Iman pada Takdir

Iman pada Takdir

(Program, Takdir, Ketentuan Allah)

Usaha, ikhtiar, do’a manusia merpakan input, masukan ke dalam program, takdir, ketentuan Allah. “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaannya yang ada pada diri mereka sendiri” (QS 13:11). “Sesungguhnya Alla sekalkal tidak aan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkanNya kepada satu kam, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS 8:53). “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (QS 30:41)\

Hasil usaha, kekayaan, rezeki, mukjizat manusia sudah deprogram, ditakdirkaan, ditentkan Allah sejak awal. “Dan Allah melebihkan sebahagian kamau dari sebaagian yang lain dalam hal rezki” (QS 16:71). “Allah meluaskan rezki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS 16:71). “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagan yang lan” (QS 2:253).

Disebutkan bahwa segala sesuatu yang telah terjadid di dunia ini sudah ditetapkan, ditentukan, ditakdirkan, diprogramkan Allah. “Dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan ditulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahafuzh)” (QS 6:59). “Tiada suatu bencaa pun yang menmpa dib mi dan tidak (pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis daam kitab (Lauh Mahfuzh)” (QS 57:22). “Dan tidak ada yang lebih kecil dan yanglebih besar, melainkan tercatat/tersebut dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS 10:61, 34:3). “Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)” (QS 36:12).

Disebutkan juga bahwa semua yang ditakdirkan tak dapat ditolak, tak dapat dihentikan oleh siapa pun dan dengan cara apa pun. “Hai hambaKu. Andaikan dikmpulkan semua kekuatan manusia dan jn dahulu kala hingga akhir zaman nanti untuk menentang kekuasaanKu, maka sedikitpun kekuasaanK tidak bergeser” (Hadis Qudsi riwaat Muslim dari Abidzar dalam “Mutiara Hadits Qudsi”, oleh A Mudjab Mahali, 180:25). “Ketahuilah olehmu, sekiranya umat manusia sepakat hendak memberi manfa’at kepadamu, niscara tak akan sampai sesuatu juapun dari padanya, melainkan apa yang telah ditetapkan Allah lebih dahulu. Demikian juga sekiranya mereka itu sepakat pula hendak membahayakan kamu, tak akan sampai bahaya itu melainkan menurut apa yang telah ditetapkan Allah terlebih dulu (HR Tirmidzi dari Abdullah bin Abbas dari “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, pasal “Muraqabah, Kewaspadaan, Pengawasan”).

Tak ada yang mampu mencegah Hulaghukhan dan pasukannya memporak porandakan Irak, mencegah ush dan pasukannya menghancurleburkan Irak, mencegah Israel meumpahkan darah Palestina.

Arah takdir dapat diamati, dideteksi. “Orang yang bakal beruntung, maka diringankan untuk berbuat amal yang menuntungkan, sebaliknya orang yang celaka, maka diringankan untuk berbuat amal yang membinasakan” (HR Bkhari, Muslim dari Ali, daam “AlLukLuk wal Marjan” Muhammad Fad Baqi, pasal “Kitab Qadar”, hadis no.1697).

Ramalan, prediksi berdasarkan pada fenomena alam, fenomena sosial ang merupakan snnatullah (proses sebab akibat, if cnditio) yang diketahui oleh para ahl lm alam/ilmu sosial) bkanlah ramalan terhadap perkara ghaib seerti yang dilakukan oleh ara kahin, ahli nujum, para normal.

Menelamatkan diri dari kondisi yang diperkirakan, diramalkan, diprediksi akan menyengsarkan haruslah dilakukan. Dan bukan membiarkan diri tidak mengantisipasinya dengan dalih sabar. Ada satu ungkapan yang berasal dari umar bin Khatthab : Lari dari suat takdir ke takdir yang lain.

Yang tertindas, yang mendapat Andaman, yang diintimidasi, yang diteror, ang terancam keamanan/keselamatan dirinya haruslah berbuat, jika perlu mengungsi, meninggalan negeri pindah ke negeri lan. “Bukankah bumi Allah itu luas, seingga kamu dapat berhijrah dib mi itu ?” (QS 4:97).

Sudah berabad-abad mat Islam di Filiina Selatan, di Patani, di Kashmir, di Singkiang dan lan-lain tertindas oleh bangsa sendiri. Juga mat Islam di Palestina tertindas ole bangsa asng Israel. Namn semuanya tak ada ayang berupaa berhijrah, mengungsi, membentuk pemerintahan di pengasingan. Apakah karena disebutkan bahwa “Tidak ada hijrah lagi setelah Fath Makkah”. Atakah karena kini ta ada lag tanah ang bebas, semuanya sudah dikaelingi ? Ataukah karena tak ada negara ang mau menerima mereka ? Aaukah karena “ukhwah Islamiyah”, “ummat kal asadil wahid” itu hanya tinggal sebagai Das Sollen (harapan, impian, slogan, semboyan), hanya ada dalam kitab, tak terwujud sebagai Das Sein (kenataan).

Dalam menghadapi takdir yng sedang terjadi, berbuatlah sesuai dengan kemauan dan kemampuan yang dimiliki. Menghadapi kebakaran, padamkalah walau dengan segelas air sekali pn. Mengadapi peperangan, padamkanlah wala dengan lemparan sebelah sepatu seal pun.

(BKS0901021000)

Memahami Takdir

“Sekali-kali kamu tidak akan mendapat pergantian bagi sunnatullah. Dan sekali-kali tidak pula akan menemukan penyimpangan bagi snnatullah itu” (QS 35:43).

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS 13:11). Man proposes, God disposes.

“Bagi orang yang pemurah dan bertakwa dan membenarkan adanya suraga, akan Kami (kata Allah) berikan kemudahan kepadanya (menuju surga). Sedangkan bagi orang yang bakhil dan berdosa dan mendustakan adanya surga, akan Kami berikan kesukaran kepadanya (menuju surga) (QS 92:5-1).

“Bila kalian mendengar bahwa di suatu tempat berjangkit penyakit menular, janganlah kamu pergi ke tempat itu, dan jika di tempat kamu tinggal telah bejrangkit penyakit menular, maka janganlah kalian meninggalkan tempat tinggamu karena melarikan dri dar wabah penyakit menular itu” (HR Bukhari, Mslim dari Usamah bin Zaid, dalam “AlLukluk wal Marjan”, Muhammad Fuad alBaqi, Bab : Wabah tha’un, dedukunan dan merasa sial dengan sesuatu).

Raslullah pernah) ditanya : “Apakah sekarang ini sudah diketahi mana ahli sorga dan ahli neraka ?”. Jawab Rasulullah : “Ya”. Ditana lagi : “Lalu untuk apakah orang beramal ?”. Jawab Rasulullah : “Tiap orang beramal untuk apa yang telah dijadikan Allah bagnya (untuk mendapai apa yang dimudahkan oleh Allah baginya) (HR Bukhari, Muslm dari Inan bin Hshain, dalam “AlLuklk wal Marjan”, Muhammad Fuad aBaqy, Kitab adar (Takdir/ Ketentuan Allah).

Rasulullah bersabda : “ Tiada seorangpun dari kalian, bahkan tiada suatu jiwa manusia melainkan sdah dientka tempatnya di sorga aa neraka, bernasib baik atau celaka”. Seseorang sahabatnya bertanya : “Ya Rasulullah, apakah tidak lebih baik kita menyerah saja (nattakil) pada ketentuan itu (kitabna) dan tidak usah beramal, maka jika untung akan sampai kepadanya keuntungannya, dan bila celaka maka aan sampai pada binasanya”. Rasulullah menjelaskan : “Adapun orang yang bahagia (beruntung) maka diringakan (sayashiru) untuk mengamalkan perbuatan ahli sa’adah (bahagia), sebaliknya orang yang celaka maka diringankan untuk berbuat segala amal yang membinasakan” (HR Bukhar, Muslim dari Ali, dalam “Matan Shahih Buhari”, Kitab alJanaiz, Bab : “Mau’izhah al muhaddats ‘inda alqabri wa qu’ud ashshabih haulahu”, dan dalam “Tafsir Ibnu Katsir”, jilid IV, hal 18, re tafsir ayat QS 92:5-10 ?.

Menurut Yahya bin Ya’mur, orang ang ertama kal berbicara tentang qadar di Basharah adalah Ma’bad alJuaini, lalu ia (Yahya bin Ya’mar) dan Humaid bin bdurrahman alHimyari (Syaikh Abdurraman Hasan Alu Syaikh : “Fathl Majid”, 2007:922, Bab Mereka yang mengingkar Qadar (Takdir)”.

Allah menentukan sesuatu atas kehendakNya, tidak ada yang dapat mempengaruhinya. Takdir llah tidak dipengaruhi oleh kemauan manusia. Namun demikian, Allah membuka kesempatan bagi manusia untuk berdoa dan memohon kepadaNya. Manusia hanya tahu apa yang telah terjadi dan dialaminya, akan tetapi ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa dating. Segala sesuatu yang terjadi, tidak ada yang diluar kehendak Allah, tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetlan (Prof Dr Zakiah Dradjat : “Takdir Allah”, REPUBLIKA, 26 Desember 1995, “Hikmah”).

Mensyukuri nikmat Allah. Pertama dengan menyadari bahwa nikmat, rahmat Allah yang diterima tidak terhingga banyaknya. Kedua dengan mematuhi, mengikuti ketentuan Allah dalam menggunakan semua nikmat, rahmat Allah yang diterima (Prof Dr Zakiah Dradjat : “Syukur nikmat”, REPUBLIKA, 19 Januari 1996, “Hikmah”).

(BKS0802072045)

Belajar memahami maunya  Allah

(Belajar membuka tabir rahasia ilmu dan kehendak Allah)

“Dan Aku (kata Allah) tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu” (QS 51:56).

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendakiNya, dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya” (QS 16:93).

“Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat” (QS 11:118).

“Sekiranya Allah menghendaki, niscaa kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan” (QS 548).

Seluruh malaikat yang dciptakan Allah mengabdi kepadaNya (QS 2:1). Namun manusia yang diciptakan Allah hanya sebagian kecil yang mengabdi kepadaNya. Padahal semuanya itu diciptakan Allah untuk mengabdi kepadaNya (QS 51:56).

Allah Maha Kuasa. Allah bisa menciptakan  dunia in seperti sorga, aman, tenteram, damai, sentosa, sejahtera. Tapi Allah menghendaki agar manusia itu aktif bergerak dnamis, kreatf menciptakan keamanan, ketenteraman, kesentosaan, kesejahteraan di dunia ini, bukan bersikap statis, pasif, apatis. Dunia ini diciptakan Allah untuk perjuangan, bukan untuk bersenang-senang. Hasilnya dipetik nanti di akirat.

Allah Maha Kuasa. Kuasa merubah sikap mental namruz, Fir’aun, Penguasa Romawi, Abu Lahab dari syirik ke tauhid, dari zhalim ke adil. Namun Allah tak melakukan itu. Ia mengutus utusanNya Ibrahim, Musa, Isa Muhammad saw untuk melakukan tugas itu. Namun semua utusanNya tak berhasil merubah sikap  buruk mental mereka itu.

Allah memberikan kerajaan kepada orang yang Ia kehendaki dan Ia cabut kerajaan dari orang yang Ia kehendaki. Ia muliakan orang yang Ia kehendaki, dan Ia hinakan orang yang Ia kehendaki (QS 3:26).

Allah Maha Kuasa. Kuasa memberikan kekuasaan kepada Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad. Tapi Allah tak memberikan kepada mereka. Allah memberikannya kepada Namruz, Fir’aun, Penguasa Romawi, Abu Lahab.

Allah Maha Kuasa. Kuasa menyelamatkan Ibrahim dari api unggun, menyelamatkan Yunus dari santapan ikan. Kuasa menyelamatkan Ayub dari penyakit, menyelamatkan Zakaria dari gergaji, menyelamatkan Muhammad senjata Quraisy pada perang Uhud. Namun Allah membiarkan Ayub menderita sakit, membiarkan Zakaria kepalanya digergaji penguasa Romawi, membiarkan Muhammad kena lemparan senjata kafir Quraisy.

Allah menyediakan sorga dan neraka. Ini berarti Allah menghendaki mada manusia yang baik saleh, yang akan menjadi penghuni sorga, dan ada manusia ang jahat, taleh, yang akan menjadi penghuni neraka. Oleh karena Allah itu Maha Kuasa, maka Dia tidak ditanya tentang apa yang diperbuatNya, dan merekalah yang ditanyai” (QS 21:23).

Disebutkan bahwa yang mencoba membuat seperti buatan Allah adalah oang zhalim (HR Bukhari, Muslim dari Abi Hurairah, dalam “Riadhus Shalihin”, Imam nawami, “Haram menggambar binatang”. Yang membuat gambar akan disiksa Allah di hari kiamat, dan diperintahkan supaya menghidupkan yang digambarnya” (HR Bukhari, Muslim dari Ibn Umar, idem, simak juga “Fathul Majid” Syaikh Abdurrahman, 2007:928, Bab : “Para Perupa Makhluk Bernyawa”).

Allah Maha Kuasa. Apakah Allah merasa tersaingi oleh manusa yang membuat gambar ? Apaah Allah merasa perlu menunggu sampai hari kiamat untuk menghukum ang membuat gambar ? Apaka Allah merasa tak perlu untuk segera mencegah agar tak sampi mereka itu membuat gambar ?

Malaikat menyaksikan bahwa makhluk yang diciptakan Allah, yang satu memangsa yang lain. Yang satu menumpahkan darah ang lain. Yang satu mersak yang lain. Homo homini lupus. Padaal mereka (malakat) itu senantiasa bertasbih memuji mensuscikan Allah. Namun Allah tak menyangkal yang disaksikan aaikat itu, karena Allah punya padangan lain, “Ia Maha Mengetahui”.

Ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat : “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata : “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan”. Tuhan berfirman : “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS 2:30).

Dari ayat tersebut dipahami bahwa Allah tak menginginkan suasana damai, aman, tenteram, sentosa, tapi suasana homo homini lupus, yang satu memangsa yang lain.

Emha Ainun Nadjib menulis : Untunglah, kata sejumlah orang mulia yang cerdik cendekia : Allah sendiri itu Maha Humor. Sudah enak-enak hidup sendiri, kok bkn macam-macam makhluk anglucu-lucu begini. Apa Dia kesepian. Adam sudah nyaman-nyaman di srga, dibiarkan tercampak ke bumi. Kok luc. A Qldi saja kk ndak boleh dmakan. Mbok, ya bar. Apa sih ruginya han kehlangan sebji Qldi ? Mbok biarkan Adam kawin sama awa di surga, pengantn dan pesta sampai anak turnannya sekarang ni. Kenapa makhluk-makluk itu harus menunggu terlal lama untuk memperoleh kesempatan bercengkerama mesra denganNa. Lucu. Pakai bikin Iblis-Setan segala “Surat Kepada Kanjenga Nabi”, Mizan, Bandung, 1997:182, dari SUARA MERDEKA, 25 September 1992). Jawaban semuana itu terkandng dalam Ak mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” , QS 2:30).

(BKS0801280645)

Bagaimana memahaminya ?

1 Untunglah, kata sejumlah orang mulia yang cerdik cendekia : Allah sendiri itu Maha Humor. Sudah enak-enak hidup sendiri, kok bikin macam-macam makhluk yang lucu-lucu begini. Apa Dia kesepian. Adam sudah nyaman-nyaman di surga, dibiarkan tercampak ke bumi. Kok lucu. Buah Quldi saja kok ndak boleh dmakan. Mbok, ya biar. Apa sih ruginya Tuhan kehilangan sebiji Quldi ? Mbok biarkan Adam kawin sama Hawa di surga, pengantin dan pesta sampai anak turunannya sekarang ini. Kenapa makhluk-makhluk itu harus menunggu terlalu lama untuk memperoleh kesempatan bercengkerama mesra denganNya. Lucu. Pakai bikin Iblis-Setan segala (“Surat Kepada Kanjeng Nabi”, Mizan, Bandung, 1997:182, dari SUARA MERDEKA, 25 September 1992). Jawaban semuanya itu terkandung dalam “Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” , QS 2:30).

2 Penting pulakah Anda menanyakan kenapa Tuan, melalui Nabi Ibrahim, menentukan Ka’bah didirikan di tempat itu ? Adakah karena kebetulan saja kampung Ibrahim memang disitu ? Kenapa pula Tuhan menentukan Ibrahim lahir di negeri dan tanah itu, dan tidak di Timor Timur misalnya ? Bakan kenapa pula seluruh nabi hanya muncul di Timur Tengah ? Kenapa tak dibagi : Cina punya satu nabi, India punya satu nabi, Jawa punya satu nabi, dan seterusnsya ?  Ini pertanyaan bukan untuk “menggugat” Tuhan, melainkan justru untuk membuka pintu rahasia ilmu dan kehendakNa (idem, hal 118, dari SUARA MERDEKA, 18 Juli 1992).

3 Barangkali saja kehidpan memang memiliki watak dn gayanya sendiri : manusia hidup dalam berbagai perbedaan, pertentangan, bahkan kepentingan. Seolah-olah Tuhan sengaja mentakdirkan seseorang menjadi kaya, sementara yang lain melarat, semelarat-melaratnya. Seseorang bisa memiliki sekaligus ratusan perusahaan, yang diperoleh dengan wajar, professional, maupun melakukan bocoran-bocoran birokratisme dan nepotisme, sehinggga setiap saat bisa disewanya seribu pesawat untuk dinaikinya sendirian. Sementara seorang yang lain memeli ratusan map dan kertas surat lamaran kerja yang bertahun-tahun tak didterima oleh kantor perusahaan manapun. Atau membanting tulang daging sehari penuh untuk beberapa ratus rupia (idem, hal 58, dari SUAA MERDEKA, 30 Oktober 1991).

4 Amir Hamzah menggambarkan betapa tak berdayanya, tak mampunya manusia dalam menghadapi kehendak/kekuasaan Tuhan. Manusia dilukiskan seakan-akan hanyalah merupakan permainan belaka, seumpama golek (boneka) dalam permainan wayang untuk menghibur (menyenangkan) sang dalang (Drs Samaun : “Napas Ketuhanan Dalam Puisi Indonesia Modern”, dalam GELANGGANG Sastera, Seni dan Pemikiran, No.2, ahun I, 1967, hal 11).

5 Salah satu dari ucapan Jaham ibnu Shafwan – pemimpin Jabariyah – adalah sebagai berikut : Manusia tidak mempunyai kodrat untuk daapat berbuat sesuatu, dan ia tidak mempunyai “kesanggupan”. Dia hanya terpaksa dalam semua perbuatannya. Dia tidak mempunyai kodrat dan ikhtiar, melainkan Tuhanlah yang menciptakan perbuatan-perbuatan pada dirinya. Dia adalah laksana sehelai bulu yang terkatung-katung di udara, bergerak ke sana-sini menurut hembusan angina (Prof Dr A Syalabi : “Sejarah dan Kebudayaan Islam”, Pustaka alHusna, Jakarta, 1993, jilid II, hal 379).

6 Allah kasih manusia rejeki menurut kemasshlahatan mereka. Ia mengkayakan orang yang memang layak memiliki kekayaan. Dan memiskinkan orang yang memang berhak menjadi orang miskin. Allah lebih tahu apa yang bermashlahat bagi manusia, dan yang tdak bermashlahat bagi mereka (PANJI MASYARAKAT, Jakarta, No.537, dari AlLiwa alIslam).

(BKS9801291345 sentto SUARA MUHAMMADIYAH Yogyakarta)

Menghadapi musibah

Rasulullah saw menyampaikan “Peliharalah perintah Allah, engkau dapatkan Allah didepanmu. Kenalkan dirimu kepada Allah pada waktu senang, niscaya Allah mengingati pada waktu kamu dalam kesukaran. Ketahuilah bahwa sesuatu yang terlepas darpadamu tidak akan mengenai kamu, dan yang menjadi bagianmu tidak akan lepas daripadamu. Ketahuilah bawa kemenangan itu beserta kesabaran, dan kegembiraan itu sesudah kesusahan, dan tiap ada kesukaran akan ada kelapangan (HR Tirmidzi dari Abdulla bin ‘Abbas, dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, Pasal Muraqabah).

“Rajin-rajinlah mengerjakan apa-apa yang berguna dunia akhirat, dan selalu minta bantuan kepada Allah, dan jangan lemah. Jika kau terkena sesuatu, jangan sekli-kali mengatakan “andaikan saya berbuat begini niscaya terjadi begini”. Seharusnya kau berkata “Telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat sekehendakNya” (HR Muslim dari Abi Hurairah, dalam “Riadhus Salhin”, Imam Nawawi, Pasal Mujahadah).

Dalam menghadapi apa yang disebut dengan teror bom, seharusnsya mengucapkan “Telah ditakdirkan Allah, dan Allah berbuat sekehendakNya”.

Penguasa searusnya menenangkan rakyatnya agar tak resah, gelisah. Mengajak rakyat agar mempercayakan urusan keamanan kepada aparat keamanan. Memerintahkan aparat keamanan agar segera bertindak mengembalikan keamanan. Mengajak korban hidup dan keluarga korban agar bersabar, dan meningkatkan kepercayaan akan kekuasaan dan takdir Allah swt. Mengajak para ahli untuk mengkaji apa sebenarnya yang menjadi motif dari pelaku terror bom, sehingga mereka tak pernah kapok/jera. Dan apakah mereka bisa diajak berbicara baik-baik ? Apakah perlu mendengarkan suara nasehat, advis dari pihak asing ?

(BKS0907180715)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s