Ibadah membentuk kejujuran

Ibadah membentuk kejujuran

Ada alanya shalat kita batal. Yang tahu hanya kita sendiri. Orang lain ta tahu. Namun kita akan mengulangi shalat kita ang batal itu, meskpun orang lain tak taku penyebab kebatalannya. Ha ini karena ada kejujuran dalam diri.

Ketika puasa, adakalanya kita punya kesemepatan untuk makan, minum atau bercampur dengan isteri/suami, namun kita ta melakukannya, meskipun orang lain tak ada yang tahu, tak menyaksikannya. Hal ini karena ada kejujuran dalam diri.

Ketika berihram (haji atau umrah), adakalanya kita punya kesempatan menangkap hewan buruan, namun kita tak melakukannya, meskipun orang lain tak adayang melihatnya. Sematamata hanya karena takut melanggar aturan Allah, karena percaya bahwa Allah tetap melihatnya. Hal ini karena ada kejujuran dalam diri.

Dalam perlawatannya ke Amerka sekitar tahun 1952, Hamka (ketika itu baru bersia 44 tahun) ketika menginap di sebuah hotel di Denver ditawari seorang perempuan muda untuk menemani tidurnya, namun Hamka menolaknya, meskipun tak akan ada orang lain yang tahu. Hal ini karena ada kejujuran dalam diri (Simak antara ain Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar:, juzuk VII, Panji Masyarakat, 1982:62-63; juzu XXI, Pustaka Panjimas, 1982:5-6).

Kejujuran dalam terminology Islam adalah amanah. Lawannya adalah khianat, curang. Jujur adalah sifat terpuji. Lebih terpuji lagi pada penguasa Penguasa yang jujur itulah yang jadi idaman masyaraat beradab.

(Asrir BKS1008070600)

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s