Menggugat jama’ah umat Islam

Jama’ah umat Islam

Das Sein, dalam kenyataannya, jama’ah umat Islam itu jama’ah icakicak, pura-pura, semu, sepuhan, imitasi, pseudo, artificial. Ketika melaksanakan shalat jama’ah, kondisi umat Islam tampakhnya seolah memiliki satu gerak, sat langkah yang sama. Namun safnya tak pernah rapi, tak pernah teratur, lurus, rapat. Unsur khilafiyah (perpecahan ?) tetap saja hadir dalam shalat jama’ah. Apalagi di luar shalat, antar sesame Islam saling menghujat, saling mencaci, saling membid’ahkan, saling mengkhawarijkan, saling mengkafirkan.

Das Sollen, seharusnya, jama’ah umat Islam itu jama’ah yang solid, kokoh, terpadu, bagaikan satu bangunan yang antar unsurnya saling mengokohkan, bagaikan satu tubuh yang antar unsurnya saling merasakan. Pertolongan Allah jauh dari umat yang berpecah belah, yang tak kompak bersatu.

Sumbr pepecahan (tafarruq) itu karena memperebutkan dunia (harta, kekayaan, kedudukan, jabatan, pangkat, kekuasaan, kemuliaan, kehormatan, pengaruh, pamor, sanjungan). Selama hubbud dunya wa karihatil maut dipelihara, maka mustahil terwujud persatuan yang benar-benar kompak bersatu.

Salah satu titik kelemahan umat Islam menurut M Natsir : Hobi bermusuhan. Umat Islam sangat deman (senang) punya lawan. Kalau ada musuh mereka bersatu. Bila musuh tak ada lagi mereka mencari musuh di kalangan sendiri (SUARA MASJID, No.144, 1 September 1982, hal 4). Bahkan kini, meski ada musuh, umat Islam masih saja terpecah belah.

Sekitar tahun 1966, M Natsir menulis resep “Mempersatukan Umat”, yang diterbitkan kembali pada 1983. Teori mempersatukan umat tampaknya logis rasionilhanya selama factor ekstern tetap, tidak berubah. Seruan Islam tetap saja. Berjuanglah (QS 322:78)untuk ketinggian Islam dan kaum Muslimin serta kesatuan Islam (QS 3:139). Hendaknya semua dalam satu jama’ah, satu barisan, satu front yang terorganisir rapi (QS 3:103). Kebenaran tak terorganisir rapi akan dikalahkan kebatilan rapi. Tak ada yang di luar. Punya program SMART/SWOT, dana, sarana, logistic (QS 61:4), personil, penanggungjawab, pembagian tugas, kesetiaan, loyalitas (QS 8:60). (Simak juga Ahmad Salimin Dani MA : “Perintah Merapatkan Barisan”, dalam SUARA MUSLIM, Bekasi, Edisi 26/2010/1431H, hal 23-27, rubri : “Tafsir”).

(Asrir BKS101011150730 written by sicumpaz@gmail.com sicumpas.wordpress.com)

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s