Mencari Sistem Pendidikan

Mencari Sistem Pendidikan Secara apriori (tanpa data statistik) generasi masa lalu (generasi 1928) lebih unggul dari generasi kini (generasi 1982). Secara akademis, pada usia dan profesi yang relatif sama, Soekarno jauh lebih berbobot dari Yudhoyono. Demikian pula Agus Salim dari Wirayuda. Hamka dari Amidhan. Prawiranegara dari Budiono, Wahid Hasyim dari Gus Dur. Dan lain-lain. Hal ini apakah disebabkan oleh karena Sistem Pendidikan masa lalu lebih berbobot dari Sistem Pendidikan masa kini. Kwalitas pendidik (keilmuan, keteladanan, kedisiplinan, kewibawaan, kepribadian pendidik) masa lalu lebih berbobot dari masa kini. Lingkungan pendidikan (bangunan fisik, budaya, globalisasi) masa lalu lebih mendukung dari pada masa kini. Kurikulum pendidikan (tujuan, materi, sarana pendidikan) masa lalu lebih berbobot dari masa kini ? Jika jawabannya “ya”, maka terletak pada pundak para pakar pendidikan di bawah komando Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengkaji ulang Sistem Pendidikan, sekaligus menata ulang dan merumuskan Sistem Pendidikan yang harus diterapkan agar outputnya menghasilkan generasi yang lebih berbobot dari generasi masa lalu. (BKS0903111015) Pendidikan kepioniran Dimana pun, kapan pun, di bidang kehidupan apa pun senantiasa dibutuhkan pionir-pionir, pelopor-pelopor, perintis-perintis. Aktivitas para pionir, pelopor, perintis akan memotivasi, mendorong, menulari orang-orang yang berada di sekitarnya, di sekelilingnya untuk aktif bergerak merubah nasib, harkat, martabat, kondisi sosial ekonomi mereka. Langsung maupun tak langsung sangat dibutuhkan pendidikan kepioniran, baik formal maupun informal. Namun sayang tak pernah terlihat, tercatat dalam sejarah tentang pendidikan kepioniran dan bagaimana kurikulum pendidikannya. Segala sesuatu umumnya dimulai oleh satu orang ahli pikir. Segala macam pekerjaan konstruktif yang diciptakan di atas dunia ini adalah hasil pekerjaan beberapa orang yang biasanya harus pula berhadapan dengan bermacam-macam tentang yang aktif dari orang banyak itu (Herbert N Casson : “Kunci Rahasia Perusahan”, terbitan w van Hoeve, Bandung, 1953:13,37). Perubahan dan kemajuan sebuah bangsa selalu diinspirasikan dan digerakkan oleh pribadi-pribadi unggul dalam berbagai profesi dan bidang kehidupan (Komaruddin Hidayat : “Memadukan Pribadi-Pribadi Unggul”, KOMPAS, Sabtu, 4 Februari 2004, hal 7, Opini). Di antara sosok pionir ini dapat disimak antara lain dalam buku Egon Larsen “Kisah Penemuan Dari Masa Ke Masa” (A History of Invention) (terbitan Djambatan, Jakarta, 1978), buku Trevor Horner “Bagaimana Awalnya Viagra Ditemukan, dan Mengapa Mumi Memakai Gigi Palsu ?” (Bagaimana Dunia Bekerja Dan Berakhir Dengan Menghasilkan Sesuatu) (terbitan Ufuk Press, Jakarta, 2008) (MEDIA INDONESIA, Sabtu, 13 Desember 2008, hal 15, Galeri). Barangkali Mohammad Syafe’i dengan INS (boarding school) nya di Kayutanam, Sumatera Barat dapat dipandang sebagai pelopor, perintis, pediri pendidikan kepioniran. Namun sayang INS tersebut tak berumur panjang dan tak ada yang melanjutkan apa yang telah dirintis oleh Mohammad Syafe’i. Tanpa munculnya pionir-pionir, mustahil terjadi kemajuan. Kemajuan itu adalah hasil dari para pionir, baik langsung, mau pun tak langsung. Di mana tak ada sang ponir, maka masyarakat tetap saja dalam ketertinggalan. Pionir-pionir itu akan diikuti oleh orang-orang sekitar, orang-orang sekeliling dalam menghadapi berbagai tantangan hidup. Diharapkan kiranya ada orang-orang yang peduli agar lahir pionir-pionir di segala aktivitas bidang kehidupan. (BKS0812151645)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s