Taqarrub ila Llah (Kesalehan ritual dan kesalehan sosial)

Dalam berbagai nash alQur:an dan asSunnah, keimanan selalu dibarengi amal saleh. Ini menunjukkan bahwa keimanan yang berpangkal pada kalimat syahadat, harus diikuti dengan amal saleh sebagai konsekwensi yang dituntut oleh kalimat syahadat itu (Tabloid REPUBLIKA, “Dialog Jum’at”, 28 November 2008, hal 16, “Sedekah Roadmap”).

Dari surah al’Ashr dipahami bahwa kesempurnaan manusia itu hanya bisa tercapai dengan iman (untuk menempurnakan kekuatan ilmiahnya), dengan amal saleh untuk menyempurnakan kekuatan amaliahnya), dengan nasehat kepada kebenaran dan nasehat kepada kesabaran menghadapinya (“Madarijus Salikin” Ibnu Qayyim, terbitan Pustaka AKautsar, Jakarta, 2008:29).

Dari ayat 177 surah alBaqarah setidaknya ada 17 ciri orang yang bertakwa. Lima yang pertama adalah aspek keyakinan atau akidah (Beriman kepada Allah, Hari Kiamat, Malaikat-Malaikat, Kitab-Kitab, Nabi-Nabi), Empat lainnya amalan fardhiyah (Shalat, sabar dalam penderitaan, sabar dalam peperangan). Delapan berikutnya berupa amalan sosial (berinfaq kepada kerabat, anak-anak yatm, orang-orang miskin, musafir, peminta-minta, hamba sahaya, menunaikan zakat dan menepati janji). (Simak juga QS 4:36). Dengan demkian, maka amal sosial merupakan perwujudan nyata dari keimanan. Atau dengan kata lain, amal sosial itu juga merupakan wujud nyata taqarrub ila Llah.

Dalam setiap momentum umat Islam selalu bermuatan ibadah ritual dan sosial. Misalnya, puasa Ramadhan disempurnakan dengan sedekah. Idul Fitri digenapkan sebelumna dengan zakat fitrah. Ibadah haji dilengkapi dengan kurban (“Dialog Jum’at” REPUBLIKA, 28 November 2008, hal 16).

Secara sosiologis-antropologis, taqarrub ila Llah dengan menyantuni fuqara-miskin (Kultum menjelang buka puasa lewat RCTI, Senin 1 Oktober 2007, 1800 oleh Quraisy Syihab).

Disebutkan dalam satu hadits shahih (Riwayat Muslim dari Abi Hurairah) bahwa Allah berfirman pada hari Kiamat : “Wahai hambaKu, Aku meminta makan kepadamu, namun kamu tidak memberiKu makan … Bila kamu memberi makan (orang yang minta makan kepadamu), niscaya kamu mendapatkan yang demikian itu (rahmat keridhaan) di sisiKu ( “Madarijus Salikin” Ibnu Qayyim, 2008:541-542).

Yang memberi makan yang lapar, yang memberi minum yang dahaga, yang menengok yang sakit, dikategorikan sebagai yang mendapat rahmat-ridha Allah. Sedangkan yang tsak peduli akan yang melarat, yang lapar diindikasikan sebagai yang tak peduli akan Islam (Simak antara lain QS 107:1-3, 28:76-77).

Optimisme eskatologis (harapan zaman akhir) harus diwujudkan dan dikembangkan menjadi optimisme yang kontekstual (harapan yang membumi). Kesalehan ritual harus disertai dengan kesalehan sosial. Soldaritas sosial harus diprioritaskan dari demokratisasi politik. Demokratisasi politik harus berbuah pada penghargaan kehidupan tercukupinya kebutuhan dasar manusia. Bila masih ada manusia miskin, menderita kelaparan, merasa tidak aman, itu mengindikasikan bahwa belum berkembang hidup yang demokratis (Simak KOMPAS, Sabtu, 12 Juli 2008, hal 6, Tajuk Rencana : “Solidaritas Sosial dalam Krisis”).

Islam mengajarkan agar mengarifi, memperhatikan kehidupan sesama, agar memanfa’atkan harta kekayaan untuk kepentingan bersama supaya memperoleh kebahagiaan akhirat. simaklah seruan kaum Qarun (Raja Konglomerat) kepada Qarun yang diabadikan dalam QS 28:77. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Bentuk solidaritas sosial yang lain adalah tidak berbuat kerusakan di muka bumi. Termasuk ke dalam berbuat kerusakan adalah menimbulkan perubahan iklim, pemanasan global. Kerusakan tersebut berdampak pada kekeringan, bencana alam, bencana sosial. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia” QS 30:31.

Simak dan pahamilah sabda Rasulullah berikut secara sosiologis – antropologis : ” Jagalah dirimu dari api neraka, walau dengan sedekah separuh dari biji kurma ” (HR. Bukhari, Muslim dari Ady bin Hatim, dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, pasal “Pemurah dan Dermawan dalam Kebaikan”).

(BKS0812131745)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s