Bahan kajian

Imam kami

Imam kami

Apakah benar letak geografis mempunyai pengaruh terhadap tradisi, kebiasaan, adat, ekonomi, ilmu pengetahuan, politik, watak kesatuan sosial, warna kulit, bentuk tubuh, kecenderungan, aaktivitas, akhlak, seperti diungkapkan oleh Ibnu Khaldun (1332-1406) di dalam Muqaddimah Kitab Al-I’barnya hlm 275-344 ?

Ibnu Khaldun stressed the influence of climate and the important bearing of the natural landscape in moulding civilisation and in determining physical, mental, and the moral characteristics. He pointed out that persons living near the equator are dark-skinned because of the intensity of the sun’s rays. He accounted for the cheerful, carefree, exuherant character of the negroes on the basis of the high temperature of the country. He found the inhabitants of the temperate zones conspicuous for intelectual and physical endowments, the prophets and thinkers arose in these middle zones where dwell the Arabs, Persians, Romans, Greeks, Israelites, Indians and Chines (Robert L Gullick, Jr : “Muhammad The Educator”, 1969, hlm 70, TM Usman El-Muhammady : “Islamic Sociologi”, 1951, hlm 18).

Apakah benar letak bumi berpengaruh pada ihwal manusia, seperti diungkapkan Montesquieu (1689-1755) dalam “L’Espirit des Lois” (SUARA HIDAYATULLA, No.02/X/Juni 1997, hlm 12).

Apakah benar bahwa semua bangsa yang hidup di bawah bayangan udara hangat katulistiwa semuanya hidup serba malas-malasan. Sedangkan yang hidup di tanah berempat musim selalu bergiat dan kerja keras ? (KOMPAS, Senin, 31 Agustus 1992 : “Dari Primitif Ke Nonblok”).

Apakah benar negeri-negeri beriklim panas (tropis) cenderung anarkis, sulit diatur, konvensional, semaraut, cupet (picik), emosional ? (Muhammad Qutub : “Islam Kini dan Esok”, 1994, hlm 91).

Apakah benar, bahwa etos kerja sebagai tradisi yang dimiliki bangsa yang maju dibangkitkan dengan paksa oleh kondisi alam bermusim salju tempat mereka hidup? Untuk menangkis hawa dingin, musim salju, mereka memerlukan berlapis-lapis pakaian, perlu makan daging dan minum anggur untuk menghangatkan tubuh, perlu rumah berdinding tebal dan alat pemanas ruangan. Untuk memenuhi kebutuhan yang berat dan banyak itu mereka mesti bekerja keras dalam masa hanya enam bulan dalam satu tahun. Sehingga bekerja dan berpikir keras telah menjadi satu kebutuhan dalam kehidupan mereka.

Sebaliknya dengan bangsa Indonesia yang tinggal di bumi subur khatulistiwa, di mana orang dapat hidup dalam tradisi bersantai-santai, bahkan bermalas-mala karena tidak membutuhkan banyak keperluan hidup. Tanpa pakaian dan tidur di alam terbuka boleh saja. Bekerja di sawah ladang dapat dilakukan pada waktu sesuka hati, tak ada musim dingin. Di samping itu budaya tolong menolong lebih mendorong ke sikap saling memanjakan (AA Navis : “Strategi Pendidikan Nasiona”, KOMPAS, Senin, 7 Agustus 1995, hlm 4, kol 5-9).

Apa benar budaya tolong menolong lebih mendorong ke sikap saling memanjakan ? Apa memang harus ditumbuhkan budaya individualistis ? Apakah kemiskinan mendorong untuk bekerja keras ataukah untuk bermalas-malas ?

Sejak kapan Eropah, Jepang, maju ? Sejak kapan mereka memiliki etos kerja ? Sebelum timbulnya revolusi industri di Eropah, apakah kondisi Eropah lebih maju dari negeri lain ? Sebelum timbulnya restorasi Meji di Jepang, apakah kondisi Jepang lebih baik dari negeri lain ?

Benarkah bangsa Indonesia ini bangsa pemalas, seperti yang ditiupkan oleh bangsa Barat, dan kemudian dimamah mentah-mentah oleh cendekiawan Indonesia sendiri ? Bagaimana dengan keadaan bangsa Eskimo, Indian, Negro, penghuni gurun Ghobi, Shara, Kalahari ? (Dalam hubungan ini patut juga dicatat bahwa orang Australia yang Protestan kebanyakan keturunan Inggeris, dan mereka umumnya kelas menengah. Sedangkan yang beragama Katolik adalah keturunan Irlandia sabagai pekerja-pekerja miskin. Simak KOMPAS, Minggu, 16 November 2000, hlm 4 : “John Winston Howard”).

Kehadiran George Stephenson, apakah dapat sambutan hangat, ataukah dapat penolakan masyarakat pada awalnya ? Kehadiran Thomas Alva Edison apakah atas upaya/kehendak masyarakatnya ataukah semuanya itu hanya semata-mata kehendak Allah ? ( Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah Tuhan semesta alam. Simak QS at-Takwir 81:29. Man proposes. God disposes. Man does what he can, and God what He will).

Dalam Eropa Modern – menurut Ali Syari’ati yang dikutip Mukti Ali – teknisi-teknisi biasa saja dapat membawa kemajuan ilmiah, dan kebangkitan rakyat, sedangkan orang-orang genius menyebabkan kemadegan dan stagnasi. Kenapa ?

Genius Habibie, yang lulusan Perguruan Tinggi luar negeri (Achen Jerman, dengan predikat cum laude, yang puluhan tahun menekuni riset dan teknologi, namun saka sekali tak membawa kemajuan apa-apa bagi dunia pendidikan, termasuk IPTEK (meskipun sekedar rakitan pesawat terbang, tetap saja tertinggal dari dunia maju ?).

Muhammad Syafi’I yang bukan seorang genius, berhasil menciptakan bentuk pendidikan yang sama sekali baru (INS Kayutanam). Namun sayang, usahanya itu terpaksa terhensti sampai kini, karena terjadinya pergolakan daerah ( di Sumater Barat), dan belum ada yang tampil meneruskan usahanya itu.

Buku “Kisah Penemuan Dari Masa Ke Masa” oleh Egon Larsen, sama sekali tak mampu memotivasi kreativitas siswa dan mahasiswa Indonesia.

Apa benar tidak ada norma type ras coklat seperti yang ada pada bangsa-bangsa kulit putih dan kulit kuning, sehingga tidak terjadi suatu bentuk peradaban bangsa kulit coklat ? Apa benar perbedaan fisik merupakan indikasi perbedaan mental-spirituail, intelektuil, karakter ?

Apa benar sikap lahir menentukan sikap batin ? Apakah benar kemampuan rohaniah manusia bergantung pada sifat-sifat yang turun-temurun diwarisi dan betapapun juga pengaruh rangsangan alam sekitarnya, namun reaksi seseorang terhadap lingkungannya dibatasi dan ditentukan menurut potensinya pada saat kelhairan ? Seperti yang diprovokasikan oleh Lstoddard dalam “Dunia Baru Islam”, 1966, hlm 105-107, 115, 138).

Perubahan yang diciptakan oleh industrialisasi, adalah begitu revolusioner, sehingga tideak ada bandingannya dalam sejarah kebudayaan manapun juga. Perubahan ini adalah teristimewa luar biasa, ungkap Emery Reves dalam “Anatomy of Peace” (ZA Ahmad : “Dasar-Dasar Ekonomi Dalam Islam”, 1952, hlm 8).

 

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s