Sekitar Pendidikan (1-3)

Sekitar Pendidikan (1-3)

1 Pendidikan agama Islam di sisi lain

Berpijak pada paedagogik, pendidikan agama Islam tidak sama dengan pengajaran agama Islam. Pendidikan agama Islam terbatas hanya semata-mata untuk mendidik anak-anak Islam, bukan anak-anak sembarang. Anak-anak bukan Islam tidak dituntut untuk mengikuti Pendidikana Agama Islam (PAI). Pendidikan agama Islam melalui semua bidang studi, semua bidang kegiatan, intra maupun extra kurikuler.

Pengajaran agama Islam hanya terbatas pada satu bidang studi Ke-Islaman (Pelajaran agama). Semua anak didik, baik Islam maupun bukan bisa saja mengikuti Pengajaran agama Islam, tidak terbatas semata-mata untuk anak-anak Islam.

Semua bidang studi dan semua bidang kegiatan merupakan wadah sarana untuk menyemaikan benih ruh Islam, ruh Tauhid, ruh Jihad, ruh Madaniah, untuk menaburkan, menebarkan pola pikir Islam, pola Moral Islam, ringkasnya untuk mentransfer IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB Islami secara integrated (kaffah), tak ada yang terlepas dari semangat Islam.

Islam disemaikan keseluruh bidang studi, ke seluruh bidang kegiatan, tanpa kecuali. Anak didik dididik untuk mengikuti shalat jama’ah fardhu, melaksanakan shaum Ramadhan. Pelaksanaan wudhuk anak didik dikotrol secara tgeratur. Anak didik dididik menggunakan busana yang mengikuti tuntunan Islam, mengikuti kepramukaan yang mengacu pada Islam.

Anak didik dididik mengikuti kegiatan olahraga yang memantulkan ruh jihad, bukan semata-mata untuk pembinaan kesehatan fisik, apalagi untuk pamer kebolehan prestasi pada lomba. Kesehatan fisik dapat dibina melalui puasa. Perlombaan untuk membangkitkan ruh jihad, bukan untuk merebut prestasi duniawi.

Anak didik dididik mengikuti kesenian yang mengacu pada Islam, bukan semata-mata untuk bersantai-santai. Islam tak mengenal l’art pur l’art. Menghibur diri dapat melalui shalat. Kesenangan dapat diperoleh dalam shalat.

Seluruh bidang studi dan kegiatan hendaknya dibersihkan dari hal-hal yang menyalahi Islam. Teori rente (dalam bidang studi Matematika dan Ekonomi0), teori generatio spontanea (dalam bidang studi Bilogi), teori relativitas (dalam bidang studi Fisika Kwantum) misalnya perlu dikonfrontir dengan Islam tentang ke validitasnya.

Malapetaka yang menimpa umat Islam dewasa ini bermula dari polah tingkah umat Islam itu sendiri. Umat Islam harus berani jujur mengakui kekeliruan sendiri tanpa mengkambing-hitamkan yang di luar Islam. Semua ini dalam rangka mengaca diri sendiri, menuding diri sendiri, bukan pihak lain. Nilailah diri sendiri sebelum pihak lain sempat menilai. L’histoire repite. Sejarah berulang. Apakah sejarah akan mengulas melindas gilas ? Marilah bertanya pada sejarah. Wal’ashri.

Semula umat Islam sepakat meletakkan landasan Indonesia Merdeka berdasarkan ke-Tuhanan dengan kewajiban melaksanakan syari’at Islam bagi pemeluknya. Serta merta dengan dalih tasamuh (toleransi), kesepakatan itu dicabut, bukan karena darurat (terpaksa), tetapi semataa-mata mabuk tergodaa akan sanjungan keagungan toleransi Islam.

Umat Islam tidak istiqamah (tidak konsiten), tidaka tahu mensyukuri nikmat kesepakatan. Faidza farghta fanshab. Meskipun sudah jauh terlambat, umat Islam kemudian berusaha meralatnya untuk mengembalikan kesepakatan tersebut, tetapi apalah artinya. Jatuh pada lobang pertama, menyusul jatuh pada lobang-lobang berikutnya. Selalu jatuh ketipma tangga. Untuk menghibur diri, tak apalah terlambat dari pada tak ada sama sekali. Sayang terlambatnya sudah sedemikian jauh.

Semula umat Islam berangkat dari nasionalisme ummatan wahidah, bukan nasionalisme “ashabiyah. Tapi belakangan umat Islam sudah nyenyak terlena dalam sangkar nasionalisme ‘ashabiyah. Sudah beberapa kali pemuka-pemuka Islam diberikan kesempatan oleh Allah untuk memegang tampuk pimpinan, tetapi tak mampu meralat salah langkah. Dengan tangan-tangan umat Islam sendiri, Islam itu diasingkan dari umat Islam itu.

Budaya takbur melanda dunia dewasa ini. Umat Islam tak luput dari budaya takbur itu. Yang berkuasa tak mengindahkan suara yang dikuasai, apalagi bila yang dikuasai itu tak disenangi. Sudah beberapa kali pemuka-pemuka Islam menyampaikan suaranya tapi tak pernaha digubris oleh yang berkuasa. Yang Mulia tak mengacuhkan yang tak terkenal, apalagi yang tak dikenal. Sudah berapa banyak suara umat baik dalam tatap muka, dalam surat tertutup, dalam surat terbuka yang diacuhkan. Sudahkan dijawab salam umat baik lisan maupun tulisan ?

Suasana budaya takbur mengencangkan belenggu kungkungan, yang menampakkan gejala kebangkitan neo-feodalisme. Manusia dibeda-bedakan tingkat ranking kelasnya. Lapisan bawah cepat dipensiunkan. Lapisan tengah, batas usia pensiunnya lebih panjang. Lapisan atas berbahagia menikmati batas usia pensiun terpanjang. Lapisan bawah tak mampu berbuat apa-apa,cukup nrimo. Lapisan bawah sekedar umpan peluru. Peraturan tentang batas usia pensiun hanya menguntungkan lapisan atas, pengambil keputusan. Lapisan bawah tinggal terima jadi. Apa salahnya bila batas usia untuk pensiun ditetapkan sama (tidak dibeda-bedakan) mulai dari bawah sampai atas ?

Pemuka-pemuka Islam ahli pendidikan dinantikan mengemukakan amandemen, bandingan terhadap undang-undang pendidikan. Pasal-pasal mana yang tak perlu, yang harus dihapuskan. Pasal-pasal mana yang perlu ditambahakana. Pasal-pasal mana yang perlu dirubah, direvisi, diperbarui, diperbaiki. Bagaimana seharusnya bunyi rumusan redaksional dari pasal yang diperbaiki itu. Seyogianya umat Islam mengarahkan perhatian kesini, meninggaalkan membicarakan hal-hal yang tak menguntungkan bagi keselamatan kesaatuan umat. Suara-suara umat hendaknya dimonitor, dipantau, diperhatikan bagaimana pun remehnya, baik yang langsung face to face, maupun yang tak langsung yang tersebar dalam media massa. Pemain belakang mengoper bola ke pemain tengah, pemain tengah mengoper ke pemain depan, pemain depan menyarangkan ke gawang. Tak ada yang terbuang. Tak ada yang diremehkan.

# Terpesona akan keunggulan kemajuan sains dan teknologi Barat, umat Islam mengoper bidang studi keilmuan tanpa melakukan amandemen, perubahan, perbaikan, tanpa membersihkannya dari yang tak Islami, tanpa mengisinya dengan ruh iIslam.

# Pendidikan agama Islam berusaha menggerakkan kesadaran beragama dan kesadaran beramal anak didik agar : Beriman teguh (bertakwa). Berakhlak tinggi (berbudi luhur). Berpengetahuan luas (berkecerdasan tinggi). Berkemampuan (berketerampilan tinggi0). Berkehidupan baik. Kuat beribadah. Giat beramar makruf, nahi munkar. Giat beramal tolong menolong.

# Upaya menyingkirkan bidang studi Islam dari kurikulum umum tak pernah berhenti.

# Guru-guru Muslim dan penulis-penulis buku pelajaran sekolah (SD-SLTP-SMU) diharapkan kiranya dapat memanfa’atkan bidang studi sebagai wadah, srana bagi penyampaian pesan ajaran Islam.

# Kendala yang mengungkung berupa target kurikulum (garis besar pelajaran – sitim pendidikan nasional).

# Dibuhkan kemantapan tekad untuk membebaskan diri dari lilitan kungkungan terseut.

# Nabi Musa ditugaskan membebaskan Bani Israil. Nabi Musa mempertanyakan apakah memperbudah manusia (Bani Israil) itu merupakan jasa baik (nikmat) penguasa ? (QS Syu’ara 26;17-22).

# Sanusi Pane meradang, bukan beta budak negeri mesti menurut undangan mair.

# Bila sampai waktunya, Chairil Anwar mau bebas, tak mau terikat oleh rayuan tradisi.

# IPA kiranya dapat dimanfa’atkan sebagai wadah, sarana penyampaian pesan ajaran Islam yang terkandung dalam kitab tauhid.

# IPS kiranya dapat dimanfa’atkan sebagai wadah, sarana penyampaian pesan ajaran Islam yang terkandung dalam kitab akhlak.

# PKK, Orkes, Matematika, Linguistik kiranya dapat dimanfa’atkan sebagai wadah, sarana penyampaian pesan ajaran Islam yang tersimpan dalam kitab kuning.

# Akhlak Islam berasal dari tuntunan Allah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad saw mengenai sopan santun di segala lapangan (IPOLEKSOSBUDHANKAMTIB).

# Untuk sementara sebaiknya perguruan Islam menyisipkan bidang Sejarah Perkembangan Sains dan Teknologi, Qur:an, Sains dan Teknologi, Falsafah Pendidikan Islam sebagai extra kurikuler.

Materi Sejarah Perkembangan Sains dan Teknologi seperti termaktub dalam buku A History of Invention, karangan Egon Larsen yang diterjemahkan oleh Mohammad Ridwan dkk, terbitan Djambata, Jakarta, 1981.

Materi Qur:an, Sains dan Teknologi seperti termaktub dalam buku Al-Qur:an wal “Ulumul “Ashriyah, karangan Prof Dr Syaikh Thanthawi Jauhari yang diterjemahkan oleh Drs Muhammadiyah Ja’far, terbitan al-Ikhlas, Surabaya, 1984.

Materi Falsafah Pendidikan Islam seperti termaktub dalam buku Falsafat Tarbiyah al-Islamiyah, karangan Prof Dr Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibany yang diterjemahkan oleh Dr Hasan Langgulung, terbitan Bulan Bintang, Jakarta, 1983

# Sebagai bahan rujukan barangkali dapat digunakan karya-karya tentang Sains dan Teknologi sejenis karya Ustadz Thanthawi Jauhari, Dr Maurice Bucaile.

Demikian diantara suara umat, suara hati ke hati, yang sempat direkam.

 

2 Semua bidang studi dimanfa’atkan sebagai media untuk menanmkan agama ke dalam jiwa

Ilmu-ilmu terpecah-pecah atas beberapa pecahan, diantaranya : Ilmu Agama (Tafsir, Hadits, Musthalah, Fiqih, Ushul, Tauhid), Ilmu Bahasa (Nahwu, Sharaf, Bayan, Ma’ani, Badi’, ‘Arudh), Ilmu Teoritis : Ilmu Ke-Tuhanan (Theologi, Metafisika), Ilmu Mantik (Logika, Rethorika), Ilmu Pasti (Arithmatika, Matematika, Mekanika), Ilmu Pengetahauan Alam (Fisika, Kimia, Biologi, Geologi, Astronomi), Ilmu Pengetahuan Manusia (Anthropologi, Sosiologi, Psikologi), Ilmu Praktis (Pengobatan, Pertanian, Pertukangan, Perdagangan, Pergaulan, kesenian, Olahragaa, Kemiliteran).

Ilmu Teoritis dan Ilmu Praktis termasuk ke dalam Ilmu Umum (Ilmu “Ashari, Ilmu Dunia).

Sesungguhnya takut kepada Allah di antara hamba-hambanya hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah. (QS Fathir 35:28)

Orang-orang yang berakal (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (QS Ali Imran 3:191, Hud 11:120)

Islam dimusuhi dengan caraa-cara baru melalui brosur-brosur, film-film agama, kunjungan dari rumah ke rumah, drama-drama radio dan televisi (Sanggar Prativi ?), lagu-lagu qasidah modern (Fantastique Group ?), novel-novel (Marga T ?), komik-komik (Zaldy ?).

Di antara tujuan pendidikan adalah : meningkatkan ketaqwaan, mempertinggi akhlak, memperkuat kepribadian. Tujuan tersebut diikhtiarkan mencapainya melalui masing-masing bidang studi. Masalahnya :

# Bagaimana caranya menyajikan Matematika agar lebih akrab dengan khazanah, suasana Islam ?

# Bagaimana caranya menyajikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) agar lebih yakin akan Keagungan dan Kemahakuasaan Allah, pencipta alam semesta ?

# Bagaimana caranya menyajikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) agar lebih bergairah berperan menunaikan amanah amar makruf, nahi munkar ?

# Bagaiamana caranya menyajikan Pendidikan Kewarganegaraan agar lebih tunduk kepada Hukum Ilahi ?

# Bagaimana caranya menyajikan Pelajaran Bahasa Asing agar lebih peka menangkis ajaran-ajaran yang memusuhi Islam ?

# Bagaiamana caranya menyajikan Pendidikan Jasmani agar lebih peka menghadapi pihak-pihak yang memusuhi Islam ?

# Bagaimana caranya menyajikan Pendidikan Kesenian agar lebih akrab dengan khazanah, suasana Islam, dan lebih percaya diri ?

# Bagaimana caranya menyajikan Pendidikan Ketrampilan agar lebih akrab dengan mata-usaha yang berpedoman kepada petunjuk-petunjuk Islam, dan lebih kreatip ?

Pada masa kebangkitan dan kemajauan dalam bidang ilmiah dalam dunia Islam, filsafat merupakan senjata yang ampuh bagi musuh-musuh Islam untuk menyerang Islam. Tampak pengaruh orang-orang bekas penganut-penganut agama Yahudi, Nasrani, Majusi dan bermacam-macam agama lain, yang telah memeluk Islam. Mereka menyerang Islam dengan memasukkan keragu-raguan ke dalam agama Islam dengan bersenjatakan filsafat dan logika Yunani.

Kaum Mu’tazilah menyelami filsafat untuk mempertahankan agama Islam, meskipun banyak di antara mereka itu memakai senjata tersebut untuk menikam diri sendiri. Mereka menerima aspirasi dari filsafat Yunani, tanpa rasa rendah diri. Pengaruh Yunani pada peradaban Islam terbatas pada pengetahuan dan filsafat.

Aspek peradaban Yunani yang menjijikkan buat Islam, mereka tolak, seperti penyembahan berhala, kontes atletik dan sport, lukisan dan ukiran telanjang, musik, drama, seni, organiasi, politik, ekonomi dan sosial.

Kaum Mu’tazilah memakai filsafat sebagai senjata untuk mempertahankan Islam terhadap serangan dan tantangan musuh-musuh Islam. Mereka mengadakan konfrontasi ilmiah untuk mempertahankan akidah Islam. Mereka bergerak membela akidah, memelihara sunnah dan menangkis bid’ah, meskipun ada yang memandangnya tidak banyak diandalkan.

Pada satu dua abad yang lalu, perbedaan antara keterbelakangan materi orang Muslim dengan enersi yang mengagumkan dan hasil nyata Eropah, sudah sangat menyolok. Kaum modernis sangat mengagumi peradaban Barat (Eropah). Mereka menaruh penilaian yang tinggi terhadap nilai-nilai Barat. Mereka menggambarkan, bahwa peradaban Barat itu jauh lebih tinggi dan unggul dari Islam dan perdabannya dalam segala hal. Mereka memandang, bahwa menampilkan apa-apa yang berbau Islam dalam lingkungan hidup modern sekarang ini adalah semacam ketololan yang menimbulkan ejekan dan hinaan. Mereka kagum terhadap keunggulan ilmu-ilmu fisika, dan juga ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh filsafat Barat.

Mereka berpendapat, jika orang Muslim dapat menelan ilmu pengetahuan melalui pendidikan modern, maka orang-orang Muslim akan menjadi sama kuatnya, sama progresifnya, dan sama kayanya. Mereka yakin sekali, bahwa ini merupakan jalan yang benar ke pada arah kelangsungan Islam dalam panggilannya ke pada manusia modern.

Mereka berkeyakinan, bahwa pendidikan dan sains Barat modern adalah kunci kemakmuran dan kejayaan. Kaum Muslimin mundur dalam kemajuan duniawi karena tidak mempelajari sains Barat modern. Rasa rendah diri yang diakibatkan oleh penyerahan diri terhadap kekuasaan penjajah, menggiring mereka memungut kebudayaan dan pandangan hidup materialistik, yang diarahkan demi kegunaan dan keuntungan.

Mereka memandang perlu menggalakkan usaha-usaha pengembangan sistim pendidikan baru (Barat modern) ke seluruh pelosok. Pandangan mereka ini diterima tanpa kritis. Mereka berusaha memadukan Islam dengan kehidupan modern. Mereka bermaksud menafsirkan syari’at Islam (fikih dan hukum-hukum syara’) menurut tafsiran yang sesuai dengan generasi baru dan peradaban modern, dengan suatu cara yang bebas dari pengaruh penafsiran klassik (salaf).

Mereka menyerang sistim pengajaran tradisional yang tidak sesuai dengan tuntutan kehidupan modern. Usaha mereka ini telah membuka pintu pembaratan (westernisasi) bagi generasi berikutnya.

Anjuran supaya Ilmu Umum diajarkan di Madrasah, di Minangkabau sudah mulai sejak tahun 1911 dan sudah dilaksanakan sejak tahun 1931. Sebab musabanya ialah karena Ilmu Umum itu dipandang penting untuk kemajuan hidup duniawi. Dalam majalah Al-Munir (yang terbit di Padang mulai tahun 1911) murid-murid surau (pesantren) dianjurkan supaya mepelajari Ilmu Umum dan bahasa Barat (Eropah).

Pendidikan Islam yang mula-mula berkelas dan memakai bangku, meja dan papan tulis ialah seklah Adabiah (Adabiah School) di Padang, yaitu madrasah (sekolah agama) yang pertama di Tanah Air yang didirikan tahun 1901 oleh Syaikh Abdullah Ahmad. Pembahsan dan penyelidikan soal-soal agama secara mendalam sudah mulaia di Minangkabau sejak tahun 1918.

Yang mula-mula melakukan pendidikan Islam untuk masyarakat umum dengan tabligh, pidato, khutbah, ialah Syekh Muhammad Jamil Jambek, kira-kira tahun 1911. Syekh M Thaib Umar adalah yang mula-mula mengarang kitab khutbah Jum’at dan Hari Raya dalam bahasa Melayu yang dicetak dan disiarkan di seluruh Minangkabau, kira-kira tahaun 1918. Khutah Jum’at dalam bahasa Melayu yang pertama dilakukan adalah di Lantai Batu, Batu Sangkar, Minangkabau, kira-kira tahun 1918.

Pada tahun 1920 di Minangkabau sudah tersebar 5 (lima) majalah Islam yang diusahakan oleh Sumatera Thawalib : Al-Munir (Padang), Al-Bayan (Parabek, Bukittinggi), Al-Imam (Padang Japang, Padang Panjang), Al-Basyir (Sungayang, Batu Sangkar) dan Al-Itqan (Maninjau, Bukittinggi).

Upaya pelaksanaan anjuran pengajaran Ilmu Umum di Madrasah dilakukan dengan menyerapnya secara utuh, dan lupa menyesuaikannya (mengadaptasinya) dengan semangat, suasana, lingkungan Madrasah. Tujuan umum masing-masing Ilmu Umum hendaknya mengacu pada tujuan Ilmu Agama yang sejalan.

Tujuan umum Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) hendaknya sejalan dengan tujuan Ilmu Tauhid, yaitu agar tumbuh rasa kagum akan Ke-mahakuasaaan Pencipta alam semesta, dan ciptaannya. Ya Tuhan kami, bukanlah Engkau jadikan ini dengan percuma (sia-sia). (QS Ali Imran 3:191).

Tujuan umum Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) hendaknya sejalan dengan tujuan umum Ilmu Tarikh, yaitu memperkokoh keimanan dan keyakinan. (QS Hud 11:120)

Tujuan umum Ilmu Bahasa untuk dapat membela agama dari serangan musuh-musuh agama. Barangsiapa yang mempelajari bahasa sesuatu kaum, maka ia akan selamat dari tipu daya merekaa. Ilmu Bahasa diajarkan sebagai sarana pertolongan untuk mengetahui tipu daya dan politik licik musuh-musuh agama, yang tertuang dalam bahasa mereka.

Tujuan Pendidikan Jasmani secara umum adalah untuk memelihara, menjaga kesehatan dan kekuatan tubuh, serta membela diri dan kehormatan agama. Silat (cabang Seni Beladiri), Kasidahan (cabang Kesenian), Bertani, Berternak, Bertukang diajarkan sebagai bidang studi extra kurikuler.

Materi Ilmu Umum hendaknya disajikan berdasarkan pada tujuan umum yang sejalan dengan tujuan umum Ilmu Agama, merupakan tnash-nash agama yang berhubungan.

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) disajikan sebagai tafsiran nash-nash tentang jagat raya (alam semesta).

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) disajikan sebagai tafsiran nash-nash tentang sosial kemasyarakatan.

Bahan bacaan untuk Ilmu Bahasa sebagian dipungut dari karya orientalis.

Contoh-contoh soal hitungan untuk Matematika diambilkan dari alat peraga yang berindikasi identitas Islam, seperti masjid, menara, sajadah, mukenah, songkok, sarung, faraidh, zakat, hisab, nisab, hilal, imsak, kiblat, dan sama sekali bersih dari bunga (rente).

Di samping itu juga diperkenalkan dengan sarjana-sarjana Matematika Muslim dan sumbangannya terhadap Matematika

Untuk semua ini, sebagai bahan acuannya dapat digunakan kitab Tafsir Thanthawi Jauhari. Kitab Tafsir Thanthawi Jauhari ini diolah ke dalam beberapa buku bidang studi : Geografi, Antropologi, Fisika, Biologi, Kosmografi, dan seterusnya (Jilid 10, hlm 70, 92, 120, Thariq al-Ittihad). Kitab Tafsir Thanthawi Jauhari merupakan manifestasi hasil-usaha seorang Muslim untuk menggali isi kandungan al-Qur:an, sesuai dengan ilmu dan keahliannya, yang banyak menitik beratkan uraiannya dalam ilmu alam dan biologi.

Pengajaran Ilmu Agama hendaknya dapat menumbuhkan akhlak mahmudah, moral esensial, sikap mental positip, serta menjauhkan akhlak madzmumah, moral artifisial, sikap mental neatip.

Pendidikan Ibadat (Shalat, Shaum, Zakat, Haji) hendaknya dapat menumbuhkan sikap mentalkhalifah fil ardh, sikap mental inventor, bukan hanya sekedar sikap mental operator, apalagi bukan sikap mental imitator.

Pendidikan Moral Islam cukup sudah untuk menumbuhkan sikap mental kreatip, tanpa perlu lagi berpaling ke pada moral lain, baik yang berasal dari dalam maupun luar tanah air.

Natijah dari semua itu adalah sebagai berikut :

# Pengertian Ilmu Agama secara definitip masih samar.

# Kaum Mu’tazilah mengutip filsafat dan logika Yunani untuk membela akidah, memelihara sunnah dan menangkis bid’ah.

# Kaum Modernis menjiplak pendidikan dan budaya modern untuk menyaingi kemajuan duniawi Barat.

# Ilmu untuk hidup. Hidup untuk amal. Tujuan akhir Ilmu adalah untuk amal (ibadah ke pada Yang Maha ‘Alim).

# Ilmu Agama hendaknya disenyawakan (compounded) dengan Ilmu Umum, bukan hanya sekedar dicampurkan (combined).

#Teori ilmiah senantiasa berkembang. Kitab Tafsir Thanthawi Jauhari masih segar untuk acuan (rujukan) buku-buku Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

 

3 Memadukan “Islam Pedoman Hidup Yang Lengkap” ke dalam buku pelajaran IPA/IPS (pasti-alam/sosial-budaya)

Catatan berikut bukanlah dari kalangan guru atau pendidik, apalagi ilmuwan, tapi hanyalah dari kalangan yang peduli akan pendidikan. Diharapkan kiranya pada suatu ketika nanti, ada yang berkesempatan merintis menyelenggarakan suatu sekolah/perguruana yang berco9rak Islamai secara terpadu (integrated), tak terpisah antara pengetahuan agama dari pengetahuan umum (Sekolah Umum plus pengetahuan agama).

Usaha perintisan ini tentu saja dimulai dari bawah, yaitu dari Sekolah Dasar (SD), sebagai dasarnyaaaaaaaaa. Dalam hal ini diharapkan beberapa pokok masalah berkenaan dengan SD Islami terpadu tersebut sebagai berikut :

Maksud dan tujuan :

# SD tersebut dimaksudkana agar para lulusannya memiliki kesiapan dan kemampuan untuk melanjutkan pelajarannya pada sekolah lanjutan, yaitu sekolah yang lebih tinggi.

# Anak didik yang tak berhasil memasuki sekolah lanjutan, dipersiapkan memiliki sekurangnya salah satu cabang ketrampilan atau keprigilan, sehingga memiliki bekal untuk terjun ke dalam masyarakat dan dunia kerja.

# Anak yang selesai mengikuti pendidikannya, diharapkan sudah memiliki kemampuan untuk melaksanakan ibadah seperti : shalat wajib, puasa wajib, amal zikir sehari-hari.

# Anak dsdik diharapkan sudah dapat memiliki akidah keyakinan yang memadai sebagai dasar pedoman memahami dan menghadapi hidup dan kehidupan.

Bahan pelajaran/kurikulum :

# Materi pelajarannya disesuaikan sekurang-kurangnya minimal menyamai kurikulum SD Umum.

# Pelajaran agama tidak dipisahkan secara mutlak dari pelajaran umum, tetapi sebaliknya pelajaran umum tersebut diolah kembali dulu (direvisi) dengan menggunakan pedoman pokoknya pelajaran agama, dan baru kemudian hasil olahan tersebutr disajikan ke pada anak didik.

# Pelajaran IPA direvisi (diproses) dengan pelajaran tauhid, sehingga pelajaran IPA dapat digunakan sebagai sarana untuk menanamkan roh akidah, roh tauhid, roh iman.

# Pelajaran IPS direvisi (diproses) dengan pelajaran akhlak, pelajaran tarikh, kisah, riwayat, ibarat, sehingga pelajaran IPS juga dapat digunakana sebagai sarana untuk membentuk akhlak karimah, budi luhur mulia, menumbuhkan ruh jihad dan ruh ijtihad.

# Pelajaran Matematika direvisi (diproses) dengan roh agama, nafas agama, jiwa agama, sehingga dapat tumbuh rasa kebanggaan akan hasil usaha, ciptaan, penemuan para ilmuwan Muslim dulu, serta mengenalkan alat peraga yang bernafas Islam, seperti sajadah, mushalla, mihrab, mesjid, menara, kullah, kolam, sawah, ternak, kiblat, mukenah, dan lain-lain disamping segitiga, segiempat, bujursangkar, trapesium, kubus, kerucut, dan lain-lain. Juga mengenalkan hitungan yang bernafaskan agama seperti zakat, fitrah, nisab, hisab, raka’at, dan lain-lain, serta menjauhkan dari hitungan yang di luar agama, seperti : bunga, rente, dan lain-lain.

# Pelajaran bahasa direvisi (diproses) dengan pelajaran akhlak, dan tarikh yang membangkitkan kecintaan ke pada Rasul dan agama dan menumbuhkan keinginan untuk meneladani tingkah rasul, yaitu dengan menyajikan bacaan dan contoh-contoh kalimat yang berjiwa agama.

# Pelajaran agama ditekankan pada kemampuan membaca al-Qur:an dan dapat pula memaahami bebeapa ayat al-Qur:an dan beberapa Hadits. Makna ayat-ayat al-Qur:an dan Hadits ini dapat pula dipelajari dan dipahaminya pada pelajaran IPA dan IPS. Di samping itu pelajaran ibadah praktis berkenaan dengan kaifiat shalat, puasa, dzikir yang bersumber dari nash yang shahih.

# Pelajaran kesenian dan olehraga hendaklah disesuaikan dengan kemauan dan kehendak agama.

# Pelajaran ketrampilan/keprigilan diberikan sebagai pelajaran pilihan wajib (fakultatif) di antara berbagai macam ketrampilan seperti : bertukang (tukang batu, tukang mebel), berkebun, berternak (ternak ayam, ternak bebek), memasak, menjahit, sablon, bengkel (sepeda, elektronika), dan lain-lain yang dapat dimanfa’atkannya bila ia tak sanggup melanjutkan sekolahnya, dan di samping itu hasil prakteknya dapat pula dihimpun sebagai dana sekolah/perguruan.

Dana/biaya :

# Dana diusahakan dengan menghimpunnya dari para umat Islam sendiri baik yang kaya mapun yang sederhana (fis sharra wad dharra) sesuai dengan kemampuan dan keikhlasannya, baik yang berupa donatur tetap maupun yang berupa dermawan insidentil, maupun berupa infak, shadakah, zakat, wakaf, derma, sumbangan dari umat Islam.

# Uang sekolah dari anak didik, yang disesuaikan dengan kemampuan orangtuanya, dan diusahakan seminimal mungkin.

# Hasil penjualan dan hasiul kegiatan praktek anak didik pada pelajaran ketrampilan.

Peralatan/perlengkapan :

# Semua biaya peralatan dan perlengkapan disesuaikan dengan dana yang ada.

# Selain gedung dan mebel, diperlukan perlengkapan untuk praktek pelajaran ketrampilan (pra karya), laboratorium, juga perpustakaan untuk menunjang pelajaran formal.

 

 

<img src=”http://visit.geocities.yahoo.com/visit.gif?us1254296029&#8243; mce_src=”http://visit.geocities.yahoo.com/visit.gif?us1254296029&#8243; alt=”setstats” border=”0″ width=”1″ height=”1″>

1

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s