Antara sikap mental emosional dan rasional

 

Antara budaya emosional dan budaya rasional

 

Budaya kita, budaya Indonesia adalah budaya emosional (otot, okol). Tradisi mudik lebaran merupakan salah satu wujud budaya emosional. Acara selamatan, acara tahunan juga wujud budaya emosional. Bahkan tampilnya isteri pejabat bersama suami dalam acara resmi adalah juga budaya emosional. Budaya emosional bisa saja ditemukan di Timur, bahkan bisa pula di Barat. Tak ada bedanya antara Timur dan Barat dalam mengadopsi budaya emosional. Tegasnya budaya emosional bukanlah khusus budaya Timur, bukan juga budaya Barat. Tayangan televisi menyuburkan budya emosional. Tayangan pornografi, pornoaksi dan tayang mistik, klenik adalah sebagian kecil yang menyuburkan budayaa emosional.

 

Tujuh puluh tahun yang lalu, secara sengit, seorang pemuda, Sutan Takdir Alisyahbana (waktu itu masih berusia 27 tahun) mengkritik budaya kita, budaya emosional. Dalam karangannya yang berkepala “Synthesa Antara Barat dan Timurr”, tersimpul pokok pikiran Sutan Takdir Alisyahbana, yang secara tegas mengemukakan bahwa “Bangsa kita harus mengambil Islam yang nuchter” (dinamis, aktif, berkobar, bergelora, menyala) atau dengan mengambil levenshouding Barat” (“Polemik Kebudayaan”, 1948:100). Dalam karangannya yang berkepala “Semboyan yang Tegas”, Sutan Takdir Alisyahbana menegaskan bahwa “Indonesia sekarang perlu akan putera yang tajam pikirannya, individu yang mempunyai pikiran, pemanangan dan perasaan sendiri, yang tahu mengemukakan dan mempertahankan kepentingan dan haknya yang senantiasa berdaya upaya memperbaiki kehidupan dan penghidupan lahir batin” (idem 1948:40). Dengan susunan kata lain, dalam karangannya yang berkepala :”Pekerjaan Pembangunan Bangsa”, Sutan Takdir Alisyahbana menegaskan “… cara bekerjanya tidak lain daripada mendidik manusia baru, mendidik jiwa baru, yang satu cabang daripada kebudayaan internasional sekarang yang memakai tiang-tiang agung rasionalisme, individualisme dan positivisma, atau dengan pendek : “het moderne denken” (Idem 1948:136). Ringkasnya, Sutan Takdir Alisyahbana mengusung “Westernisme”, budaya rasional yang berakaar pada intelektualisme, individualisme, egoisme, materialisme.

 

Tak seorang pun yang sejalan dengan Sutan Takdir Alisyahbana. Bahkan semua lawan polemiknya yang juga lebih senior (lebih tua) daripada dia lebih menyukai mempertahankan budaya emosional yang diperkaya dengan budaya raasional. Tegasnya lebih menyukai “Synthesa Antara Barat dan Timur”. Meskipun semua yang terlibat dalam polemik itu sama-sama intelek, namun tingkat kekritisannya berbeda-beda. Keintelekan seseorang tak menjamin akan berpikir logis-rasional. Budaya emosional lebih terkait pada dominasi mempertahankan tradisi. Tegasnya budya tradisional aalah budaya emosional

 

Revolusi kebudayaan terbesar yang pernah terjadi di sepanjang sejarah dunia adalah revolusi dari budaya syirik ke budaya tauhid yang dilancarkan oleh para Nabi sejak Nuh as sampai Muhammad saw. Budaya syirik berakar pada ideology, akidah syirik, sedangkan budaya tauhid berakar pada ideology, akidah tauhid.

 

Menurut Abu A’a alMaududi, bentuk pekerjaan yang dilakukan para Nabi dan Rasul aalah mencetuskan, melaksanakan pergolakan ideology, revolusi wawasan, membentuk, mengatur gerakan revolusi poltik, menegakkan, memberlakukan hukum-hukum Allah, hukum-hukum Islam (“Sejarah Pembaruan dan Pembangunan Kembali Alam Pikiran Agama”, 1984:39).

 

 

 

(BKS0901191100)

 

Bagaimana cara Islam menghentikan tindak kekerasan ?

 

  1. Bagaimana tuntunan Islam untuk menyelesaikan sengketa keluarga ?

  2. Bagaimana tuntunan Islam untuk menyelesaikan sengketa kelompok ?

  3. Bagaimana tuntunan Islam untuk menyampaikan pendapat ?

  4. Bagaimana tuntunan Islam untuk menyalurkan kemarahan ?

  5. Bagaimana tuntunan Islam dalam berkomunikasi ?

  6. Bagaimana tuntunan Islam dalam bergaul dengan yang bukan Islam ?

 

 

Ada daya tariknya ?

 

  1. Apa daya tarik dukun cilik Ponari di Jombang, sehingga orang berbondong-bondong, berduyun-duyun berkunjung mendapat kesembuhan sakit ? Apakah karena batu, yang disebutkan sebagai batu ajaib, yang bila dicelupkan ke dalam air, maka airnya dapat mengobati berbagai penyakit ?

  2. Apa daya tarik Agus Imam Solihin, sehingga orang beramai-ramai mengakuinya sebagai Tuhan ?

  3. Apa daya tarik Lia Eden, sehingga orang beramai-ramai mengakuinya sebagai Malaikat Jibril ?

  4. Apa daya tarik Ahmad Mossadeq, sehingga orang beramai-ramai mengakuinya sebagai AlMasih AlMau’ud ?

  5. Apa daya tarik Ustadz Haryono, sehingga orang beramai-ramai mendatangi majlis dzikirnya ?

  6. Apa daya tarik Mama Dedeh, sehingga orang beramai-ramai menyaksikan tayangan Aa dan Mama ?

  7. Kenapa tak terlihat lagi orang berbondong-bondong masuk Islam (QS 10:1-2). Apa karena tak ada lagi pertolongan Allah ? Apa karena Islam sudah tak punya daya tarik lagi ?

 

 

Semuanya ini apa karena sikap mental kita yang emosional-taqlidi, vertikal-feodal, dan bukan rasional-ijtihadi, horizontal-demokrat ?

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s