Madrasah Pendidikan Rasulullah

 

Imam kami

Imam kami

    Madrasah Pendidikan Rasulullah merupakan Pendidikan Terbuka. Terbuka bagi siapa saja untuk segala usia, untuk segala profesi, untuk segala etnis, untuk segala bangsa, untuk segala ideologi, untuk segala golongan, untuk segala agama, untuk semuanya. “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan” (QS 34:28).

    Bisa perorangan, bisa bersama-sama. Bisa privat-individual, bis halakah-klassikal. Bisa di ruang tertutup, bisa di ruang terbuka. Bisa di masjid, bisa di rumah, bisa di sekolah, bisa di jalanan, bisa di pasar, bisa di seminar, bisa di loka karya, bisa di kilang-pabrik, bisa di museum, bisa di simposium, bisa di eksekutif, bisa di legislatif, bisa di yudikatif, bisa di mana saja.

    Bisa siang, bisa malam. Bisa pagi, bisa sore, bisa di sembarang waktu.

    Metodenya bisa langsung, bisa tak langsung. Bisa langsung dari perkataan dan perbuatan Rasulullah. Bisa melalui shahabat, jur dakwah Rasulullah. Bisa tatap muka. Bisa lewat berita. Bisa dengan hikmah, bisa dengan mau’izhah, bisa dengan mujadalah. “Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (QS 16:125). Bisa dengan berita gembira, bisa dengan ancaman duka. “Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya seagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan” (QS 25:56). Bisa dengan dialog, dengan diskusi, dengan perincangan, dengan meransang, menggugah daya nalar, mengaktifkan daya kritis.

    Secara bertahap. Mulai dari yang pokok kepada yang cabang. dari yang ushul kepada yang furu’. dari yang umum kepada yang rinci. dari yang konkrit kepada yang abstrak. dari yang sederhanan kepada yang kompleks. Dari yang mudah kepada yang susah. dari yang sudah diketahui kepada yang belum diketahui. Dengan bahasa yang dimengerti. Yang mengerti politik dengan bahasa politik. Yang mengerti ekonomi dengan bahasa ekonomi. Yang mengerti hukum dengan bahasa hukum. Yang mengerti budaya dengan bahasa budaya. Yang mengerti teknik dengan bahasa teknik. Yang mengerti medis dengan bahasa medis. ‘kami diperintah, supaya berbicara kepada manusia menurut kadar kecerdasan akal mereka masing-masing” (HR Muslim). AlQur:an/Islam diajarkan menurut bahasa/sistimatika yang dipahami oleh yang diajari.

    Namun materinya hanya mengenai maslah akhlak, akhlak kepada Khalik, akhlak sesama makhluk. “aku diutus untuk menyempurnakan kesopanan perangai yang mulia” (HR Ahmad). Ada lafal matannya “Makarimal akhlaq”. Ada “Shalihal akhlaq” (Ibnu Sa’ad, Hakim, Bukhari). Ada “Husnal akhlaq” (Malik). Rasulullah menuntun, membimbing orang peroang dan bersama-sama memiliki akhlak karimah, sikap mental paripurna dalam IPOLEKSOSBUDHANKAMMIL. Pendidikan Rasulullah membuat manusia sehat secara holistik (sehat mental, spiritual, fisik, individual, sosial).

    Rasulullah menuntutn, membimbing manusia menjadi pribadi, umat IMTAQ (yang beriman dan bertaqwa), yang memperoleh karunia aman, daman, sentosa, barakh, rahmat, yaitu pribadi, umat, generasi marhamah. Pribadi, ummat, generasi “Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh”. “Pribadi, umat, generasi islami. Pribadi, umat, generasi ‘ibadurrahman. Pribadi, umat, generasi yang beroleh hasanah di dunia dan di akhirat”. “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS 21:107). “Jikalau sekiranya penduduk neeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS 7:96). Pribadi, umat, generasi yang beroleh “baldatun thaiyibatun wa rabbun ghabur” (QS 34:15).

    Pendidikan Akhlak Karimah memiliki pendidikan spesialisasi. Ada pendidikan Politik. Ada Pendikan Hukum. Ada Pendidikan Ekonomi. Ada Pendidikan Budaya. ada Pendidikan Militer.

    Pendidikan Akhlak Karimah mencakup Pendidikan Agama (dalam pengertian sempit), Pendidikan Akhlak (dalam pengertian sempit), Pendidikan Intelektual, Pendidikan Moral, Pendidikan Mental, Pendidikan Spiritual, Pendidikan Sosial, Pendidikan Seni, Pendidikan Jasmani, Pendidikan Militer, Pendidikan Tehnik, Pendidikan Kejuruan.

    Pendidikan Akhlak karimah menuntun, membimbing pribadi, umat, generasi untuk menyadari akan hak-hak dan kewajibannya. Menghargai tanggungjawabnya terhadaap diri, keluarga, masyarakat, umat manusia dan dunia seluruhnya. Menghormati hak-hak dan perasaan orang lain. memiliki perasaan ingin berkhidmat (beramal shaleh) kepada orang banyak. Mencintai sesama manusia dan bekerjassama dengan mereka. memiliki pekerjaan sebagai sumber kehidupan. memiliki kecakapan sosial, ekonomi, dan politik.

    Rasulullah adalah Mahaguru, Pendidik Agung. sikap, tingkah Rasulullah bersih dari rasa angkuh, congkak, sombong. Beliau menyadari, bagaimana pun manusia itu adalah manusia, yang satu sa’at bisa saja mengalami masa-masa kritis meskipun di antaranya ada yang selalu dibimbing Allah, seperti kisah Siti Maryam ketika akan melahirkan, dan yang beliau sendiri, dan beliau (Rasulullah) sendiri setelah menerima wahyu pertama. Terhadap yang sombong untuk mematahkan kesombongannya kadang-kadang memang perlu dengan menggunakan senjata sombong untuk menundukkan ketaatan mereka. Terhadap yang suka berlebih-lebihan dalam ibadah seperti menambah-nambah agama dengan ajran bid’ah perlu ditundukkan bahwa kitalah yang mengerti agama.

    Secara lahir kadang-kadang ada ucapan yang mungkin dipandang, ditafsirkan sebagai ungkapan rasa angkuh. tapi sama sekali tak punya kesan angkuh. dikisahkan bahwa pernah ada beberapa orang yang bermaksud untuk beribadat lebih dari pada apa yang diajarkan Rasulullah. Untuk meluruskannya Rasulullah mengingatkan bahwa dalam melakukan ketaatan haruslah dalam batas berhemat. rasulullah menegaskan “Demi Allah, saya lebih takut kepada Allah dari kamu, bahkan saya lebih bertaqwa, tetapi saya puasa dan berbuka, shalat dan tidur, juga kawin dengan beberapa orang wanita. Maka siapa yang mengabaikan sunnah kelakuanku, maka ia bukan dari umatku” (Dari terjemah HR Bukhari, Muslim dari Anas alam “Tarjamah Riadhus Shalihin”, jilid I, 1983, hal 1982, hadis 2, Dr Yusuf Qardhawi : “Kerangka Dasar Methoda Pengajaran Rasulullah”, 1994:65). Kesombongan boleh ditangkis dengan kesombongan. Merasa bahwa ajaran Rasulullah perlu ditambah merupakan suatu kesombongan.

    Rasulullah tidak memukul, tidak membentak, tidak memaki. Mu’awiyah bin alHakam as Sulamy mengisahkan pengalamannya. Suatu kali ia shalat bersama Rasulullah. Tiba-tiba ada yang bersin. Ibnul Hakam mengucapkan “yarhamukallah”. orang-orang membelalakkan matanya kepada Ibnul Hakam. Ia mengucapkan alangkah kecewa ibuku, mengapa mereka mereka melihat kepadaku demikian? Orang-orang memukulkan tangan di paha agar ia diam. Berkenaan dengan itu, Ibnul Hakam mengungkapkan rasa kagumnya. “Demi ayah bundaku, belum pernah saya melihat guru, baik yang sebelum atau sesudah Rasulullah yang menyamai kebaikan Rasulullah. Beliau tidak membentak, tidak memukul, tidak memaki saya. Rasulullah menjelaskan bahwa sembahyang itu adalah tasbih, takbir dan baca Qur:an” (Dari tarjamah HR Muslim dari Mu’awiyah bin alHakam asSulamy, dalam “Tarjamah Riadhus Shalihin”, jilid I, 1983, hal 563, hadis 3, Dr Yusuf Qardhawi : “Kerangka Dasar Methoda Pengajaran Rasulullah”, 1994:58-59).

    Adakalanya di kalangan kita, apakah di taklim, di ceramah agama. di peringatan hari besar Islam, di radio, di televisi yang menjelaskan ajaran agama Islam, misalnya maslah keikhlasan, ketawakalan, kesabaran, yang nadanya terkesan seolah-olah kitalah yang ikhlas, tawakal, sabar, sedangkan yang mendengarkan perlu digurui, ditunjuk, diajari. Ada kesan angkuh, congkak, sombong, bahkan kitalah yang paham agama, yang melaksanakan ibadah dengan ikhlas, yang mampu sabar.

    Di depan umum, di depan kelas, dosen, guru tampil dengan penuh kesombongan, sok tahu, pamer paling paham, paling mengerti, serba paling (Hary B Riri’um : “Nyanyian Batanghari”, REPUBLIKA, Rabu, 12 April 2000, hal 14).

    Tujuan Pendidikan Rasulullah adalah untuk menuntun, membimbing manusia “kepada jalan Tuhanmu” (QS 16:125), “kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar” (Qs 3:104), “ke surga dan ampunan Allah dengan idzin-Nya” (QS 2:221, 10:25). Manusia itu harus dituntun, dibimbing, dididik menjadi berakhlak karimah, karena antara lain “manusia itu amat zhalim dan amat bodoh” (QS 33:72).

    Rasulullah menuntun, membimbing, mendidik manusia agar memiliki motivasi (niat ikhlas) untuk meraih hasanah di dunia dan hasanah di akhirat, terbebas dari siksa neraka (QS 2:201). Keyakinan akan mendapatkan surga dan terbebas dari siksa neraka it menumbuhkan semangat juang, ruh jihad yang luar biasa. tanpa keyakinan itu tak akan tumbuh ruh jihad.

Tujuan Pendidikan Rasulullah bukan hanya sekedar untuk kajian-kajian, rekreasi mental, koleksi ilmu, dan lain-lain, tetapi siap menerima perintah untuk dilaksanakan, diamalkan (Sayid Qutub : “Petunjuk Jalan”, hal 14). Merubah sikap mental tercela, yang berorientasi pada dunia, materi, kepentingan diri sendiri (individual profit oriented), menjadi sikap mental terpuji, yang berorientasi pada akhirat, ilahi, kepentingan bersama (social profit oriented). Sehingga nantinya diharapkan akan merubah peri laku tercela (akhlaq mazhmumah) menjadi perilaku terpuji (akhlaq mahmudah). Dan akhirnya membuahkan amal usaha yang makrufat (amal shalihat), dan menghindari amal usaha yang munkarat (amal saiyat)

 

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s