Cara Memahami Islam

Cara memahami Islam

Sumber ajaran Islam adalah alQur:an. AlQur:an dapat dipahami, didekati secara tekstual dan kontekstual, literal dan structural (rasional,liberal, lafzhi dan maknawi, lahir dan batin (isyari), statis (kaku) dan dinamis (fleksibel), eksplisit (tersurat) dan implicit (tersirat), matematis dan filosifis (logical), teosentris dan antroposentris, teologis dan sosiologis.

AlQur:an terdiri dari unit-unit terkecil yang disebut dengan raka’ (se’ain-se’ain). AlQur:an dapat juga dipahami dari unit-unit (raka’-raka’) tersebut. Setiap unit alQur:an itu mencakup mengandung ajaran akidah (iman) dan akhlak/ibadah (amal). Ada yang tersurat (eksplisit) dan ada pila yang tersirat (implicit). Setiap unit bias diuraikan, dipaparkan, dijabarkan mencakup seluruh pesan alQur:an.

Dalam memahami pesan alQur:an unit per unit, dipilih beberapa ayat atau unit (satuan) ayat alQur:an yang diperkiakan secara ekspilisit (trsurat) dapat merekresentasikan, mereflekswikan, mencerminkan pesan alQur:an. Pada tiap ayat atau unit ayat alQur:an tersebut diinventarisasi, dijabarkan, dirumuskan pesan alQur:an. Himpunan dari hasil inventarisasi dianggap keseluruhan pesan alQur:an.

Langkah-langkah yang ditempuh oleh Sayyid Qutthub dalam membahas masalah-masalah Islam dimulai dengan menjelaskan hakikat, konsep tentang Tuhan (akidah Islamiyah), tentang alam (alam nyata dan alam ghaib), tentang kehidupan, tenang manusia (lahir dan batin, fisik dan psikis). Akidah Islamiyah itu menetapkan bahwa Allah swt adalah Tuhan manusia yang telah menciptakan semua kekuatan alam sebagai sahabat dan penolong. “Tak ada Tuhan selain Allah”.

Barulah setelah itu, kemudian dijelaskan hubungan, relasi, interaksi antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan dirinya, antara manusia dengan masyarakatnya, antaraa manusia sesamanya, antara individu dengan negaranya, antara individu dan masyarakatnya, antara generasi yang satu dengan generasi yang lainnya (Simak Sayyid Qutthub : “Petunjuk Jalan”, hal 100; “Keadilan Sosial dalam Islam”, 1994:25).

Dalam hubungan ini Sayyid Qutthub menyatakan bahwa pandangan Ibnu Sina, Ibnu Rusydi, alFarabi hanyalah merupakan hasil pemikiran yang beradai di bawah baying-bayang filsafat Yunani yang amat asing bagi jiwa dan ruh Islam. Namun Sayyid Qutthub tak menjelaskan di mana letak kesalahan, keasingan pandang mereka tersebut. Seyogianya Sayyid Qutthb menggugat, mengecam, mengkritik mereka itu secara cerdas, objektif, sitimatis seperti yang dilakukan oleh alGhazali (Simak antara lain Imam alGhazali : “Pembebas dari Kesesatan”, 1986). Menurut alGhazali, dalam masalah Logika (Yang berasal dari filsafat Yunani) tak ada yang perlu diingkari, karena telah dipaparkan oleh ahli Ilmu Kalam (Teologi). Bagaimanapun logika adalahmetoda, cara menemukan kebenaran. Dalam kitab-kitab Ilmu Mantiq (Logika) disebutkan bahwa Imam alGhazali menganjurkan mempelajari Ilmu mantiq (Logika), bukan mengharamkannya.

(BKS1002210845)
Sicumpas

Tinggalkan komentar

Filed under Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s