluar negeri (Presiden, Meneri, Legislatif) direvisi untuk trnsmigrasi.Di kawasan rawan bencana hendaknya selalu siap standby helicopter penolong.

Gelar Pahlawan

Bangsa ini tak punya sosok yang berpihak pada rakyat, yang peduli pada sesama.

Gelar Pahlawan seyogianya disandangkan pada yang sudah wafat lebih 50 tahun.

Rosihan Anwar dalam tlisannya “Pahlawan Nasional” mempertanyakan “mengapa tidak juga mengusulkan sebagai Pahlawan Nasional tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir, Syafrudddin Prawiranegara, atau Amir Sjarifoeddin ? Orang-orang ini adalah pejuang kemerdekaan dari jam-jam pertama revolusi.

Asvi Warman Adam dari LIPI dala tulisannya dalam KORAN TEMPO, Sabtu, 2 Oktober 2010, halaman A8 mempertanyakan kelayakan Presiden Soeharto (almarhum) yang penuh bercak-bercak, noda-noda kemanusiaan diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

(Asrir BKS1010240730 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.worddpress.com)

Studi banding

Studi banding tak harus secara fisik-materiil. Studi banding juga bias dilakukan dengan masuk ke dunia mind, geest, spriti, the world of mind dengan membaca buku-buku dari berbagai bangsa. Melalui buku melanglang buana, mengembara, melakukan studi banding ke berbagai bangsa, ke berbagai Negara. Berbicara dengan orang-oang besar, ahli-ahli fakir besar, pemimpin dari berbagai bangsa.

Inilah yang dilakukan dan dipesankan oleh Presiden Sukarno (almarhum) dalam amanatnya pada upacara pemberian gelar Doctor Honoris Causa oleh IAIN pada tanggal 2 Desember 1964. Disebutkannya bahwa Islam bukan hanya sekedar syahadat, shalat, zakat, haji. Untuk menjadi umat yang besar haruslah nail, mnasuk ke dunia mind, geest, sprit, the world of mind.

Bangsa badut

Di atas pentas, panggung tampil badut-badut dari berbagai kalangan. Ada dari kalangan politisi, pejabat, aparat, teknokrat, ekonom, muballigh, da’i dan lain-lain.

Penonton, pemirsa dari semua lapisan asyik, senang dengan aksi, atraksi, lawakan, lelucon yang dibawakan oleh para badut-badut tersebut.

Bangsa ini memang bangsa badut. Deman dengan lawakan, lelucon, akrobatik, humor. Tak suka dengan yang serius. Tak suka dengan kritik. Tak suka dikritik dan mengkritik. Tak suka dikoreksi dan mengkoreksis. Pokoknya suasana hati lega, tak punya beban.

(Asrir BKS1010220600 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Pengkhianatan terhadap Islam

Dulu menjelang pemilu berkumandang suara, seruan, himbauan agar memilih caleg Muslim dan tidak memilih caleg non-Muslim, agar memilih parpol berbasis Islam dan tidak memilih parpol non-Islam. Namun semuanya berkhianat terhadap Islam, sama sekali tak peduli dengan aspirasi Islam, tak memperjuangkan aspirasi umat Islam. Quo Vadis parpol bernuansa Islam ?

(Asrir BKS1010110630 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Kekacauan terminologi

Kondisi dikacaukan dengan situasi. Kondisi keadaan di dalam Situasi keadaan di luar.

Kewajiban dikacaukan dengan tanggungjawab. Kewajiban adalah tugas yang harus dilakukan oleh yang dipimpin. Tanggungjawab adalah tugas yang harus dipikul leh yang memimpin.

Sunat dikacaukan dengan sunnah. Sunnat adalah terminologi fiqih, berupa anjuran. Sunnah adalah terminologi mushthalah.

Kurikulum SD/Mi Kelas 1-3

Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, oleh Badan Standar Nasional Pendidikan ditetapkan sejumlah buku teks yang dinyaatakan memenuhi syarat kelayakan sebagai buku pegangan siswa berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 34 Tahun 2008 tanggal 10 Juli.

Siswa SD/MI kelas 1-3 pun dijejali dengan buku teks pelajaran tersebut. Anak-anak yang masih belum mengenal huruf dan angka secara baik, apalagi mengenal suku kata, kata, kalimat, operasi bilangan sudah dijejali dengan tyeks pelajaram, rangkunan dan evluasi pelajaran, yang sama sekali belum dapat dicernanya. Bahkan pelajaran bahasa asing (bahasa Inggeris) untuk SD/MI kelas 1-2 rasanya terlalu berlebihan (over acting). Sungguh tak dapat dipahami logika tentaaaaaang ini. 60-65 tahun yang lalu anak SR (SD) kelas 1-3 hanya menggunakan sabak (batu tulis). Baru di kelas 4 mulai menggunakan buku tulis dan buku teks.

Di samping itu muatan local (eperti pelajaran bahasa daerah0 dimasukan tanpa mempertimbangkan kondisi riil. Di daerah pemukiman para pendatang (seperti di wilayah Perumnas) yang siswanya hanya mengenal bahasa Indonesia tak perlu dibebani dengan pelajaran bahasa daerah.

(Asrir BKS1010110800)

Jadikan Mustika Jaya sebagai Pusat Gerakasn Dakwah wal Jihad

Dakam rangka merapatkan barisan dan mewujudkan Bakasi sebagai Kota Syuhada Bersyari’iyah diharapkan KUIB, FAPB, DDIIB merintis Mustika Jaya / Ciketing sebagai Pusat Gerakan Dakwah wal Jihad.

Meneladani Sebastian Pinera

Setiap kitaadalah pemimpin. Pemimpin di bidang masing-masing. Karena itu, siapa pun kita dan di mana pun kita(apa pun status dan posisi kita) hendaknya berupaya meneladani sikap Presiden Cile Sebastia Pinera. Berpihak kepada rakyat. Peduli akan sesame. Buang tata kerama protokoler. Sistim protokoler itu anti demokrasi, anti egalitarian, memisahkan atasan dari bawahan. Jauhkan sikap arogansi. Meneladani Sebastian Pinera tidak hanya diharapkan dari pemimpin formal. Tapi dari kita semua. Kita semua juga adalah pemimpin secara informal.

Agar dapat memiliki kepekaan dan sikap mental peduli akan sesame secara otomatis, Islam menuntun, membimbing agar biasa hidup qana’ah, zuhud, wara’. Zihid adalah sikap hidup yang giat, gesit mendapatkan kekayaan untuk kepentingan bersama, bukan hanya untuk kepentingan diri pribadi.

(Asrir BKS 1010170500 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Mengaca diri

Lagu kebangsaan Indonesia “Indonesia Raya” ciptaan WR Supratman (tak tertera dalam UUD-1945) berseru agar “Bangunlah jiwanya, bangunlah bdannya”, “Sadarlah hatinya, sadarlah budinya”, Majulah negerinya, majulah pandunya”. Pembukaan UUD-1945 mengamanahkan pemerintah untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdakan kehidupan bangsa.Pasal 33 UUD-1945 mengamanahka pemerintah agar kekayaanalam dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

Sudah saatnya penguasa, pemerintah melakukan instropeksi diri, mengaca diri apa yang sudah dilakukan untuk membangun jiwa-raga bangsa, untuk menghidupkan jiwa-raga bangsa, untuk menyadarkan hati-budi bangsa, untuk menyuburkan jiwa-raga bangsa, untuk memajukan negeri-pandu bangsa, untuk menyelamatkan putra-rakyat bangsa, untuk melaksanakan ketertiban umum, untuk menjamin keamanan rakyat, untuk menggunakan kekayaan alam bagi kesejahteraan, kemakmuran rakyat.

(Asrir BKS 1010181010 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Seruan Nabi Ibrahim

Wahai kaumku. Berhala-berhala yang kamu sembah itu sama sekali tak mendengar do’a permintaannu. Tak mberi manfa’at dan mudharat kepadamu. Yang harus kamu sembah adalah Tuhan alam semesta. Yang menciptakan dan memenunjukimu. Yang member makan dan minum kamu. Ang menyembuhkan sakitmu. Yang mematikan dan menghidupkanmu kembali. Yang akan mengampuni dosamu.

Nabi Ibrahim berdo’a memohon kepada Allah agar diberi hikmah dan dikumpulkan bersama orang-orang saleh. Agar jadi ikutan generasi mendatang. Agar dimasukkan ke dalam surge jannatun na’im. Agar dosa keluarganya diampuni Allah. Agar tak dihinakan Allah pada hari akhirat (simak QS 26:71-87; 21:52-56; 29:16-17).

(Asrir BKS1011010515 written by sicumpaz@gmail.com sicumaps.wordpdress.com)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s