Politisasi dan komersialisasi bencana

Penyebab, bentuk, tujuan musibahm bencana, petaka

Musibah, bencana, petaka, penyebabnya bisa sebagai sunnatullah (fenomena alam). Bentuknya bias sebagai unjuk ke Mahakuasaan Allah. Tujuannya bisa sebagai teguran, peringatan, ujian, cobaan, hukuman, siksaan, azab, rahmat dari Allah. Musibah, bencana, petaka yang menyebabkan seorang Muslim meninggal dunia dapat dipandang sebagai sarana positif baginya untuk memperoleh posisi sebagai syahid/syuhada (Simak antara lain asSayyid Sabiq : “Fiqh asSunnah”, Jilid I, halaman 332, Ghasl almayyit”)..

Politisasi dan Komersialisasi bencana

Tujuan menghalalkan segala cara. Untuk mencapai, mewujudkan tujuan, segala cara boleh dilakukan. Bencana boleh dipotisasi sebagai sarana kampanye parpol. Bencana pun boleh dikkomerssialisasi sebagai sarana promosi komoditi produksi. Para pengurus parpol dan pihak manajemen industry bias memanfa’atkan bencana dan korban sebagai sarana kampanye parpol dan promosi produk industry. Inilah pola piker, sikap mental bangsa ini (Simak “Ironi Merapi” oleh FX Wikan Inrarto dalam KOMPAS, Sabtu, 6 November 2010).

Musibah dan usaha

Musibah diatasi dengan usaha. Suatu ketika Nabi Ayub mengalami musibah berupa sakit (sakit kulit ?). NaBI Ayub dituntun, dibimbing Allah agar berusaha mengobati penyakitnya dengan berupaya mendapatkan obatnya berupa air obat (obat penyakit kulit ?). Nabi Ayub hanya mengeluhkan penyakitnya kepada Allah tanpa memohon agar disembuhkan. “Dan ingatlah akan hamba Ayub, ketika ia menyeru TuhanNya : Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan. Allah berfirman : Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum” (QS 38:41-42; simak juga QS 21:85).

Suatu ketika Siti Maryam binti ‘Imran mengalami musibah bencana berupa hamil tanpa bersuami. Akibat tekanan batin yang dideritanya, Maryam menjauhkan diri ke tempat terpencil. Semakin dekat waktu melahirkan, kesedihan, ketakutan, kekhawatiran Maryam semakin memuncak. Maryam khawatir akan takdir yang akan terjadi. Sangat berat beban pemikiran yang menimpanya. Sebagai seorang wanita yang be3rasal dari keluarga baik-baik dan shaleh, tentu dengan kejadian mengandung tanpa bersuami itu merupakan pukulan batin yang teramat berat dan pedih. Apakah orang tidak akan menuduhnya telah berbuat zina ? Yang mencemarkan nama baik keluarganya. Sungguh merupakan beban penderitaan batin yang tak tertanggungkan. Siti Maryam mengeluh, tak ada gunyanya ia hidup.“Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia bersandar pada pangkal pohon kurma, maaryam berkata : Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang taidak berarti, lagi dilupakan” (QS 19:23). Demikian terasakan dalam kisah Maryam dalam QS 19:22-26. Bisa dibayangkan betapa remuknya perasaannya bila tak datang ma’unah, pertolongan Allah yang disampaikan Jibril kepada Maryam. Siti Maryam dituntun, dibimbing Allah agar berusaha tegar, tak bersedih, dan berupaya mendapatkan kembali tenaga, kekuatan.”Maka Jibril menyeru dari tempat yang rendah : Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyangkanlah kohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu” (QS 19:23-25) (ALHIKMAH, Bani Saleh, Bekasi, No.5, Th.III, Desember 1996, hal 13).

Setelah menerima wahyu pertama, sebelum turun surah adDhuha, Rasulullah pernah mengalami goncangan batin yang sangat dahsyat. “Aku adalah hamba Allah yang paling benci pada sya’ir. Tidak ada seorang dari hamba Allah yang paling kubenci selain penyair dan orang gila. Aku tak kuasa melihat kedua orang itu. Bahwasanya jalan yang baik buat menghindarkan tuduhan orang Quraisy, ialah aku pergi ke suatu puncak bukit lalu aku terjunkan diriku ke bawah, supaya habislah riwayat hidupku dan terlepaslah aku dari tuduhan sebagai penyair dan orang gila. Inilah yang terpikir, terlintas untuk mengakhiri hidup dengan menerjunkan diri dari puncak gunung Abu Qubais. Maka aku pun keluar dari rumah untuk menjalankan maksud itu. Rasulullah dituntun, dibimbing Allah agar tak bersedih dan tak berduka cita dengan berupaya mendapatkan kebahagiaan akhirat, antara lain dengan menyantuni yang melarat, menuntun, membimbing yang awam, menyebarkan rahmat karunia ilahi ke segenap penjuru (Simak antara lain Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:97-98). Tiba-tiba setelah berada di tengah bukit itu aku mendengar suatu suara dari langit yang mengatakan : Ya Muhammad, engkau Rasulullah dan aku Jibril” (Menurut HR Thabary dari Abdullah bin Zubair; juga HR Ibnu Ishaq dari Wahab bin Kaisan dari ‘Ubaid, dalam “Tafsir I bawah Naungan alQur:an” oleh Sayid Quthub, juzuk XXX, hal 373; dan simak juga “Tafsir AlAzhar” oleh Prof Dr Hamka, juzuk XXX, hal 102).

(Asrir BKS1009240500 written by sicumpaz@gmail.comsicumpas.wordpress.com)

Bahan renungan

1. Dari sudut pandang Islam, bencana tsunami di Mentawai dan gempa vulkanik di Merapi, apakah merupakah :
– teguran, peringatan dari Allah, ataukah
– ujian, cobaan dari Allah tentang keimanan, ataukah
– hukman, siksaan, azab dari Allah atas dosa-dosa yang dilakukan, ataukah
– pamer kekuasaan dari Allah, atakah
– sunnatullah (fenomena alam) semata ?

2. Dari sudut pandang Islam, dana untuk korban bencana apa perlu disleksi halal atau haramnya. Apakah penggalangan dana itu boleh saja dilakukan oleh semua kalangan, termasuk komunitas koruptor, maling, mucikari, germo, psk, gay, dan yang semacam itu ?

3. Mana saja hadis dalam “Bulughul Maram” yang berbeda syarahnya antara Shan’ani (Subulus Salam) dan ‘Asqalani (Fathul Bari) ?

4. Padahari tasyrik ada seseorang peternak kambing baru punya anak lelaki berumur tujuh hari. Kambingnyaa ada 40 ekor. Apasaja kewaajiban agama Islam yang harus ia lakukan berkaitan dengan kambingnya?

Kawasan rawan bencana

Sebelum korban berjatuhan, seyogianya pemerintah bertindak tegas mentransmigrasikan warga yang berada di kawasan rawan bencana (gempa, tektonik, vulkanik, tsunami, banjir, longsor). Pos APBN untuk keluar negeri (Presiden, Meneri, Legislatif) direvisi untuk trnsmigrasi.Di kawasan rawan bencana hendaknya selalu siap standby helicopter penolong.

Gelar Pahlawan

Bangsa ini tak punya sosok yang berpihak pada rakyat, yang peduli pada sesama.

Gelar Pahlawan seyogianya disandangkan pada yang sudah wafat lebih 50 tahun.

Rosihan Anwar dalam tlisannya “Pahlawan Nasional” mempertanyakan “mengapa tidak juga mengusulkan sebagai Pahlawan Nasional tokoh-tokoh seperti Mohammad Natsir, Syafrudddin Prawiranegara, atau Amir Sjarifoeddin ? Orang-orang ini adalah pejuang kemerdekaan dari jam-jam pertama revolusi.

Asvi Warman Adam dari LIPI dala tulisannya dalam KORAN TEMPO, Sabtu, 2 Oktober 2010, halaman A8 mempertanyakan kelayakan Presiden Soeharto (almarhum) yang penuh bercak-bercak, noda-noda kemanusiaan diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

(Asrir BKS1010240730 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.worddpress.com)

Studi banding

Studi banding tak harus secara fisik-materiil. Studi banding juga bias dilakukan dengan masuk ke dunia mind, geest, spriti, the world of mind dengan membaca buku-buku dari berbagai bangsa. Melalui buku melanglang buana, mengembara, melakukan studi banding ke berbagai bangsa, ke berbagai Negara. Berbicara dengan orang-oang besar, ahli-ahli fakir besar, pemimpin dari berbagai bangsa.

Inilah yang dilakukan dan dipesankan oleh Presiden Sukarno (almarhum) dalam amanatnya pada upacara pemberian gelar Doctor Honoris Causa oleh IAIN pada tanggal 2 Desember 1964. Disebutkannya bahwa Islam bukan hanya sekedar syahadat, shalat, zakat, haji. Untuk menjadi umat yang besar haruslah nail, mnasuk ke dunia mind, geest, sprit, the world of mind.

Bangsa badut

Di atas pentas, panggung tampil badut-badut dari berbagai kalangan. Ada dari kalangan politisi, pejabat, aparat, teknokrat, ekonom, muballigh, da’i dan lain-lain.

Penonton, pemirsa dari semua lapisan asyik, senang dengan aksi, atraksi, lawakan, lelucon yang dibawakan oleh para badut-badut tersebut.

Bangsa ini memang bangsa badut. Deman dengan lawakan, lelucon, akrobatik, humor. Tak suka dengan yang serius. Tak suka dengan kritik. Tak suka dikritik dan mengkritik. Tak suka dikoreksi dan mengkoreksis. Pokoknya suasana hati lega, tak punya beban.

(Asrir BKS1010220600 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Pengkhianatan terhadap Islam

Dulu menjelang pemilu berkumandang suara, seruan, himbauan agar memilih caleg Muslim dan tidak memilih caleg non-Muslim, agar memilih parpol berbasis Islam dan tidak memilih parpol non-Islam. Namun semuanya berkhianat terhadap Islam, sama sekali tak peduli dengan aspirasi Islam, tak memperjuangkan aspirasi umat Islam. Quo Vadis parpol bernuansa Islam ?

(Asrir BKS1010110630 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Kekacauan terminologi

Kondisi dikacaukan dengan situasi. Kondisi keadaan di dalam Situasi keadaan di luar.

Kewajiban dikacaukan dengan tanggungjawab. Kewajiban adalah tugas yang harus dilakukan oleh yang dipimpin. Tanggungjawab adalah tugas yang harus dipikul leh yang memimpin.

Sunat dikacaukan dengan sunnah. Sunnat adalah terminologi fiqih, berupa anjuran. Sunnah adalah terminologi mushthalah.

(BKS1011040800)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s