Menggugat mitologisasi dan kesenjangan

Hidup dalam mitos

Dulu, kini, nanti manusia hidup dalam mitos, berpikir brdasar mitos. Dulu, agar trhindar dari bahaya, malapetaka dengan menggunakan ruwatan, petung dan sesaji.

Agar dapat mengatasi krisis dari keterjajahan dimitoskan Presiden Soekarno sebagai Ratu Adil dengan gelar yang serba agung, “Pemimpin Besar Revolusi”, “Penyambung Lidah Rakyat”, “Seniman Agung”.

Agar dapat mengatasi keterbelakaangan menuju pembangunan dimitoskan Presiden Soeharto sebagai Juru Selamat, dngan menyandang gelar “Bapak Pembangunan”, “Jenderal Besar”.

Agar dapat mengatasi disintegrasi bangsa dimitoskan Gus Dur sebagai “Bapak Pluralisme” (Kuntowijoyo : “Mengakhiri mitos Politik”).

Di kalangan intelektual dimitoskan bahwa ilmu pengetahuan Barat sebagai sumber kemajuan, peradaban.

Para tokoh dimitoskan sebagai pembawa misi profetik (nubuwah ?), sebagai juru selamat, pembebas bangsa dan kemiskinan, keterbelakaaaaaangan, pengantar ke kesejahteraan.

Demokrasi dimitoskan sebagai pembawa kedamaian.

(Asrir BKS1010110730)

Kurikulum SD/Mi Kelas 1-3

Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, oleh Badan Standar Nasional Pendidikan ditetapkan sejumlah buku teks yang dinyaatakan memenuhi syarat kelayakan sebagai buku pegangan siswa berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 34 Tahun 2008 tanggal 10 Juli.

Siswa SD/MI kelas 1-3 pun dijejali dengan buku teks pelajaran tersebut. Anak-anak yang masih belum mengenal huruf dan angka secara baik, apalagi mengenal suku kata, kata, kalimat, operasi bilangan sudah dijejali dengan tyeks pelajaram, rangkunan dan evluasi pelajaran, yang sama sekali belum dapat dicernanya. Bahkan pelajaran bahasa asing (bahasa Inggeris) untuk SD/MI kelas 1-2 rasanya terlalu berlebihan (over acting). Sungguh tak dapat dipahami logika tentaaaaaang ini. 60-65 tahun yang lalu anak SR (SD) kelas 1-3 hanya menggunakan sabak (batu tulis). Baru di kelas 4 mulai menggunakan buku tulis dan buku teks.

Di samping itu muatan local (eperti pelajaran bahasa daerah0 dimasukan tanpa mempertimbangkan kondisi riil. Di daerah pemukiman para pendatang (seperti di wilayah Perumnas) yang siswanya hanya mengenal bahasa Indonesia tak perlu dibebani dengan pelajaran bahasa daerah.

(Asrir BKS1010110800)

Jadikan Mustika Jaya sebagai Pusat Gerakasn Dakwah wal Jihad

Dakam rangka merapatkan barisan dan mewujudkan Bakasi sebagai Kota Syuhada Bersyari’iyah diharapkan KUIB, FAPB, DDIIB merintis Mustika Jaya / Ciketing sebagai Pusat Gerakan Dakwah wal Jihad.

Meneladani Sebastian Pinera

Setiap kitaadalah pemimpin. Pemimpin di bidang masing-masing. Karena itu, siapa pun kita dan di mana pun kita(apa pun status dan posisi kita) hendaknya berupaya meneladani sikap Presiden Cile Sebastia Pinera. Berpihak kepada rakyat. Peduli akan sesame. Buang tata kerama protokoler. Sistim protokoler itu anti demokrasi, anti egalitarian, memisahkan atasan dari bawahan. Jauhkan sikap arogansi. Meneladani Sebastian Pinera tidak hanya diharapkan dari pemimpin formal. Tapi dari kita semua. Kita semua juga adalah pemimpin secara informal.

Agar dapat memiliki kepekaan dan sikap mental peduli akan sesame secara otomatis, Islam menuntun, membimbing agar biasa hidup qana’ah, zuhud, wara’. Zihid adalah sikap hidup yang giat, gesit mendapatkan kekayaan untuk kepentingan bersama, bukan hanya untuk kepentingan diri pribadi.

(Asrir BKS 1010170500 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Mengaca diri

Lagu kebangsaan Indonesia “Indonesia Raya” ciptaan WR Supratman (tak tertera dalam UUD-1945) berseru agar “Bangunlah jiwanya, bangunlah bdannya”, “Sadarlah hatinya, sadarlah budinya”, Majulah negerinya, majulah pandunya”. Pembukaan UUD-1945 mengamanahkan pemerintah untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdakan kehidupan bangsa.Pasal 33 UUD-1945 mengamanahka pemerintah agar kekayaanalam dipergunakan untuk kemakmuran rakyat.

Sudah saatnya penguasa, pemerintah melakukan instropeksi diri, mengaca diri apa yang sudah dilakukan untuk membangun jiwa-raga bangsa, untuk menghidupkan jiwa-raga bangsa, untuk menyadarkan hati-budi bangsa, untuk menyuburkan jiwa-raga bangsa, untuk memajukan negeri-pandu bangsa, untuk menyelamatkan putra-rakyat bangsa, untuk melaksanakan ketertiban umum, untuk menjamin keamanan rakyat, untuk menggunakan kekayaan alam bagi kesejahteraan, kemakmuran rakyat.

(Asrir BKS 1010181010 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Tinggalkan komentar

Filed under Culture, Islam, Morals, Social

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s