Gerakan Menegakkan Khilafah

Gerakan Menegakkan Syari’at Islam

Ide, paham, isme tak pernah mati. Bia saja mengendap ke bawah permukaan untuk sementara waktu. Namun sewaktu-waktu bisa pula meledak kepermukaan tanpa terduga. Ide Nazi tak dapat memusnahkan ide Zionis. Ide demokratis tak dapat membasmi ide feodalis sama sekali.
Termasuk ide, paham, isme daerah-kawasan tak pernah lenyap sama sekali. Benih, embrionya tetapa saja tumbuh subur. Salah-benar asalkan sedaerah-sekawasan harus dibela, didukung, dilindungi. Right or wrong my country. Juga ide RMS Soumokil (25 April 1950), benihnya tak akan pernah lenyap sama sekali, baik di indonesia maupun di Belanda. Di negeri Belanda ada terorisme dan gerombolan yang menamakan dirinya anggoa RMS (KIBLAT, no.3/XXV, Juni ke-II, 1977). Pemuda RMS di negeri Belanda pakai lambang Black-Panther (KIBLAT, No.19, Maret ke-I, 1971, hal 23).
Di Persia (Iran) dengan berakhirnya Dinasti Safawi tahun 1722, bukanlah berarti lenyapnya ide Syi’ah sama sekali. Ide Syi’ah dengan taqiyah (taktik)nya tetap hidup yang akhirnya melahirkan negara Syi’ah Iran.
Berkat kegigihan tokohnya yang saling mendukung, ide Zionis-Yahudi berhasil membentuk satu kelompok, memuncu8lkan sebuah gerakan Hibbat Zion (Zionisme) yang pada 14 Mei 1948 melahirkan negara Yahudi Israel (ALMUSLIMUN, No.193, Agustus 1994, hal 60-63)..
Ide, paham, isme untuk menegakkan Kalimatullah, untuk menegakkan Syari’at Islam, untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah tak pernah mati, tak pernah lenyap, tetap saja eksis. Hizbut Thrir Indonesia, selama Juli-September 2002 mengadakan kampanye “Penegakkan Syari’at Islam, dengan agenda antara lain : Dikusi Publik Serial Syri’at Islam, Penerbitan Buku Menegakkan Syari’at Islam”. Di Mesir ada Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan alBanna, Jama’ah Takfir wal Hijir yang dipimpin oleh Syukri Musthafa, alJama’ah alIslamiyah yang dipimpin oleh Dr Umar Abdur Rahman. Di Yordania ada gerakan Hizbut Tahrir yang dipimpin oleh Dr Taqiyuddin annabhani. Di Yaman ada Jama’ah Jihad yang digerakkan oleh Usamah bin Laden. Di Saudi Arabia ada gerakan Quthbiyyah atau disebut juga Sururuiyah (Risalah ALJAMA”AH, No.07/Th.II/2000, hal 13, Kajian Utama).
Jama’ah Islamiyah di Pakistan, didirikan oleh Abul A’la alMaududi yang lahir 1903 di Aurangabad. Jama’ah Islami menyeru padaa tauhid dan menjadikan alQur:an dan Sunnah sebagai landasan dalam seluruh aspek kehidupan. Program dakwah perbaikan yang dilakukan Maududi terdiri dari : pembersihan pemikiran, perbaikan pribadi, masyarakat dan perbaikan system pemerintahan. Maududi menuntut agar kedaulatan Negara hanya bagi Allah, konstitusi Negara ialah syari’at Islam, menghapus semua bentuk perundang-undangan yang bertentangan dengan syari’at Islam dan tidak membenarkan penetapan undang-undang yang menghapus syari’at Islam. Perjuangan Jama’ah Islami menempuh cara-cara konstitusional.
Hizbut Tahrir di Yordania dan juga di brbagai penjuru dunia yang didirikan pada 1953 oleh Syaikh Taqiyuddin Nabhani (1909-1971) kelahiran Ijzim, Haifa, Palestina. Mereka memperjuangkan berdirinya khilafah Islamiyah kembali. Aktivitasnya sangat rahasia. Tahapan perjuangannya dimulai lebih dulu dengan menegakkan Negara Islam di Jazirah Arab, kemudiaan di Negara Islam lainnya. Setelah itu melaaaaaaaaaaaancarkan dakwah ke Negara bukan Islam melalui umat Islam yang sudah terbentuk. Tahapan perjuangannya mulaai dengan pertarungan pemikiran, kemudian revolusi berfikir, terakhir mengambil alih kekuasaan melalui gerakan massa yang harus dilakukan secara menyeluruh. Menurut mereka kewajiban amar makruf nahi munkar merupakan salah satu tugas Negara jika Negara Islam telah berdiri. (1. Tahap pembinaan dan pengkaderan (pertarungan, pergolakan pemikiran). 2. Tahap interaksi dengan ummat (revolusi berpikir). 3. Tahap pengambilalihan kekuasaan (melalui gerakan massa/ummat).).
Ikhwanul Muslimin di Mesir, didirikan oleh Hassan albanna tahun 1941. Langkah-langkah untuk mencapai tujuan dakwahnya : Pertama, memperbaiki diri pribadi. Kedua, membentuk keluarga Islam. Ketiga, membentuk masyarakat Islami. Keempat, membentuk Negara Islam. Kelima, membentuk pemerintahan Islam. Keenam, memerdekan Negara Islam dari penjajah. Ketujuh, menegakkan Daulah Islamiyah. (1.Memperbaikidiri sendiri (Syakhsiyyah Islamiyah, Pribadi Islam). 2. Memperbaiki keluarga sendiri (Usrah, Rumah Taauhid, Keluarga Islam). 3. Memperbaiki masyarakat (ummah Islamiyah, Masyarakat Islam). 4. Islamisasi system politik (Daulah Islamiyah, Negara Islam). 5. Membangun kesatuan Ummat islam Sedunia (‘Alam Islamiyah, Dunia Islam). 6. Membentuk Daulah Islamiyah (Khilafah Islamiyah).) (SUARA MASJID, No.144, September 1986, hal 87, “Butir-butir Kebangkitan Islam daaan Hassan alBanna”, oleh Jamal A Badari).
Jama’ah Takfir wal Hijrah di Mesir. Jama’ah Islamiyah di Mesir. FIS di Aljazair. Hamas di Aljazair. Salamah di Turki. Ja’at ‘Ulum Mujahidin di Irak. Ikhwanuls Muslim di Suriah. Semuanya juga Gerakan Menegakkan Syari’at Islam (SABILI, No.20, Th.VII, 12 Maret 2000, hal 25-27, “Mereka Menebar Benih Negara Islam”, oleh M Lili NA)
Uraian yang memadai tentang Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dapat disimak antara lain dalam buku “Gerakan Keagamaan dan Pemikiran” oleh Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMY, terbitan Al-Ishlahy Press, Jakarta, 1995. Uraian sepotong-sepotong tentang Ikhwanul Muslimin dapat juga disimak antara lain dalam buku “Rekonstruksi Pemikiran Menuju Gerakan Islam Modern”, oleh Musthafa Muhammad Thahhan, “Pidato & Surat-Surat Hasan alBana”, editor Muhammad Hilmy alManjawi, “Otobiografi Hasan alBaana”, oleh Anas alHajaji, SUARA MASJID, No.144, 1 September 1986, ALMUSLIMUN, No.189-192, Desember 1985/Maret 1986).
Tentang Hizubt Tahrir dapat disimak antara lain dalam buku “sistem Pemerintahan Islam”, oleh Taqiyuddin Nabhani, terbitan Al-Izzah, Bangil, 1977 (SAKSI, No.16, Th.II, 5-18 April 2000, hal 4-5).
Pihak, kelompok yang menyebut dirinya sebagai kelompok Salafy, Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang Ikhwanul Muslimin, Hizbut ahrir sebagai firqah harakah Ahlul Hawa wal Bid’ah (aliran sesat menyesatkan).
Semua fiqrah harakah (ormas, orpol, negara) yang berupaya menegakkan Daulah Islamiyah (Khilafah Islamiyah) dengan menempuh jalur politik-parlementer-konstitusional (jalur demokrasi, pemilu, parlemen) yang tidak mensyaratkan khalifah dari Quraisy, yang membai’ah (tunduk patuh pada) khalifah (imam, amair, pemimpin) yang bukan dari Quraisy – menurut Abdul Hakim bin Amir Abdat – adalah termasuk ke dalam firqah harakah Ahlul Hawa wal Bid’ah, yang menempuh thagut, yang menyimpang, menyelisihi sunnah-perjalanan Rasulullah saw bersama para sahabatnya dalam manhajnya (meodenya, caranya), ilmunya (taktiknya), dakwahnya (starateginya). Juga yang berakidah tauhid hakimiyah disamping tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah/ubudiyah. Karena firqah harakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah – dalam pandangan Abdul Hakim – adalah yang membaiah khalifah dari Quraisy untuk seluruh kaum Muslimin apabila telah tegak Daulah Islamiyah (“Risalah Bid’ah”, 201:41,53,87,107,132,137,138,148-150).
Dari kriteria tersebut, tampaknya kini hanyalah yang menyebut diri sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu sajalah yang termasuk ke dalam firqah harakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Abdul Hakim Abdat, Ja’far Umar Thalib pada tahun 1993 aktif dalam Majalah ASSUNNAH. Disamping sebagai Staf Ahli Majalah ASSUNNAH, Ja’far Umar Thalib juga aktif dalam Yayasan ASSUNNAH Yogyakarta.
Ja’far Umar Thalib (kini komandan Lasyakar Jihad Ahlus sunnah wal Jama’ah) mengelompokkan Jamaluddin alAfghani, Muhammad Abduh, Sa’ad Zaghlul, Mahmud Syaltut, Musthafa almaraghi, Muhammad alBahi, Rasyid Ridha, Qasim amin, Hasan alBana ke dalam kelompok Freemasonri, Rafidhah, Mu’tazilah (Majalah ASSUNNAH, Surakarta, No.07/I/1414H-1993M, hal 31).
Jama’ah atTakfir wal Hijrah (di Mesir) diberitakan tak segan-segan mengkafirkan orang yang telah bersyahadat (“Risalah Bid’ah”, 2001:147, No.544, SABILI, No.24, Th.VII, 17 Mei 2000, hal 9).
Tokoh-tokoh Hizbut Tahrir diberitakan memandang bahwa kewajiban amar makruf nahi munkar merupakan salah satu tugas negara, jika negara Islam telah berdiri (SABILI, No.20, Th.VII, 2 Maret 2000, hal 26).
Abdul Hakim menyebutkan bahwa “Diantara bid’ah firqah Hizbut Tahrir ialah menolak Hadits Ahad untuk dasar aqidah” (“Risalah Bid’ah”, 2001:87,132).
Kini ide, paham Ikhwanul Muslimin secara terbuka disebarluaskan oleh Habib Husein alHabsyi yang bersama kawan-kawan antara lain pernah menuntut Sidang Umum MPR dapat mempersiapkan Referendum Nasional dengan Opsi pemberlakuan Syari’at Islam dalam hukum nasional (SABILI, No.15, 5 Januari 2000, hal 55).
Ide, paham Hizbut Tahrir disebarluaskan oleh Syabab Hizbut Tahrir, antara lain dengan menggelar Konferensi Internasional Khilafah Islamiyah di Senayan Jakarta pada 28 Mei 2000 (Risalah ALJAMA’AH, No.07/h.II/2000, hal 12,13, SABILI, No.25, Th.VII, 31 Mei 2000, hal 66). Ide, paham NII disebarluaskan oleh Abu Bakar Ba’asyir, antara lain dengan menggunakan Kongres Mujahidin-I di Yogyakarta pada 5-7 Agustus 2000 (Risalah ALJAMA’AH, idem, dito, SABILI, No.4, Th.VII, 9 Agustus 2000, hal 61).
Ide, paham NII juga disebarluaskan oleh AlChaidar, antara lain melalui Majalah DARUL ISLAM dan websites http://www.darulislamyes.homepage.com. Salah satu programnya seperti diputuskan para ulama dalam Majlis Islam pada Konferensi di Cisayong adalah bersama negara-negara Islam lainnya membentuk Khilafah (Imamah) (Majalah DARUL ISLAM, No.2, Th.II, 12 Agustus 2001, hal 63).
Ide, paham Gerakan Hizbullah (Jama’ah Muslimin) dari Wali alFattah yang diumumkan secara terbukaa pada tanggal 20 Agustus 1953 di Gedung AdHoc Staat (gedung BAPPENAS sekarang, berlanjut dengan Musyawarah Para Alim Ulama, Zu’ama, dan organisasi-organisasi tingkat puncak seluruh Indonesia pada tanggal 15-17 Juli 1974 di Aula Masjid Agung Sunda Kelapa (Risalah ALJAMA’AH, No.07/Th.II/200, hal 4,12, SABILI, No.27, Th.IX, 11 Juli 2002, hal 8-9,12-13), KIBLAT, No.15/XXXI, hal 8).
Abdul Hakim bin Amir Abdat memandang Ikhwanul Muslimin sebagai firqah harakah (kelompok pergerakan) yang menyimpang dan menyelisihi manhaj, ilmu dan dakwah Rasulullah saw (tidak berimam pada orang Quraisy). Memandang Hizbut Tahrir sebagai firqah yang sesat dan menyesatkan (menolak haidts ahad untuk dasar aqidah). Memandang bahwa Islam Jama’ah (Nurhassan alUbaidah) dan Jama’ah Muslimin (Wali alFattah) awalnya satu atap dan mereka sesat dan bodoh terhadap Islam. Memandang NII sebagai Ahlul Bid’ah dari firqah yang sesat dan menyesatkan, dan mereka yang diawali oleh pendirinyaa dan seterusnya jahil, bodoh diatas kebodohan (jahil murakab) dalam memahami Qur:an dan Sunnah Risalah Bid’ah”, 2001:132-134).
Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sendiri, sebagaimana Abdul Hakim merasa dirinya sebagai Ahlus Sunnah wal Jama’ah (Risalah ALJAMA’AH, No.07/Th.II/2000, hal 12,13, SABILI, No.27, Th.IX, 11 Juli 2000, hal 8-9,12-13). Demikian pula Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir dan NII merasa dirinya sebagai Ahlus Su wal Jama’ah.
Dalam kondisi kini, alangkah baiknya Ikhwanul Muslimin Indonesia, Hizbut Tahrir Indonesia, Mujahidin, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dan semua gerakan yang menginginkan tegaknya Syari’at Islam bersatu padu dan bersedia membai’at Abu Bakar Ba’asyir, pimpinan Mujahidin sebagai Qaidh Ghazwul Fikri, Panglima Perang Urat Saraf menghadapi teroris Amerika Serikat dan Sekutunya.
posted by Kami Menggugat at 8:40 PM
Kartosoewirjo dan Khilafah

Kartosoewirjo sebenarnya telah memulai langkah merintis menuju khilafah. Bulan Mei 1948 membentuk Dewan Imamah, Undang-undang Dasar Negara Islam Indonesia (Qanun Asasi). Konsep penjelasannya yang terdiri atas 10 pokok disusun pada bulqan Agustus 1948. Dengan demikian secara formal Negara Islam telah berdiri.

Dalam musyawarah dengan petinggi-petinggi Dewan Imamah dan unsure-unsur yang terkait de desa Cisampah, kecamatan Cilugalar, kewedanaan Cisayong, Tasikmalaya 7 Agustus 1949 dicanangkan tujuh langkah untuk mewujudkan terwujudnya khilafah “Negara Karunia Allah” di muka bumit.

Pertama mendidik rakyat agar cocok menjadi wargaa Negara Islam. Kedua memberikan penerangan bahwa Islam tidak bias dimenangkan dengan Plebesit/Referendum/Pemilu. Ketiga membentuk daerah basis. Keempat memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Meskipun daerah basis belum mencukupti, namun karena desakan situasi, maka diproklamirkanlah berdirinya Negara Islam Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949 di desa Cisampah. Kelima memperkuat Negara Islam Indonesia ke dalam dan keluar. Kedalam : Memberlakukan Hukum Islam dengan seluas-luasnya dan sesempurna-sempurnanya. Keluar : Meneguhkan identitas internasionbalnya, sehingga mampu berdiri sejajar dengan Negara lain. Keenam membela perjuangan Muslim di Negara-negara lain. Ketujuh bersama Negara-negara Islam yang lain membentuk Dewan Imamah Dunia untuk memilih Khilafah, agar tegak Khilafah “Negara Karunia Allah” di muka bumi.
(DARUL ISLAM, No.2, Tahun II, 12 Agustus 2001, hal 61-63, Kolom : “Imam Kartosoewirjo dan Revolusi Islam (3) oleh AlChaidar)

(BKS 0903061000)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s