Simalakama Pendidikan

Imam kami

Imam kami

 

 

Beraneka ragam pertanyaan di seputar pendidikan tetap saja terkatung-katung di hulu, tak sampai ke hilir (hampir-hampir tak pernah selesai secara tuntas). Antara lain : Manakh yang harus jadi subyek ? (dan mana pula yang harus jadi obyek ?). Apakah guru ataukah kurikulum ? Ataukah sebaliknya ? Apakah tabungan pendidikan perlu diadakan ? Apakah pengajaran Matematika dan IPA perlu dibenahi ? Apakah Pendidikan Budi Pekerti masih diperlukan ? Apakah peneliti amatir perlu ditumbuhkan ? Apakah Ebtanas perlu dipertahankan ? Ada yang menghendaki dihaspus. Ada pula ayang menghendaki dipertahankan, meskipun ada beragai penyimpangan.

Apakah NEM perlu dipertahankan ? Apakah sistim peringkat (ranking) perlu dipertahankan ? Ada yang memandangnya sebagai praktek pendidikan yang keliru. Ada pula yang memandang taka ada salahnya. Dan ada lagi yang memandangnya bukan suatu jaminan (dengan atau tanpa peringkat).

Tolok ukur pendidikan itu apa ? Sementara pengamat menganggap bahwa anak didik yang cerdas adalah yang mampu banyak menbghapal. Anak didik yang baik adalah yang patuh pada guru dan yang mampu mereproduksi apa yang sudah diajarkan oleh guru atau yang tertera di buku secara persis (siswa beo-robot). Jumlah kelulusan dipandang sebagai tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan pendidikan, juga keberhasilan guru, kepala sekolah, bahkan Kanwil Depdikbud. Pengamat lain mengusulkan agar anak didik diransang untuk memiliki kebaranian untuk berani bertanya, mencoba, diberi kesempatan berbeda pendapat dengan gurunya dan membuat alternatif lain. Berbeda pendapat bukan sesuatu yang kurang ajar. Mungkin yang disampaikan itu salah, tapi jangan begitu muncul berbeda lalu sudah dilarang, meskipun guru perlu meluruskannya/memperbaikinya kemudian. Ketidakberanian bertanya dapat menumbuhkan kurang percaya diri yang nantinya berkembang menjadi budaya minta petunjuk, budaya takaut berbeda pendapat.

Adalah penting membudayakan anak bertanya dan mengemukakan ide (bertanya kreatif dan alternatif). Di Perguruan Tinggi di Amerika, mahasiswa yang mendebat sang Dosen mendapat acungan jempol.

Pendidikan kita hendak kemana ? Sementara pihak menghendaki gungsi pendidikan ialah mencerdaskan bangsa, menjadi inovator, mengubah lingkungan (stimulator), memberti sumbangan kepada kemajuan ekonomi dan seterusnya. Pihak lain memandang bahwa strategi pendidikan dewasa ini mestinya mengacu pada kemampuan dalam IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) untuk mengembangkan ekonomi dan bukan lagi pada keunggulan dalam ilmu-ilmu humaniora. Pendidikan tak perlu lagi bersusah payah menanamkan kesadaran tentang kebebasan, kemerdekaan, keadilan, serta hak-hak manusia, tetapi cukuplah menyajikan IPTEK dan ekonomi yang langsung berdampak pemenuhan kepentingan di bawah pusar/pinggang (perut dan kelamin versi Freud). Pendidikan berfungsi untuk menyiapkan tenaga kerja untuk mengerjakan teknik-administrasi/operasi dengan lancar, yang memiliki ketrampilan memijat tombol dalam industri mekanis (the push button skills in a mechanized industry) untuk memperbesar modal (kekayaan) para pemilik modal (konglomerat).

Dulu pemerintah kolonial Belanda pernah mencetak inlanders-alat dalam produksi, perdagangan, administrasi, kehutanan, kepolisian, kejaksaan, dan kepenjaraan kolonial. Kini rakyat harus bekerja keras dalam rangka meningkatkan komoditi untuk kepentingan kolusi konglomerat-birokrat-teknokrat, dalam rangka merintis “sistim-cultur-stelsel gaya baru”, karena kehidupan kaum melarat tergantung dari kantong para konglomerat (Engkongnya si Melarat).

Sekolah harus mengabdi pada SDM (Sumber Daya Manusia/Insani) yang diperlukan bagi industri. Sekolah mesti memberikan yang terbaik pada para pelaku ekonomi. Sekolah harus mengabdi pada industri.

Sistim ganda di lingkungan sekolah kejuruan (sekolah kerja) bertujuan untuk mendekatkan dunia pendidikan dengan dunia industri dan menyeimbangi perkembangan/kemajuan teknologi yang sangat pesat.

Pendidikan harus mengabdi pada konglomerat (lokal dan asing). Karena itu kalangan pengusaha/dunia usaha dituntut untuk berperan aktif menyumbangkan dana, tenaga, pemikiran (funds and forces, material and spiritual, duit dan ide) bagi dunia pendidikan yang nantinya akan berkiprah/mendukung bagi peningkatan/kemajuan dunia industri. Organisasi-organisasi perusahaan sejenis (traders unions) pemilik modal seyogianya menyelenggarakan kurusus-kursus latihan kerja untuk mendidik tenaga kerja yang memiliki ketrampilan khusus yang mampu melayani mesin otomatis.

Dulu pernah didirikan “Sekolah Pembangunan” (comprehensive educational programs, a la Amerika) sekitar tahun 1970, tetapi akhirnya mengalami kegagalan, tersingkir/terdepak/tergusur ke pinggir oleh industri pabrik milik para konglomerat. Kemudian menyusul “Sekolah Teknologi Pembangunan” yang mengajarkan ketrampilan dasar (the basics skills).

Pendidikan yang berorientasi pada industri besar (pabrik raksasa) disadari atau tidak telah mengancam kelangsungan kehidupan industri rumah tangga (kerajinan tangan) yang padat karya, yang banyak menyerap/menyedot tenaga kerja. Industri rumah tangga komponen/barang elektronika di desa Cisantan, Cigugur, Kuningan yang dikelola oleh Karang Taruna setempat misalnya dapat saja terancam oleh keberadaan pabrik komponen elektrronika.

Dulu setelah Proklamasi, sebelum ORLA ada gagasan nasionalisasi modal/perusahaan asing (khususnya kolonial Belandan dan Jepang). Tapi kini malah berangkulan, bermesraan, mengundang modal/perusahaan asing (materialisme-kapitalisme) menjadi raja (tuan rumah) di tanah air sendiri (yang sudah merdeka), dengan dalih bahwa kita masih perlu waktu untuk melakukan alih teknologi maju-canggih ke bumi terkaya ini. Kini di kawasan industri Cikarang tersedia lahan kawasan industri bagi ratusan ivestor. Tak diberitakan berapa jumlah kekayaan rakyat setempat yang tergusur, tersedot. Juga tak tak diberitakan seberapa jauh tingkat kesejahte4raan rakyat sekitar kawasan industri naik dengan keberadaan investgor ini. Dan seberapa jauh sumbangan investor terhadap pembinaan SDM (termasuk sarana/prasarana pendidikan dan peribadahan) rakyat sekitar.

Kecerdasan (otak), kemaaauan, kemampuan dan kesempatan harus berhadapan dengan survival of the fittest dalam mengantisipasi segala ketinggalan, baik di bidang hukum, teknologi, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain sebagainya. Mengacu pada tujuan pendikan nasional, sudah berapa prosenkah kenaikan tingkat manusia Indonesia yang berkreasi dan berketrampilan tinggi, yang berakhlak dan berkepribadian luhur, yang berjiwa kesetiakawanan sosial, yang telah merasakan kemakmuran ? (gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta reharja).

Mutu pendidikan kita bagaimana ? Masalah kurikulum, kemampuan guru, anggaran serta prasarana pendidikan yang kurang memadai, merupakan sebagian unsur pengganjal, penyebab masalah mutu pendidikan. Kedudukan dan kehidupan ekonomi para guru dan pengajar di Indonesia sangat memprihatinkan, menyedihkan, memilukan. Banyak guru yang merasa terasing dari masyarakatnya, terisolasi dari perkembangan IPTEK, entah karena situasi ekonomi, maupun situasi budaya. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, antara lain agar anggaran pendidikan dan kesejahteraan guru diprioritaskan. Di samping itu perlu diciptakan sikon/suasana yang menunjang sehingga guru menjadi mandiri, merdeka, memiliki otonomi, tak terikat dan terbelenggu secara ketat oleh lingkungan dalam pelbagai jaringan sistim birokrasi. Guru tidak lagi menjadi budah pemerintah daerah, pemerintah pusat, BP7 dan tuntutan masyarakat. Guru yang bebas, yang kreatif, yang otonom, secara obyektif lebih mampu menghasilkan produk pendidikan yang bermutu.

Anak didik harus dipicu dan dipacu untuk melakukan kompetisi, menjadi manusia yang kompentitif, yang bersedia bersaing/bertanding memenangkan kompetisi, sekaligus mengalahkan lawan. Diiuskan bahwa manusia yang tempat tinggalnya beriklim panas (tropical man) seperti manusia Indonesia, bermental santai, bermalas-malas, berwatak kolektif (perkawanan, kerjasama, gotong royong), takut bertanding/berkompetisi sendirian. Sedangkan manusia yang kondisi alam tempat mereka hidup bermusim salju (dingin) memiliki sikap mental, etos kerja yang tinggi. Bekerja dan berpikir keras menjadi tradisi dalam kehidupan mereka. Punya watak individualistis, kompetitif (berani bertanding, berkompetisi sendiran). Amak-anak oleh sistim pendidikan disiapkan hanya untuk melayani kebutuhan konglomerat yang menguasai industri (KOMPAS, Rabu, 23 April 1997, hlm 5, “Terkait dan Sepadan ?” (Link and Match), oleh Like Wilardjo). Meskipun sama-sama non-tropical man, Jepang baru maju setelah Restorasi meiji, sedangkan Eropah setelah Revolusi Industri, juga negara selatan kalah maju dari utara. Sebelum Revolusi Industri, kehidupan non-tropical man tak lebih maju dri tropical man. Apa jasa, sumbangan kebijakan pemerintahan, pendidikan terhadap Revolusis Industri.

Di Indonesia mudah sekali mendapatkan pembantu dan gajinya rendah sekali, sehingga orang asing yang berdiam di Indonesia dapat bersantai, bertanding, berkompetisi sendiran). Amak-anak oleh sistim pendidikan disiapkan hanya untuk melayani kebutuhan konglomerat yang menguasai industri (KOMPAS, Rabu, 23 April 1997, hlm 5, “Terkait dan Sepadan ?” (Link and Match), oleh Like Wilardjo). Meskipun sama-sama non-tropical man, Jepang baru maju setelah Restorasi meiji, sedangkan Eropah setelah Revolusi Industri, juga negara selatan kalah maju dari utara. Sebelum Revolusi Industri, kehidupan non-tropical man tak lebih maju dri tropical man. Apa jasa, sumbangan kebijakan pemerintahan, pendidikan terhadap Revolusis Industri.

Di Indonesia mudah sekali mendapatkan pembantu dan gajinya rendah sekali, sehingga orang asing yang berdiam di Indonesia dapat bersantai, bermalas-malas, karena pekerjaan rutin sehari-hari dikerjakan oleh beberapa orang pembantu rumah tangga (PRT). Tapi di Inggeris, yang mampu menggaji seorang pembantu adalah para milyuner.

Richard Dawkins (The Selfish Gene, 1976) menyebutkan bahwa hanya kebudayaan yang terkuat saja yang akan mampu bertahan hidup. Demikian juga individu, masyarakat, bangsa yang kuat yang akan bertahan (dalam survival of the fittest). Yang kuat dan yang lemah harus bertanding dalam kedudukan yang sama agar tetap bvisa hidup. (Tak ada Kesetiakawanan Sosial).

Pendidikan hendaknya dilihat sebagai sebuah usaha bangsa untuk menyejahterakan dirinya untuk mengejar ketertinggalannya. Pendidikan sebagai bagian dari proses produksi bangsa dan upaya mempertahankan diri di tengah kompetisi global.

Pendidikan membutuhkan sebuah idealisme dalam mendidik norma. Tapi sayangnya dari hari ke hari norma-norma aturan kehiduapn diinjak terus-menerus. Terjadi krisis keteladanan. Inilah ironinya. Suatu simalakama pendidikan.

 

15 Mencerdaskan bangsa mengabdi industri ?

“Sekolah harus mengabdi pada pembinaan SDM (Sumber Daya Manusia) yang diperlukan bagi industri”. “Sekolah mesti memberikan yang terbaik pada para pelaku ekonomi”. “Sekolah harus mengabdi pada industri”. Demikian antarra lain intisari materi sambutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wardiman Djojonegoro pada peresmian pelaksanaan sistem ganda empat sekolah kejuruan di lingkungan PT Indonesia di Jakarta, Senin, 26 Juni 1995 (KOMPAS, Selasa, 27 Juni 1995, hlm 9, klm 1). Dalam bahasa pasaran “pendikan harus mengabdi pada konglomerat”. ?

AA Navis mengemukakan bahwa ukuran kemajuan suatu bangsa pada z\aman kini terletak pada “kemampuan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang berfungsi mengembangkan ekonomi, dan bukan lagi pada keunggulan humaniora seperti yang berlaku di abad lalu” (KOMPAS, Senin, 7 Agustus 1995, hlm 4, jlm 7, “Strategi Pendidikan nasional”). Tersirat bahwa “pendidikan tak perlu lagi bersusah payah menanamkan kesadaran tentang kebebasan, kemerdekaan, keadilan, serta hak-hak manusia, tetapi cukuplah menyajikan IPTEK dan ekonomi yang langsung berdampak bagi pemenuhan kepentingan di bawah pusar-pinggang (perut dan kelamin versi Freud)”.

Dalam hubungan ini lebih lima puluh tahun yang lalu, Tan Malaka (bagaimana pun pernah disebut sebagai Bapak Revolusi Indonesia, dan juga pernah disebutkan tak turut terlibat dalam peristiwa komunis di Madiun di bulan September 1948, yang barangkali nasibnya seperti Chairul Saleh yang dinyatakan tidak terlibat G30S/PKI oleh Panglima TNI-Ad Jenderal Soeharto, seperti diungkapkan dalam KOMPAS, Rabu, 5 Juli 1995, hlm 20, klm 6), melihat dalam perekonomian, bahwa bumiputera (si Inlander) menurut Belanda bisa hidup dengan sebenggol sehari (sekarang, kalikan saja 1000.000), sedangkan seorang pengemis di negeri Belanda bisa mudah menjadi “Tuan Besar” di kebon dan di tambang di Indonesia.

Sistim rodi cultuur stelsel dirobah menjadi sistim Vrije-Arbeit (kerja merdeka) a la Malafeit. Rakyat Indonesia diberi latihan dan pelajaran sekolah. Setiap tahun dicetak inlanders-alat produksi, perdagangan, adminsitrasi, kehutanan, kepolisian, kejaksaan dan kepenjaraan kolonial. Demikian antara lain hasil pengamatan Tan Malaka, yang dalam minimum programnya pernah antara lain menggerakkanKesatuan Aksi (United Actie, Persatuan perjuangan) untuk mensita, membeslag, menyelenggarakan pertanian, kebon, perindustrian, pabrik, bengkel, tambang milik musuh Republik Indonesia, pada pertengahan Januari 1946 di Solo.

Apakah kini rakyat juga harus bekerja keras dalam rangka meningkatkan komoditi untuk kepentingan konglomerat, dalam rangka merintis “sistim-cultuur-stelsel gaya baru” ? (dengan dalih ahwa kehidupan para kaum melarat tergantung dari kantong para konglomerat ?).

Dulu setleh proklamasi, sebelum ORLA ada gagasan nasionalisasi modal, perusahaan asing (khususnya kolonial Belanda dan Jepang). Tapi kini malah berangkulan, bermesraan, mengundang modal, peruisahaan asssing (materialisme-kapitalisme) menjadi raja (tuan rumah) di tanah air sendiri (yang sudah merdeka) (dengan dalih ahwa kita masih perlu waktu untuk melakukan alih teknologi maju, canggih ke bumi terkaya ini).

Di Cikarang (Industrial Estate Jabebeka) tersedia lahan kawasan industri bagi 340 investor (KOMPAS, Selasa, 4 Juli 1995, hlm 17, iklan). Berapa jumlah kekayaan rakyat setempat yang tergusur, tersedot ? Seberapa jauh tingkat kesejahteraan rakyat sekitar kawasan industri dapat diharapkan naik dengan keberadaan investor ini ? Seberapa jauh sumbangan investor terhadap pembinaan SDM 9termasuk sarana, prasarana pendidikan dan peribadahan) rakyat sekitar ?

Dalam kaitan ini barangkali patut juga disimak pandangan Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro Jakti pada pengukuhannya sebagai guru besar ekonomi di Fakultas Ekonomi UI tanggal 17 Juni 1995, bahwa kecerdasan (otak), kemauan, kemampuan dan kesempatan haruslah berhadapan dengan survival of the fittest dalam mengantisipasi segala ketinggalan kita, baik di bidang hukum, teknologi, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain sebagainya (KOMPAS, Minggu, 20 Agustus 19995, hlm 2, klm 1-9, wawancara KOMPAS dengan Prof Dr Dorodjatun Kuntjoro-Jakti).

Hitam atas putih, tujuan pendidikan masih saja tetap seperti tertuang dalam GBHN-1978 (TAP NO,IV/MPR/1978), yang berbunyi : “Pendidikan nasional berdasarkan atas Pancasila dan bertujuan untuk menimbulkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang maha Esa, kecerdasan, ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat keangsaan agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa”. Demikian TAP MPR IV/1978 (Lihat juga UU No.2 tahun 1989, pasal 4, Dr H Amiruddin Rasyad, dkk : “Pengabdian dalam bidang pendidikan”, SESOSOK PENGABDI, 1980, hlm 1)

Setelah lebih lima puluh tahun Indonesia Merdeka, sudah berapa prosenkah kenaikan tingkat manusia yang berjiwa pancassislais, yang bertakwa kepada Allah, yang berkreasi dan berketrampilan tinggi, yang berakhlak, berkepribadian luhur, yang berjiwa patriotisme, kesetiakawanan sosial, yang bertanggungjawab terhadap keberhasilan pembangunan keadilan dan kesejahteraan, yang telah merasakan kemakmuran ? (gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta reharja). (Bks 31-8-95)

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s