Privasi dan Hak Publik

1 Privasi dan Hak Publik

Hubungan intim antara suami dan isteri di ruang tertutup bersifat privasi. Siapa pun tak boleh tahu. Hubungan intim bukan antara suami dan isteri bukanlah bersifat privasi. Siapa pun berhak tahu. Hubungan intim antara suami dan isteri di ruang terbuka bukanlah bersifat privasi, tetap konsumsi publik. Hubungan intim bukan antara suami dan isteri di ruang terbuka bukanlah bersifat privasi, tetapi konsumsi publik.

Hubungan intim di rang terbuka yang dilakukan oleh siapa pun layaknya sebagai perilaku hewan. Hewan sama sekali bebas dari sanksi hukum. Manusia yang berperilaku sebagai hewan pun bebas dari sanksi hukum. Sanksi hukum hanya untuk manusia yang manusia.

Pamer aurat (buka dada, buka pusar, buka punggung, buka paha) adalah perbuatan nyerempet-nyerempet porno, taqrabuz zina, mengundang selera, mata publik ramai-ramai untuk mengusap, mengelus yang terbuka itu(Simak antara lain Emha Ainun Nadjib : “Surat Kepada Kanjeng Nabi”, Mizan, 1997:43,”Dehumanisasi Wanita”, dari WAWASAN, 1 Mei 1991).

Islam melarang siapa pun untuk berperilaku sebagai hewan, nyerempet-nyerempet porno, taqrabuz zina. Islam sangat mencela perbuatan mujaharah, membuka hal yang merupakan rahasia pribadi (Simak antara lain HR Bukhari, Muslim dari Abi Hurairah tentang “Larangan Membuka Rahasia Sendiri”, dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, tafsiran ayat QS 24:19). Islam sangat mencela perbuatan mengintip-ngintip.”Siapa yang gemar mengintip rumah orang – tanpa seidzin pemilik rumah – maka terhadap pemilik rmah itu bebas dari ‘hukum qisas’ apabila mengorek mata ‘si pengintip’”. Islam sangat mencela perbuatan “selalu ingin tahu persoalan orang” (Simak Khalid Muhammad Khalid : “Kemanusiaan Muhammad”, Progressif, Surabaya, 1984:90).

Disebutkan bahwa hukum itu adalah peraturan, norma, kaidah untuk tata hidup kemasyarakatan. Jadi hukum itu berperan sosial, uuntuk menata, menertibkan, mengamankan kehidupan masyarakat agar tak terjadi keresahan, kerusuhan, kegelisahan dalam masyarakat (Simak antara lain Mr Alfred Hoetaoerroek dkk : “Garis Besar Tatahukum Indonesia’, Erlangga, Djakarta, 1961: 6; Mr Soemntardjo dkk : Tata Hukum Indnesia” , Pembimbing, Djakarta, 19551:13)

Tindak pidana bisa dipandang dari sudut juridis dan sosiologis. Dari sudut pandang sosologis, maka tindak pidana adalah perbuatan yang merugikan secara ekonomis, yang mergikan secara psikologis, yang merugikan norma moral (Simak Sidik Soeriadiredja : “Kriminologi”, Politeia, Bogor, 1955:7).

Persoalan hukum memiliki sanksi hukum dalam hukum posistif, dalam hukum di dunia. Persoalan moral, juga persoalan sosial tak memiliki sanksi hukum di dunia. Sanksinya hanya sanksi moral, sanksi sosial di dunia. Barulah nanti di akhirat mendapat sanksi hukum dari Hakim Yang Maha Adil.

Biasanya persoalan hukum diselesaikan di dalam sidang pengadilan. Namun ada yang luput dalam sidang pengadilan, yaitu penegakkan keadilan antara individu dan masyarakat, antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat, antara kebebasan individu dan kebebasan masyarakat. Hak-hak masyarakat yang ta boleh dilanggar individu. Setiap individu bebas dala batas-batas hak masyarakat (Dalam hubungan ini simak pula antara lain A Lysen :”Individu en Gemeenschap”, 1946).

Publik berhak mendapatkan ajaran, informasi, tontonan, tayangan yang baik danbenar. Pencemaran, penodaaan, penistaan agama dan penyebaran aliran sesat adalah pelanggaran hak publik. Aktivitas cabul, mesm, pornografi, pornoaksi juga adalah pelanggaran hak publik, tak bisa berlindung, bersembunyi di balik privasi.

Freud menyalahkan norma agama, norma moral, norma etika, norma social yang menyebabkan terjadinya pornografi, pornoaksi, karena tidak memberikan kebebasan penuh bagi penyaluran naluri seksual (Simaak antara lain Muh Quthub : “Jawaan Terhadap Alam Fikiran Barat Yang Keliru Tentang AlIslam”, Diponegoro, Bandung, 1981:178, dari “AlInsan bainal Maadiyah wal Islam”. Seluruh tindakan yang meresahkan publik, baik fisik maupun psikis haruslah dipidana.

(Asrir BKS1006150600)

2 Himbauan kepada Da’i

Diharapkan kepada ustadz, ustadzah, muballigh, muballighat, da’i, penceramah, terutama yang rutin tampil di tayangan televise agarpro aktif menyeru pemilik, pengelola televise untuk tidak menayangkan acara yang nyerempet-nyerempet porno (taqrabuz zina) seperti adegan pamer aurat (buka dada, buka punggung, buka paha), sexappealbebas, sengol-senggolan, cium-ciumn, dekap-dekapan, rangkul-rangkulan, peluk-pelukan, minum-minuman. Semua itu adalah kenikmatan hewani (Simak Sayid Quthub : “Masyarakat Islam”, AlMa’arif, Bandung, 1983:12; Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, Panjimas, 1984:245).

(BKS1006121130)

3 Era Globalisasi

Dalam era globalisasi masa kini, sekat-sekat kewilayahan sudah sangat kabur. Hampir tak nyata lagi batasantara negar mereka dengan Negara kita. Batasnya hanya dalam skala maya. Bahkan dunia ini seluruhnya adalah daerah pertempuran, wilayah pertarungan, daarul harbi.Pertarungan ideology, politik, ekonomi, social,budaya, militer.

Dari sudut pandang Islam kaffah, dunia sekarang ini adalah lading jihad fi sabilillah melawan thagut,khannas dalam berbagai wujud, bentuknya.

(BKS1006061400)

4 Posisi jihad

Jihad fisabilillah adalah amal utama setelah iman, shalat, berbakti kepada orang tua. Jihad fi sabilillah lebih baik dari keuntungan dunia seisinya. Jihad fi sabilillah lebih utama dari shalat 70 tahun di rumah.

Posisi, kedudukan jihad itu di bawah urutan berbakti kepadaorang tua.Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud keutmaan jihad fi sabilillah itu sesudah urutan berbakti kepada orang tua (Simak “Riadhus Shalihin” Imam Nawai, bab Jihad). Dan dari Abdullaha bin Amr bin Al’Ash bahwa berbakti kepada orang tua itu lebih diperuoritaskan dari jihad fi sabilillah (idem, bab “Bakti ta’at kepada orang tua)

(Bks1006060830)

5 Bersatu tegun, bewrcerai runtuh

Pemerintah SBY adalah sekutu Amerika Serikat dan Israel.

PBB adalah alat Amerika Serikat dan Israel.

Rakyat Indonesia mendukung perjuangan Palestina.

Palestina terdiri dari berbagai fraksi yang saling bertikai.

Israel dan sekutunya mempersiapkan berdirinya Kerajaan Yahudi Raya yang menguasai seluruh dunia.

Yang lemah selalu menjadi bulan-bulanan yang kuat.

Kekuatan itu terletak pada persatuan, kekompakan.

Patut juga disadari bahwa Israel adalah anak haram hasil perselingkuhan, hubungan gelap Amerika Serikat, Inggeris, Perancis, Rusia. Bahwa strategi Yahudi/Israel/Zionis adalah bertujuan untuk menguasai dunia dengan mendirikan kerajaan Yahudi Raya dengan raja, pucuk pemerintahannya dari keturunan David dan penasehat kerajaan dari pemuka-pemuka Yahudi (Kerajaan King David). Caranya dengan kekuatan, kekuasaan, paksaan, ancaman, infiltrasi, penyusupan, provokasi, intimidasi, manipulasi, pemutarbalikkan fakta. Semua boleh dilakukan. Tujuan menghalalkan segala cara.

6 Menghadapi aliran sesat

Ahmadiyah dan aliran sesatlainnya, termasuk Yahudi, Nasarani, Majusi, semuanya adalah objek dakwah. Menjadi tugas, kewajiban para ajengan, kiyahi, ustadz, muballigh, da’i untuk menyeru, mengajak mereka ke jalan yang benar. Tak ada contoh, teladan untuk menggunakan tangn penguasa, minta bantuan penguasa, apalagi penguasa zalim dalam masalah ini. Bahkan penguasa, terutama penguasa zalim pun termasuk ke dalam kategori objek dakwah. Bagaimana bisa minta bantuan penguasa, sedangkan penguasa itu telah melakukan maker terhadap kesucian agama Islam dan melukai hati umat Islam.

Juga menjadi tugas,kewajiban para da’i untuk menerangkan, menjelaskan kesesatan aliran sesat tersebut. Termasuk juga menerangkan, menjelaskan tindak mkar, tindak kejahatan yang telah dilakukan oleh penguasa, terutama oleh densus 88 terhadap Islam dan umatnya.

Para da’i sebagai pelanjut risalah, sebagai warisatul ambiyaa haruslah berupaya secara optimal, maksimal. Mohonkanlah bantuan Allah, jangan mengharapkan bantuan penguasa. Serahkanlah semuanya pada Allah. Ikutilah contoh, teladan yng telah ditinggalkan oleh Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nbi Musa, Nabi Muhammad saw. Senjata Mukmin adalah sabar, hijrah, jihad. Tak ada cengeng, mint bantuan penguasa.

Dalam masalah akidah,keyakinan, kepercaaan sama sekali tak ada paksaan. Islam memberikan kebebasan mutlak. Yang mau beriman silakan. Yang tetap kafir silakan. Tak adapaksaan sama sekali. Aliran sesat bebasdalam kesesatannya. Kekeliruan, kesesatan dalam akidah, keyakinan, kepercayaan tak bisa diadili, dihukum di dunia. Nanti Allah akan mengadili kita semuanya di akhirat.

Tindak kejahatan, tindak maker, siapa pun yang melakukannya haruslah dicegah, ditumpas secaraoptimal, maksimal. Bahkan segala aktivitas yang nyerempet-nyerempet menjurus kea rah perbuatan maksiat, munkar, jorok haruslah dicegah sedini mungkin.

(Asrir BKS1006150600)

7 Kita ini umat pecundang

Di mana-mana kita dijadikan bulan-bulanan oleh musuh-musuh kita. Sudah sunnatullah bahwa yang lemah selalu menjadi bulan-bulanan yang kuat. Di Irak, Afghanistan, Pakistan, Sudan Somalia, Aljazair dan di negeri-negeri Muslim lainnya, kita, umat Islam diinjak-injak, dipereteli olaha Amerika Serikat dan sekutunya. Relawan kemanusiaan pembawa bantuan penolong Palestina dihadang, ditembaki oleh tentara Israel. Umat Islam sedunia tak berbuat Apa-apa, selain mengecam, mengutuk. Benar-benar jadi umat pecundang.

“Serangan, pukulan hebat terhadap negeri-negeri Muslim” tak mampu membangunkan, membangkitkan, mendorong “kaum fanatic Islam berbondong-bondong menangkisnya” seperti dikhawatirkan oleh Jenkins (Simak antara lain Noam Chomsky : “Maling Teriak Maling : Amerika Serikat Sang Teroris ?”, 2001:XVI, wawancara).

Patut juga disadari bahwa Israel adalah anak haram hasil perselingkuhan, hubungan gelap Amerika Serikat, Inggeris, Perancis, Rusia. Bahwa strategi Yahudi/Israel/Zionis adalah bertujuan untuk menguasai dunia dengan mendirikan kerajaan Yahudi Raya dengan raja, pucuk pemerintahannya dari keturunan David dan penasehat kerajaan dari pemuka-pemuka Yahudi (Kerajaan King David). Caranya dengan kekuatan, kekuasaan, paksaan, ancaman, infiltrasi, penyusupan, provokasi, intimidasi, manipulasi, pemutarbalikkan fakta. Semua boleh dilakukan. Tujuan menghalalkan segala cara.

Umat islam itu tak akan hancur karena bencana kelaparan yang berkepanjangan, karena dikuasai oleh musuh Islam, tapi akan hancur karena kekuatan dari dalam sendiri. Pertolongan Allah terhalang oleh karena perpecahan ummat. Segala perjuangan umat Islam yang dilakukan tidak menggunakan Islam sebagai caa, program dan perjuangannya tidak akan mendapatkan pertolongan Allah (ESTAFET, No.36, Th.IV, Oktober 1988, hal 32, “Berita Kehancuran Yahudi”).

Rasulullah menyampaikan, bahwa “Jika allah sudah menentukan suatu ketetapan, maka ketetapan itu tidak dapat dibatalkan, bahwa Allah tidak akan membiarkan umat Islam dikuasai oleh musuh mereka, kecuali kalau d antara umat Islam sendiri timbul pertentangan,sehingga satu sama lain saling menghancurkan” (Simak “Tafsir Ibnu katsir”, jilid II, hal 144, “Zaadul Mi’ad”, jilid I, hal 90).

Rasulullah bersabda : “Aku meminta Allah agar tidak menimpakan perpecahan kepada kami, tetapi Dia menolak permintaanku itu” (HR Ahmad dari Khabbab bin Arits, dalam Tafsir Ibnu katsir, jilid II, hal 144). “Kalau Aku (Allah) sudah menentukan suatu keputusan, maka keputusan itu tidak dapat dibatalkan” (HR Muslim dari Tsauban, dalam “Bersihkan Tauhid anda Dari Noda Syirik”, 1984, hal 83, oleh Muhammad bin Abdul Wahhab).

“Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, mereka digoncangkan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang bersamanya : ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah ?” (QS 2:214).

“Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS 13:11).

(Asrir BKS1006010930)

8 Kemenangan Sekularisme, Pluralisme, Liberaisme, Inklusivisme

Iblis, setan, khannas berwujud manusia berhasil mendorong, menggiring kalangan Nahdiyin ke dalam parpol terbuka (sekuler, plural, liberal) PKB, menggiring kalangan Muhammadiyah ke parpol terbuka PAN, menggiring Majlis Taklim ke dalam Parpol terbuka PKS. Kini tak ada lagi yang berkeinginan, berupaya tegaknya Hukum Islam. Semuanya di bawah kendali Hukum Iblis.

Politisi Mahfudz Sidik dari PKS dalam TARBAWI, Edisi 182, 3 Juli 2008, halaman 50-52, secara mempesona, memukau menggiring pembaca masuk ke dalam jaring Pluralisme, Liberalisme, Inklusivisme dengan menggunakan kaidah-kaidah ushul fiqih secara manipulatif. PKS, PAN, PKB menolak Islam sebagai dasar ormas, parpol, negara.

(Asrir BKS1004291730)

9 Umat Islam Umat Pecundang (Korban Provokasi Terroris Global)

Kondisi Umat Islam dimana-mana adalah sebagai bangsa pecundang, bukan sebagai bangsa pemenang. Padahal umat Islam itu seharusnya (das Solen) adalah umat yang super (QS 3:139, 47:35). Namun nyatanya (das Sein), di Aljazair, di Sudan, di Somalia, di Bosnia, di Palestina, dan di lain-lain tempat, umat Islam jadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam yang dikomandani oleh kapitalis Barat (ghalabatir rijaal). AlQaeda, Taliban, Jama’ah Islamiyah, Majelis Mujahidin, Front Pembela Islam, Laskyar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah jadi bulan-bulanan musuh-musuh Islam. Media massa semacam koran PELITA, PANJI MASYARAKAT tak lagi menyuarakan Islam. Nanti, koran REPUBLIKA, SABILI bisa saja menyusul. Umat Islam lemah dalam segala hal. Lemah dalam information war, psy-war, ghazul fikri. Tak mampu melakukan tugas menangkis tudingan lawan dengan cara-cara yang paling baik (QS 18:125, 29:46), jitu. Sebaliknya, kapitalis Barat dengan jaringannya sebagai Sang Provokator amat piawai membangun, menggarap opini publik. Gencar menggarap opini publik, bahwa Irak (dengan Saddam Husseinnya) memproduksi senjata kimia pemusnah massal. Gencar menggarap opini publik, bahwa Taliban dan AlQaeda (dengan Osama bin Ladinnya) adalah terroris, pelaku serangan terror di Washington dan New York pada 11 September 2001. Gencar menggarap opini publik, bahwa Jama’ah Islamiyah dan Majelis Mujahidin (dengan Abu Bakar Baasyirnya) adalah terroris, anggota jaringan AlQaeda, otak pelaku Tragedi Bali 12 Oktober 2002. Umat Islam tak memiliki kemampuan untuk mengcounter (wa jadilhum billati hiya ahsan) tudingan lawan itu. Juga lemah dalam arena phisical-war. Lemah secara ideologis (imaana) dan secara fisik (Ihtisaaba). Lemah dalam kualitas dan kapasitas. Padahal untuk menghadapi lawan (musuh) haruslah (das Sollen) dengan menyiapkan kekuatan yang dapat menggentarkan lawan (musuh) yang nyata dan lawan yang tak nyata (QS 8:60). Dengan semangat berkobar-kobar, dengan kesabaran (ketahanan) tinggi, dengan pimpinan Muhammad Rasulullah, maka pasukan Islam dapat mengalahkan musuh (lawan) yang sepuluh kali banyaknya (QS 8:65), setidaknya dapat mengalahkan musuh (lawan) yang dua kalibanyaknya (QS 8:66). Setelah Muhammad Rasulullah sudah tidak ada lagi, setelah semangat tak berkobar-kobar lagi, setelah kesabaran sudah tak ada lagi, maka (das Sein) tak ada tercatat dalam sejarah, pasukan Islam yang dapat mengalahakan lawan yang lebih besar jumlahnya dari pasukan Islam. Kini, umat Islam tinggal sebagai bangsa pecundang. Tak punya pimpinan pemersatu ummat. Tak punya kekuatan ideologi (akidah), organisasi (jama’ah), displin (bai’ah, nizhamiyah), logistik (perangkat lunak dan perangkat keras). Dimana-mana, umat islam tak lagi berlindung, bernaung dibawah kekuasaan Allah, dan tak lagi berlindung, bernaung dibawah kekuasaan penguasa Islam, tak lagi berpegang pada hablum minallah wa hablum.

Umat Islam pernah jaya, dihormati, dihargai orang, disegani, diperhitungkan lawan. Sehingga orang semacam Simon Jenkins (korespenden London Times) merasa khawatir “serangan hebat terhadap negara-negara Muslim” akan mampu memicu., mendorong “kaum fanatik berbondong-bondong mendukung Osama bin Laden” (Noam Avran Chomsky : “Maling Teriak Maling :Amerika Sang Teroris?”, 2001:XVI). Karena Islam dipandang oleh orang semacam Washington Irving sebagai suatu ajaran yang mendorong sekelompok tentara yang bodoh tidak berpengalaman menyerbu secara buas ke medan perang, dengan keyakinan bahwa kalau hidup mendapat rampasan, kalau mati mendapat surga (Muhammad Husein Haekal : “Sejarah Hidup Muhammad”, 1984:693). Demikianlah tafsiran, interpretasi orientalis tentang “‘isy kariman au mut syahidan”.

Namun kemudian umat Islam pernah pula tak berjaya, tak dihormati, tak dihargai orang, tak disegani, tak diperhitungkan lawan (khauf). Umat Islam susdah dilecehkan, dihinakan lawan (ditimpa dzillah, kehinaan luar biasa), kehilangan ‘izzah (kemuliaan), tidak lagi memliki kekuatan apa pun, meskipun jumlahnya masih mayoritas. Sampai-sampai orang semacam Marshal Lord Allenby (wakil sekutu : Inggeris, Perancis, Italia, Rumania, Amerika) sesumbar pongah berteriak histeris di kuil Sulaiman di Yerusalem, pada akhir Perang Dunia Pertama, ketika kota itu ditaklukkan, didudukinya tahun 1918 “Sekarang Perang Salib sudah selesai” (“Sejarah Hidum Muhammad”, 1984:260,731, “Rencana Barat Menghancurkan Islam”, hal 16). Si pengigau (delirium) Bush kecil (George Walker Bush) tak gentar sama sekali mengikis habis sisa-sisa simbol Islam dengan dendam Salib meluncurkan demokrasi dengan rudal ke Irak.

Umat Islam kini sudah sama dengan umat lain, tak beda lagi dengan umat lain, tak lagi punya identitas (isyhadu bianna Muslimin). IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB umat Islam tak beda dengan umat lain. Hal ini disebabkan karena umat Islam masa kini mengidap demam “wahnun (lemah semangat memperjuangkan Islam, tak punya motivasi memperjuangkan Islam), cinta dunia (lebih berorientasi pada kehidupan duniawi dari pada ukhrawi, lebih berorientasi pada kepentingan diri pribadi daripada kepentingan bersama, lebih cinta pada harta, kekayaan, pangkat, jabatakn, kedudukan, kekuasaan, ketenaran daripada Allah dan RasulNya serta berjihad fi sabilillah), panjang angan-angan (terlalu banyak mempertimbangkan risiko memperjuangkan Islam), takut mati (tak berani berjihad memperjuangkan Islam, tak berani menghadapi risiko stigmatisasi, lebelisasi, cap radikal, fundamentalis, teroris). Padahal umat Islam diperintah untuk lebih cinta pada Allah dan RasulNya serta berjihad di jalan Allah dari pada cinta akan harta, kekayaan, pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan, ketenaran, sana-keluarga, bangsa, negara, tanah air (simak antara lain QS 9:23-24).

Rasulullah saw dan para sahabat di dakam usaha membangun umat sering mempringatkan bahwa perkembangan sejarah membawakan perkembangan pasang-surut dan pasang-naik. Rasulullah mengingatkan, bahwa nanti akan datang suatu masa, yang pada waktu itu umat Islam bagaikan buih yang terapung-apung di atas air. Dianggap enteng oleh orang lain, meskipun mereka banyak, mayoritas. Tak ada rasa segan atau gentar di hati orang yang melihatnya. Hal ini disebabkan di dalam ahti umat Islam bersarang dan berkembang virus “wahn”, yaitu penyakit cinta, rakus dunia, dan takut mati (M Natsir : “Masjid, Qur:an, Disiplin”, AlMunawwarah, KH Firdaus AN : “Detik-Detik Terakhir Kehidupan Rasulullah”, 1983:134, Hadits dari Tsauban, riwayat Abu Daud, nno.3745).

Tinggalkan komentar

Filed under Islam, Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s