Wajah Islam masa kini

Wajah Islam masa kini
(Biang kehancuran)

Wajah Islam berubah-ubah mengikuti jaman. Adakalanya yang tinggal, yang tersisa dari Islam itu hanyalah namanya, sebutannya, predkatnya, katepenya. Yang tinggal, yang tersisa dari Qur:an hanyalah tulisannya, kertasnya, mushhafnya. Bahkan kini ada Qur:an mini, Qur:an maxi yang dipajang untuk tontonan, bukan untuk tuntunan. Juga ada lomba tilawatuil Qur:an, loba qira:atil Qur:an.

Di mana-mana masjid sering tnggal kosong melompong, tanpa berfungsi. Sekali-sekali diramaikan dengan kasidahan, nyanyian yang dikategorian religius-islamis, marawis, marhabanan, barzanjian. Dentitas keislaman diletakkan pada tongkrongan, penampilan. “Kami bersurban, maka kami beriman”. Agar tampak, terlihat Islam maka penamplan dirubah dengan memakai baju-baju “yang islami” seperti baju koko dan sarung, peci. Atribut-atribut artificial diperlukan untuk memperoleh pengakuan sebagai orang berian, orang Islam. Citra lebih penting dari kenyataan sebenarnya. Pelacur bisa tampil dengan memakai “baju sopan” berkerudung.

Baju koko, sarung danpeci bisa mengokohkan penampilan menjadi terlihat lebih beriman, lebih islami. Ramadan dan Lebaran telah menjadi komoditas. Yang sustansial berganti dengan yang artificial. Keimanan, kemusliman artificial merupakan wajah Islam masa kini (dicmot dari KOMPAS, Sabtu, 4 September 2010, hal 2, “Kami Bersurban, maka Kami Beriman”, oleh Agus Noor),

Ramadhan cenderung selebritis. Agama menjadi sarana untuk menampilkan kemuliaan diri melalui tayangan televise dan media lainnya. Ibadah menjadi budak nafsu untuk memuaskan kepentngan pribadi, kelompo, industri. Puasa menjadi budak kultur konsumtif yang cenderung hedonistis (Simak antara lain KOMPAS, Sabtu, 21 Agustus 2010, kolom 12 “Teroka : Puasa dan Kearifan Perempuan”, oleh Abidah elKalieqy; PARAS, No.37, Oktober 2006, hal 32-33).

Indikasi Islam hanya tinggal statusnya dan Qur:an tinggal naskahnya dapat dilacak, ditelusuri dalam hadis-hadis tentang biang kehancuran, antara lain dari sikap mental, prilaku umat Islam ang berpaling dari, ang meninggalkan Islam seperti berikut :

Meninggalkan, menyia-nyiakan, meremehkan, mengabaikan, melecehkan shalat. Mengumbar, memperturutkan syahwat, nafsu. Berbuat khianat, curang, mengabaikan amanah.Menganggap amanat sebagai ghanimah. Curang dalam berbisnis. Meminum-minum khamar. Saling menghujat. Menghujat dengan praduga. Berburuk sangka. Erbuat onar. Mengotori hukum dengan suap, sogok. Memanpulasi riba jadi jual beli. Meninggakan hidup qana’ah. Berpasangan dengan sejenis. Meyebar zna, pelacuran, prostitusi. Melegalisir prostitusi. Gemar berbuat kebatilan. Memandang wajar perpecahan. Bergelimang kemewahan. Bergelimang maksiat. Memanipulasi yang batil jadi yang sahih. Memanipulasi ang dsta jadi yang benar. Memanipulasi yang tercela jadi ang terpuji. Memaniplasi kesesatan jadi petunjuk, Memanipulasi yang terang jadi yang samar. Memanipulasi pengetahunan jadi kejahilan. Menganggap kekuasaan sebagai keuntngan. Mengaggap zakat sebagai pajak. Memposisikan isteri sebagai kepala rumah tangga. Mendurhakai ibu bapa. Memposisikan ibu bapa sebagai pembantu. Berisik dalam massjid. Berbusana tetapi telanjang. Berhukum dengan hukum thagut. Dan lain-lain.

(Asrir BKS1009051700 written by sicumpaz@gmail.com)

Karnaval Ramadhan Dari Tahun Ke Tahun

Ramadhan menyimpan ragam keistimewaan. Keistimewaan Ramadhan hanya terlihat dari : kepuasan berbuka, dan romantisme tarawih brsama. Tahun berganti tahun, namun puasa tak meningkatkan olah batin kita. Tingkat pengalaman keagamaan (religious experience), apalagi tingkat kesadaran keagaman kita (religious conscious) tetap saja seperti tahun-tahun yang lalu, bahkan mungkin menurun.

Setiapa tahun Ramadhan hadir menyediakan paket yang kental dengan santapan rohani : puasa, tarawih bersama, lailatul qadr, kmbali kepada kesucian (idul fitri).

Paket rohani Ramadhan selalu dikmas oleh keistimewaan berkategori budaya. Yang muncul hanyalah “panggung teater, karnaval, atau pertunjukan ibadah”, yang mementingkan gebyarnya, warna-warna menyoloknya, sound effectnya, tampilan visualnya, dan sebagainya. Agama dijadikan sebagai sarana untuk menampakkan kemuliaan diri melalui layer televise dan media lainnya.

Yang tampil hanyalah “arena teater”. Aktornya bias pejabat, artis, hartawan dengan acara begitu meriah, glamour. Dengan acara buka puasa bersama, sahur off the road bersama anak jalanan, punk, pelacur, hingga pembagian zakat kepada fakir miskin. Para seleberitis, wadam, pelacur yang biasa tampil seksi di televisi mendadak memakai kerudung, semacam Cut Tari yang lagi dirundung pembuatan/penyebaran video porno. Semua berbondong-bondong memenuhi majelis taklim.

GerakRamadhan didukung oleh berbagai industry, media massa, dan stasiun televise. Mereka berpacu memanfa’atkan momen Ramadhan untuk meraih keuntungan seanyak-banyaknya. Ramadhan dijadikan komoditas berciri kapitalis. Acaranya, gayanya, orangnya, bahkan sosok da’inya tetap saja itu ke itu tak berubah ke yang positip.Susah untuk berhusnuz zhann, berpositive thingking terhadap para da’i yang akrab tampil bersama para seleberitis di televisi.

Penguasa, pedagang sibuk memoles barang dagangannya dengan label-label Islam. Masyarakat semakin komsumtif, sibuk menghamburkan anggarannya.

Dari tahun ke tahun, puasa Ramadhan hanya sekadar gerak rutin dan tren kegairahan beragama, tak memberikan nilai transformatis kepada diri kita dan masyarakat.

Ibadah hanya bagaikan gerak tanpa jiwa. Salat tanpa getaran hati. Masjid hanaya sebagai tempat saluran penyerahan dana zakat fitrah. Haji dan umrah sebagai paket wisata. Usai Ramadhan tak ada bekasnya. Ibadah menjadi buda nafsu untuk memuaskan kepentngan pribadi, kelompok, industri. Puasa menjadi budak kultur konsumtif yang cenderung hedonistis. Ramadhan cenderung selebratif. (Dipetik dari PARAS, No.37, Oktober 2006, halamana 32-33; simak juga “Sisi lain dari ‘optimisme’ Perkembangan Islam”, oleh Abu Afzalurrahman, dalam ALMUSLIMUN, No.198, September 1986, halaman 63-76; SUARA MASJID, 1 September 986, halaman 51-57; PANJI MASYARAKAT, No.38, 1 Januari 1978, halaman 31, “Tafsir AlAzhar”, juzuk XXVIII, halaman 185, KOMPAS, Sabtu, 21 Agustus 2010, hal 12, “Teroka : Puasa dan Kearifan Perempuan”).

Pengelola televise memosisikan Ramadhan layaknya komoditas. Unsur Islami ditempatkan sebagai kemasan belaka. Lelucon yang ditayangkan saat sahur atau menjelang berbuka puasa sering mengarah kepada dialog yang jorok atau cabul. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pernah mencatat 50 judul sinetron yang mengambil tema mistis dan kekerasan yang ditayangkan. Teguran KPI kalah keras dengan upaya penyiaran untuk mendapatkan profit sebagai dampak kapitalisme yang meenganuti lembaga. Demikian menurut Sunarto, dosen Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Komunikasi UI (SUARA AISYIYAH, No.10, Oktober 2007, halaman 35).

Berapa banyak dibacakan kepada kita ayat-ayat alQur:an namun hati kita bagaikan batu atau bahkan lebih dahsyat lagi. Betapa Ramadhan telah datang kepada kita silih berganti sementara kondisi kita laksana oraaaaaang-orang yang sengsara. Tak ada pemuda di antara kita yang meninggalkan perbuatan buruk lalu bergabung bersama mereka yang suci dari dosa (Ibnu Rajab al Hambali : “Mutiara Ramadhan Yang Teabaikan:, 2005:93).

(Asrir BKS0709260800)

Evaluasi efektifitas dakwah

Fakta yang tampak dipermukaan bahwa syi’ar agama terasa meningkat. Evaluasi terhadap fakta ini perlu dilakukan.

Media elektronika. Berapa jumlah pemirsa televisi yang mengikuti mimbar Islam, kuliah Ramadhan, kuliah Subuh (Mutiara Subuh, Hikmah Pagi, Hikmah Fajar, Diambang Fajar) ? Berapa jumlah pemirsa Muslim yang telah dibina, diIslamkan melalui Dakwah Televisi ? Berapa jumlah pemirsa Non-Muslim yang telah diIslamkan melalui Dakwah Televisi ? Seberapa jauh dampak dakwah terhadap pola dan tayangan televisi ? Berapa jumlah infak da’i televisi bagi perkembangan dakwah dan peningkatan hidup rakyat melarat ?

Media cetak. Berapa jumlah pembaca yang tertarik akan buku-buku tentang Islam ? Berapa jumlah pembaca Muslim yang telah diIslamkan melalui buku-buku Islam ? Berapa jumlah pembaca Non-Muslim yang telah diIslamkan melalui buku-buku Islam. Seberapa jauh dampak dakwah melalui buku-buku Islam terhadap pola pikir dan tingkah laku. Berapa jumlah infak penerbit buku-buku Islam bagi perkembangan dakwah dan peningkatan rakyat melarat.

Dakwah tatap muka. Berapakah jumlah peserta taklim. Berapa jumlah peserta taklim yang telah berhasil dibina, diIslamkan. Berapakah jumlah tambahan peserta taklim setiap tahun ? Berapa jumlah tambahan jama’ah shalat subuh tiap tahun ? Berapa jumlah tambahan jama’ah Jum’at tiap tahun ?

Nahi Munkar. Berapa jumlah pengurangan tingkat tindak kejahatan tiap tahun (perkosaan, pelaccuran, pengguguran, kumpul kebo, penodongan, pembantaian, perampokan, penyiksaan, perjudian, dll) ?
(Menyoal efektifitas dakwah dalam mengantisipasi perkembangan dakwh Islam seperti dikemukakan dalam ALMUSLIMUN, No.198, halaman 65, 76)

(Azrir BKS0008171700 written by sicumpaz@gmail.com)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s