Perubahan Sosial

Imam kami

Imam kami

Di kalangan Sosiologi, perubahan masyarakat (social change) itu umunya dengan tiga ragam/macam pendekatan, yaitu konservatif (evolusioner), reformatif dan radikal (revolusioner). Perubahan social itu memerlukan seorng panutan. “Ideologi dan figure adalah sesuatu yang harus menyatu” (Buletin Dakwah AL-MIMBAR, Edisi No.37, 21 Sept 2007, hal 5).

Bahkan segala macam pekerjaan konstruktif yang diciptakan diatas dunia ini adalah hasil pekerjaan beberapa orang. Segala sesuatu umumnya dimulai oleh satu orang ahli piker (Herbert N Casson : “Kunci Rahasia Perusahaan”, 1953:13,37).

Perubahan dan kemajuan sebuah bangsa selalu diinspirasi dan digerakkan oleh pribadi-pribadi ungul dalam berbagai profesi dan bidang kehidupan (Komaruddin Hidayat : “Merindukan Pribadi-Pribadi Unggul”, dalam KOMPAS, Sabtu, 6 Februari 2006, hal 7, Opini).

Sebelum Islam datang, Zaid bin ‘Amr, ‘Utsman bin alHuwarits, ‘Ubaidillah bin Jahsy dan Waraqah bin Naufl adalah sosok Quraisy yang anti penyembhan berhala, anti system sekuler-jhili (Muhammad Husain Haekal, 1984:80-83). Namun mereka semua sama sekali tidak melakukan perubahan sosial apa pun. Demikian juga Muhammad bin Abdullah al Amin sampai berusia empat puluh tahun pun sama sekali tidak melakukan perubahan sosial. Barulah Muhammad Rasulullah saw yang dipilih Allah bertindak melakukan perubahan sikap mental, perubahan system sosial dari sekuler-jahili ke spiritual-islami. “Muhammad sudah dipersiapkan Allah untuk menjalankan risalahNya” (idem, 1984:59).

AlQur:an merupakan factor yang menentukan untuk menarik perhatian masyarakat pada masa perumusan dakwah Islam. Pada waktu Muhammad Rasulullah saw tidak mempunyai tenaga dan kekuatan fisik (Saiyid Quthub : “Seni Penggambaran dalam AlQur:an”, 1981:5). Tapi, seandainya bukan Muhammad Rasulullah saw, tetapi Abu Bakar atau Ali misalnya yang menyampaikan alQur:an, mka hasilnya belum tentu akan dapat mencapai sege,ilang itu. Jadi sosok pribadi Muhammad Rasulullah saw tetp merupakan faktor yang ikut menentukan keberhasilan dakwah. Perubahan sosial terkait dengan sosok penggeraknya. “Barang bagus memerlukan penjual terampil. Sosok Muhammad Rasulullah saw jauh mengunguli setiap insane di setiap zaman di setiap waktu” (Khalid Muhammad Khalid : “Kemanusiaan Muhammad”, 1984:1). Kehadiran sosok perubah sosial bukanlah dihasilkan oleh situasi kondisi sosial, tetapi semata-mata dilahirkan, diciptakan oleh Allah swt.

Di samping berita yang menyatakan bahwa yang ditinggalkan oleh Muhammad Rasulullah saw adalah alQur:an dan asSunnah, ada pula berita yang menyatakan bahwa yang ditinggsalkan oleh Muhammad Rasulullah saw adalah alQur:an dan Ahlulbait. Dengan pimpinan alQur:an Ahulbait terpeliharalah Masyarakat Islam (HR Muslim dari Yazid bin Hayyan dalam “Riadhus Shalihin” Imam Nawawi, pasal “Menghormati Keluarga Rasulullah saw”).

Apapun nmanya, apakah Imam Mahdi, Ratu Adil adalah sosok perubah sosial yang senntiasa ditunggu-tunggu kehadirannya. Sejarah mencatat, meskipun sama-sama mengacu pada alQur:an dan asSunnah, meskipun sama-sama langsung dibina, dididik oleh Muhammad Rasulullah saw, namun pada masa Utsman bin Affan terjadi Fitnah Pertama, dan pada masa Ali bin Abi Thalib terjadi Fitnah Kedua, dan pada masa selanjutnya terjadi fitnah-fitnah berikutnya. (Kini musuh Islam memfitnah Islam dengan film Fitna). Jadi tidaklah cukup hanya mengandalkan alQur:an dan asSunnah saja tanpa kehadiran sosok seperti Muhammad Rasulullah saw agar terwujud Masyarkat Islami, Masyarakt IMTAQ, Masyarakat Tauhid, Masyarakat Adil Makmur.

(BKS0805170615)

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s