Dari Teologis Ke Sosiologis


Pemahaman ajaran Islam, pesan Qur:an secara teologis hanya akan meningkatkan kepekaaan spiritual, amal shaleh (hablum ninallah) saja dan mengabaikan kepekaan social, amal social (hablum minanas). Peningkatan kepekaan spiritual, amal shaleh yang tidak disertai dengan peningkatan kepekaan social, amal social, dikategorikan, diklasifikasikan sebagai pendusta, tak percaya akan hari akhirat.
Dari ayat QS 107:1-7 dipahami bahwa amal shaleh haruslah disertai dengan amal social. Yang menghardik anak yatim, yang tidak menganjurkan member makan orang miskin, digolongkan sebagai orang yang mendustakan agama, yang tak beriman akan hari akhirat. Yang shalatny lalai, yang berbuat riya, yang enggan menolong, digolongkan sebagai orang yang celaka.
Dari ayat QS 69:33-37 dipahami bahwa amal shaleh itu haruslah disertai dengan amal soosial. Yang dibenamkan dalam api neraka yang menyala-nyala, dengan kondisi tubuh terbelenggu, terbelit rantai adalah yang tidak beriman kepada Allah, yang tidak mengajak orang member makan orang miskin
Dari ayat QS 89:15-20, dipahami bahwa amal shaleh ituharuslah disertai dengan mal social. Yang dibatasi rezekinya adalah yang tidak memuliakan anak yatim, yang tidak mengajak membri mkan orang miskin, yang mencampurbaurkan yang halal dengan yang bathil, yang berlebih-lebihan mencintai harta benda.
Dari ayat QS 4:36, dipahami bahwa amal shaleh itu haruslah disertai dengan amal social. Perintah mentauhidkan Allah (menyembah Allah dan tidak mempersekutukan Allah) disertai dengan dengan perintah berbuat baik, berbuat ihsan kepada sesame, kepada ibu bapa, karib kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga, teman sejawat, anak jalanan, orang-orang yang tak merdeka.

Sudah sa’atnya ungkapan-ungkapan yang bersifat teologis (religius, transcendental), yang abstrak pada akal, yang hanya dapat diimani, agar dapat disampaikan, dikemas, diproyeksikan, dikonversikan, diterjemahkan dalam ungkapan-ungkapan yang bersifat sosiologis (bahasa sosial-ekonomi, bahasa sosial-politik, bahasa sosial-budaya) yang konkrit pada akal, sehingga dapat dipahami (Ahlul Irfan SPd MM : “Dari Theologis Ke Sosiologis”, Buletin NADZIR, Edisi 5, Mei 2001).

Ungkapan Teologis mencintai Allah dan Rasul-Nya” (QS 3:31) yang abstrak pada akal, agar diproyeksikan, dikonversikan, diterjemahkan ke dalam ungkapan sosiologis “mencintai, menyantuni, memperhatikan kepentingan publik (orang banyak, orang melarat, orang terlantar) yang konkrit pada akal (QS 107:1-3, 9:60, 2:177, 3:92, 8:41).

Sabilillah, proyeksinya, konversinya, refleksinya adalah kepentingan publik (Abul A’la al-Maududi : “Dasar-Dasar Islam”, 1984:190-191). Tapi publik (orang banyak) bukanlh Allah dan Rasul-Ny. “Sesungguhnya di hari kiamt nanti Allah berfirman : Wahai nak Adam, Aku minta makanan kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberiKu makanan. Tahukah engkau, wahai anak Adam, sesungguhnya hambaKu si Fulan itu meminta makanan kepadamu, tetapi engkau tiaa memberinya makanan. Ketahuilah, bila engkau memberinya makanan, maka engkau mendapatkan rahmat keridhan di sisiKu (Hadits Qudsi riwayat Muslim dari Abi Hurairah).

Ungkapan teologis “kebenaran ilahiyah” (QS 2:147) yang abstrak pada akal, agar diproyeksikan, dikonversikan, diterjemahkan ke dalam ungkapn sosiologis “opini publik, pendapat umum (orang banyak dari kalangan orang mukmin) yang konkrit pada akal.

Ungkapan teologis “kedaulatan ilahiyah, kedaulatan hukum ilahiyah” yang abstrak pada akal, agar diproyeksikan, dikonversikan, diterjemahkan ke dalam ungkapan sosiologis “kedaulatan publik, kedaulatan rakyat (theo democracy, divine democracy) yang konkrit pada akal.

Ungkapan teologis “ Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum (komunitas), sehingga mereka merubah keadaan dari mereka sendiri (QS 13:11), agar dipahami dalam ungkapan sosiologis “Perubahan individu demi individu akan berujung pada perubahan kolektif” (Ahlul Irfan SPD MM : “Agen Perubahan Sosial”, Buletin NADZIR, Edisi 6, Juni 2001). Masyarakat akan makmur sejahtera, apabila setiap orang berlomba memperbaiki kehidupannya masing-masing (mengikuti metode deduksi prinsip ekonomi liberal kapitalis).

Ungkapan teologis “Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan kebahagiaanmu dari (kenikmatan) duniawi” (QS 28:76-77) agar diproyeksikan, dikonvewrsikan, dipahami dalam ungkapan sosiologis, seagai motivasi berbisnis, berusaha, agar berorientasi pada kebahagiaan akhirat, kesejahteran sosial, kepentingan bersama, bukan pada kebahagiaan duniawi, kesejahteraan individual, kepentingan perseorangan.

Ungkapan fenomena alam limbah industri dikonversikan, diproyeksikan, ditafsirkan dalam ungkapan fenomena sosial komunitas buih (QS 13:17).

Ungkapan teologis “hablum minallah” (QS 3:112) mengadakan, menjaga, memelihara hubungan dengan Tuhan, Alkhaliq (setia memenuhi, menjalankan risalah, seruan, janji Allah, takut putusnya hubungan dengan Allah, takut turunnya amarah Allah, mengharapkan keridhaan Allah, mendirikan shalat) (QS 13:19-24)) dikonversiskan, diproyeksikan, dijabarkan, ditafsirkan, diimplementasikan dengan ungkapan sosiologis “hablum minan naas” (QS 3:112) memikirkan, memperhatikan, mengupayakan peningkatan keadaan sosial-ekonomi-budaya sesama makhluk Allah (simak juga pengertian ungkapan “lita’arafu” dalam QS 49:13).

Pemicu putusnya hubungan dengan Tuhan dan insan adalah pola hidup tamak, rakus, serakah, pola hidup kikir, pelit, kedekut, pola hidup angkuh, pongah, congkak, pamer.

Ungkapan teologis amal shaleh dijabarkan dalam ungkapan sosiologis amal sosial. Banyak beramal kebajikan, beramal sosil, berbuat amal usaha operasional diberbagai bidang untuk meningkatkan taraf, martabat, mutu dan tingkat kehidupan sosial-ekonomi-budaya bersama (kemampuan dan keampuhan diri sendiri, keluarga, tetangga, bangsa, ummat, lingkungan) menurut kadar kemampuan. Memanfa’atkan sebagian rezki, penghasilan, pendapatan, kekayan, kepintaran, kesempatan, kemampuan untuk kepentingan bersama, untuk kemakmuran, untuk kesejahteraan bersama (QS 2:3). Menabur, menebar jasa. Menyebarkan berbagai kebajikan dan kebaikan bagi rahmat alam semesta (QS 21:107).

Ungkapan teologis “berbuat baiklah seperti Allah berbuat baik kepadamu” (QS 28:77) ditafsirkan dengan ungkapan sosiologis membalas kejahatan dengan kebaikan” (QS 13:22) (Prof Dr Bahrum Rangkuti : “Al-Qur:an, Sejarah, Kebudayaan”, Bulan Bintang, 1977:20-25).

Ungkapan teologis amalan dzikir ditafsirkan dalam ungkapan sosiologis amalan fikir (QS 3:191). Pengertian, ungkapan teologis ulul albab sebagai ahli dzikir dan ahli fikir (3:7-9, 3:190-195), diproyeksikan, dikonversikan, diterjemahkan dalam ungkapan ulul albab sebagai pelaku amal shaleh dan pelaku amala sosial (QS 13:19-24). Bagaimana ungkapan sosiologis dari ungkapan teologis tentang ululalbab pada QS 3:190-195.
Rasulullah menyatakan bahwa “Tidak dinamakan beriman kepadaku orang yang hari-harinya dengan kenyang, sedang tetangga di dalam kelaparan padahal ia tahu” (HR AlBazzar, dalam “Mukhtarul Ahadits AnNabawiyah”, hal 147, hadis 1016). “Tiada sempurna iman saalah seorang kamu sehingga suka kepada saudaranya sesame Muslim sebagai ia suka pada dirinya sendiri” (HR Bukhari, Muslim dari Anas, dalam “Riadhus Shalihin”, fasal “Menjunjung Kehormatan Kaum Muslimin dan Hak-Hak Mereka Serta Belas Kasihg Kepada Mereka”). Hadis tersebut dan yang semakna dengan itu mengisyaratkan bahwa iman, amal shaleh berkaitan dengan amal social.
Melaksanakan yang makruf dan meninggalkan yang munkar pun merupakan bentuk amal social. Sayyid Mujtaba Muni Lari dalam bukunya “Menumpas Penyakit Hati” (1999) membahas, mengupas tentang sikap mental negative (akhlak tercela) dari cara tekstual ke konseptual, dari cara teologis ke sosiologiss, dari teosentris ke antroposentris. Antara lain membahas, mengupas tiga sumber utama pemicu terjadinya kekacauan, malapetaka, yaitu : memperturutkan hawa nafsu, memenuhi seruan kikir, ujub-sombong-pamer diri.
Dunia intelektual Islam masa kini amat sangat miskin sekali dengan ilmuwan ekonomi sekalaibar Adam Smith, Karel Marx John Maynard Keynes, meskipun Abul A’la Maududi, Quthub bersaudara, Yusuf Qardhawi, Mustafa as-Siba’I, Zainal Abidin Ahmad pernah berbicara tentang Ekonomi, tentang Lembaga Niaga, tentang Lembaga Riba (Bank), dan sebelumnya Ibnu Khaldun, Imam Ghazali.

Sudah sangat mendesak, sangat diperlukan Diskusi Kajian Islm dan Sosial, Kajin Islam dan Budaya, Kajin Islam dan Ekonomi, Kajin Islam dan Politik secara rutin, sistimatis, berkala berkesinambungan, membahas karya tulis semacam karya Abu A’la Maududi, Quthub brsaudara, Mustafa as-Siba’I, Yusuf Qardhawi, Zanal Abidin Ahmad, dan lain-lain

Dari Teologis Ke Sosiologis
(BKS0411160630)

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s