Dasar-dasar Ilmu Sosial (1)

Imam kami

Imam kami

 

Dalam sebuah artikel (tanpa nama penulis) dalam PANJI MASYARKAT, No.644 (20 April 1990) halaman 64-65 tercantum antara lain untaian kalimat : “Hilangnya kesadaran sosial ditunjukkan oleh tidak segera lahirnya suatu “teori sosial” yang bersumber pada ide kembali ke pada al-Qur:an dan Sunnah tersebut, kecuali jargon-jargon yang menghibur diri” (hlm 64).

Timbul pertanyaan, apakah memang demikian, dan apakah yang dimaksud dengan “teori sosial” ?

Di tempat lain tercantum : “Kembali kepada al-Qur:an dan Sunnah, secara teoritis mengharuskan peninjauan kembali seluruh produk pemikiran muslim sepanjang sejarah” (hlm 65).

Kembali muncul pertanyaan, apakah memang demikian ? Apakah memang jauh-jauh, memberatkan diri dengan peninjauan kembali seluruh produk pemikiran muslim sepanjang sejarah untuk kembali ke pada al-Qur:an dan Sunnah ? Apakah tidak cukup dengan hanya meninjau kembali rumusan prinsip-prinsip (kaidah-kaidah) Syari’at yang sudah tersedia ?

Alhamdulillah di antara para ulama di abad ini telah berupaya bersusah payah menyajikan teori sosial (politik, ekonomi, hukum, budaya) yang sesuai dengan prinsip-prinsip syari’at Islam. Di Indonesia yang menonjol H Zainal Abidin Ahmad, dengan buah karyanya antara lain : Negara Adil Makmur menurut Ibnu Sina, Konsepsi Negara Bermoral Menurut Imam al-Ghazali, Piagam Nabi Muhammad saw, Ilmu Politik Islam (5 jilid), Dasar-Dasar Ekonomi Islam.

Di Pakistan yang menonjol Abul A’la al-maududi, dengan buah karyanya antara lain : Hukum Islam dan Undang-Undang Dasar, Pandangan Hidup Islam, jihad dalam Islam, Khilafah dan Kerajaan, Dasar-Dasar Ekonomi dalam Islam.

Di Mesir yang menonjol Qutub bersaudara, dengan buah karyanya antara lain : Keadilan sosial dalam Islam (Sayid Quthub), Masyarakat Islam (Sayid Quthub), manusia antara Materialisme dan Islam (Muhammad Quthub), Salah Paham Terhadap Islam (Muhammad Quthub).

Pada awal keduabelas tampil al-Ghazali dengan buah karyanya : Ihya Ulumuddin (The Revivication of The Religious Sciences).

Pada awal abad keduapuluh tampil Muhammad Iqbal dengan buah karyanya : Pembangunan Kembali Alam Pikiran Islam (Reconstruction of Religious Thought in Islam).

Dalam “Kritik terhadap undang-undang ciptaan manusia”, Abdul Qadir Audah menghimpun sejumlah ayat-ayat al-Qur:an yang menjadi asas sistem sosial Islam (hlm 112-126).

Dalam “khilafah dan Kerajaan”, Abul A’la al-Maududi menghimpun sejumlah ayat-ayat al-Qur:an yang menjadi dasar pemerintahan (politik) dalam Islam (hlm 45-110).

Prof Syekh Thanthawi jauhari menghimpun ayat-ayat al-Qur;an mengenai Ilmu Pengetahuan Modern dalam bukunya “Al-Qur:an dan Ilmu Pengetahuan Modern”.

Prof Dr OmaR Mohammad al-Tousy al-Syaibany dalam bukunya “Falsafah Pendidikan Islam” menghimpun ayat-ayat al-Qur:an tentang prinsip-prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam terhadap jagat raya, manusia, masyarakat, dan prinsip-prinsip yang menjadi dasar teori pengetahuan pada pemikiran Islam serta Falsafah Akhlak dalam Islam (hlm 55-316).

# (Epistemologi adalah ilmu tentang pengetahuan, ilmu yang memeriksa asal-asal, asas-asas dan syarat pengetahuan, yang menentukan batas-batyas, alat dan cara yang sebaiknya dipakai oleh ilmu pengetahuan).

Yang menjadi persoalan : Bagaimana cara ilmu memahami wahyu (baik dalam hal observasi, kalssifikasi, sistematisasi, generalisasi, informasi, konklusi) ?

Bagaimana metoda deduksinya (dari kaidah umum ke kasus khusus) ?

Bagaimana memahami muncul dan musnahnya generasi masa kini (lokal, regional) setelah Rasul tiada lagi ?

Ajaran Islam (tentang sikap mental) yang bagaimana yang perlu digunakan, dipakai, diterapkan oleh orang-orang yang hidup pada masyarakat industri (masyarakat modern) ? Apakah yang berorientasi masa depan (ukhrawi, pahala, immateri) ataukah yang berorientasi masa kini (duniawi, materi) ?

Mana pula ajaran Islam yang perlu digunakan, dipakai, diterapkan oleh orang-orang yang hidup pada masyarakat neo-feodalisme (yang lebih paternalistik dari patrimonial, yang lebih menonjolkan bapak angkat dari anak angkat, yang lebih menonjolkan siapa (person, figure) dari apa (problem, theme) ?

Bagaimana cara ilmu memahami hubungan antara dosa dan binasa ?

Bagaimana merumuskan konsepsi kesosialan dalam Islam : Keadilan, Kkejujuran (Amanah), Kepedulian Sosial (wasiat, nasehat), Kesetiakawanan Sosial (ta’awun, mu’awanah), Kelapangan dada (tasamuh), Kebersamaan (jama’ah, Ummat), Kesatuan (Ukhuwah), Kekeluargaan (Usrah), dan lain-lain.

Pihak Vatikan yang menjadi pusat agama Katholik bahkan memberikan sikap mengecam terhadap “The Satanic Verses”. Dalam editorial yang ditulis oleh surat kabar resmi Vatikan L’OSSERVATORE ROMANO mengungkapkan “orang yang menerima iman Katholik harus menyesalkan ketidaksopanan dan penghujatan yang tertulis dalam The Satanic Verses” (SUARA MASJID, Jakarta, No.175, April 1989, hlm 8, Arah Kita : “Mendewakan akal, mengabaikan wahyu”).

 

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s