Penghalang Tegaknya Daulah Islamiyah

Penghalang Tegaknya Daulah Islamiyah

Satu-satunya organisasi Islam di Indonesia yang sangat gigih dan konsern dengan penegakkan Daulah/Khilafah Islamiyah adalah Hizbut Tahrir Indonesia. Belakangan ini antara lain menyelenggarakan Kajian Umum tentang “79 Tahun Runtuhnya daulah Khilafah Islamiyah”, Bedah Buku “Reflewksi 79 Tahun Daulah Khilafah Islamiyah”.

Penghalang utama tegaknya kembali Daulah Khilafah Islamiyaha adalah Jaringan Trio Fir’aunisme-Hamanisme-Qarunisme (Globalisasi/Internasionalisasi dalam sistim Politik, militer, Hukum, Ekonomi, Bank, Asuransi, Industri, Sains, Teknologi, Informasi, Komunikasi. Semuanya termasuk PBB dibawah kendali, dibawah kontrol Amerika Serikat dan pendukungnya dari Yahudi (Yudaism) dan nasrani (Christianism).

Dengan kasat mata, dominasi global (global dominator) dipertontonkan dalam penyerbuan tak sah ke Irak oleh pasukan sekutu Anglo Amerika (Amerika Serikat, Inggeris, Australia) dibawah pimpinan koboi George wakler Bush. Sejak penyerangan 20 Maret 2003 itu yang berlaku di dunia internasional hanyalah hukum rimba. Sistem hukum internasional dan nilai-nilai demokratis dilulh lantakkan oleh Bush dan sekutunya (pendukungnya) yang mengaku pembela demokrasi, tapi nyatanya penghancur demokrasi.

Sistim Sosial Internasional (Politik, Militer, Hukum, Ekonomi, Bank, Asuransi, Industri, Sains, Teknologi, Informasi, Komunikasi) direkayasa, dirancang, diciptakan, didominasi oleh negara-negara kuat (adidaya) untuk kepentingan meereka sendiri dan didukung oleh negara-negara lain yang mempunyai kepentingannyaa yang sama dengan mereka.

Umat Islam harus berupaya membebaskan diri dari cengkeraman belenggu rantai kendali sistim Politik Global, sistim Ekonomi Global, sistim Hukum Global, sistim Komunikasi Global, dan berupaya masuk kedalam sistim politik Islami, sistim Ekonomi Islami, sistim Hukum Islami, sistim Komunikasi Islami. Mengenai caraanya kembali kepada para pemimpin umat ini.

Anglo-Amerika menguasai, mendominasi semua segi kehidupan, baik militer, ekonomi maupun kebudayaan. Semuanya di bawah kendali, dibawah kontrol Amerika Srikat dan pendukungnya. Bush dan pendukungnya, baik secara pribadi, maupun secara kolektif amat sangat takut supermasinya (keadidayaannya dan keadikuasaannya0 tersaingi oleh yang lain, seperti halnya Fir’aun khawatir kekuasaannya akan diambil oleh turunan Israel (turunan Nab I Ya’qub as). Dalam kayalnya bush melihat bahwa Osmah bin Laden, Saddam Hussen adalah diantara tokoh-tokoh yang akan menyaingi supermasinya dan sekutunya di dunia internasional. Bush menerapkan hukum rimba kepada siapa saja. Sesudah kepada Afghanista, Irak, kemudian bisa kepada Suriah, Lybia, Kore utaraatau yang lainnya.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Penghalang tegaknya syari’at islam

Sudah berbagai rupa teori yang diketengahkan para pakar yang menjelaskan cara, upaya, metoda untuk menegakkan Syari’at Islam di muka bumi ini. Namun teori tinggal tetap teori, impian tak pernah terwujud dalam realitas, dalam kenyataan di tempat mana pun di muka bumi ini, tidak di Arab, tidak di Mesir, tidak di Sudan, tidak di Pakistan, tidak di Indonesia, tidak di mana-mana.

Ada Abul A’la alMaududi dengan “Metoda Revolusi” (1983), “Kemerosotan Ummat Islam dan Upaya Pembangkitannya” (1984). Ada Muhammad bin Syaqrah dengan “cara Praktis Memajukan Islam” (1991). Ada Yusuf Qardhawi dengan “Alhallul Islamy” (Pedoman Ideologi Islam, 1988). Ada Sayid Qutub dengan “Petunjuk Jalan”. Dan lain-lain.

Tidak bisa tegaknya Syari’at Islam itu disebabkan oleh kondisi internal umat Islam yang menurut kajian Abdul Qadir Audah “Islam di antara kebodohan Ummat dan kelemahan Ulama” (1985). Generasi kini adalah generasi buih. Tak punya bobot, tak punya kekuatan, tak punya potensi. Kekuatan, potensi umat Islam terdapat pada adanya ruh tauhid dan ruh jihad. Generasi kini adalah generasi cuek. tak ada satu pun media massa Islam yang secara sungguh-sungguh, terarah sistimatis membangkitkan ruh tauhaid para pembaca (paling-paling sekedar “bimbingan tauhid” yang kering dari ruh tauhid). Juga tak ada satu pun mimbar Islam pada tayangan televisi yang secara sungguh-sungguh, terarah, sistimatis membangkitkan ruh tauhid para pemirsa. Lebih banyak sekedar ajang pamer ilmu sang nara sumber. Demikian pula tak ada satu pun penerbit Islam yang secara sungguh-sungguh, terarah, sistimatis menerbitkan buku-buku yang diharapkan dapat membangkitkan ruh tauhid para pembaca. Umumnya semuanya bertolak dari moif (niat) bisnis, mengusung “Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang), bukan berangkat dari “Sampaikanlah dariku, walaupun satu ayat”.

Kondisi riil generasi buih, generasi cuek masa kini, antara lain dapat disimak dari analisa Abul Hasan Ali alHusni anNadwi “Pertarungan antara Alam Fikiran Islam dengan Alam Fikiran Barat” (1983). Di samping kondisi internal umat Islam, maka tidak bisa tegaknya Syari’at Islam, juga disebabkan oleh faktor eksternal, oleh yang berasal dari luar, bahkan berasal dari musuh Islam. Faktor eksternal lebih dominan melalui pendidikan. umat dididik secara Barat dengan sistim Barat. Ada yang secara langsung, dan ada yang tidak secara langsung. Yang secara langsung, dididik, diajar di sekolah-sekolah Barat, di negara-negara Barat untuk menerima, menimba terori-teori “ilmiah” dari “ilmuwan” semacam Goldzieher, Margoleoth, Schacht, dan lain-lain (Dr Musthafa asSiba’i : “AlHadits sebagai sumber Hukum serta Latar Belakang Historisnya”, 1982:25-28). Secara tak langsung bisa melalui studi/kajian tokoh-tokoh sinkretis semacam Ir Mahmud Muhammad Thaha, dr Hasan Hanafi, dr muhammad Imarah, Dr Rifa’ah atThahthawi, dan lain-lain. Juga bisa melalui studi/kajian tokoh orientalis.

Orang-orang Islam yang terdidik secara barat, dengan sistem barat, baik langsung dengan orang Barat, di barat, maupun tak langsung melalui studi/kajian orang-orang Barat dan pengikut-pengikut Barat inilah yang akan tumbuh, mengembangkan, menyebarkan apa yang namanya Islam Rasional (orang Barat ada yang menyebutnya Freidenker in Islam), Islam Liberal (Islam Sekuler?, dulu tahun lima puluhan ada yang namanya PKI Lokal Islami, dan Jami’atul Muslimun (Jamus)nya PNI).

Islam Liberal sangat menjunjung rasio, akal, lebih dari naqal, lebih dari wahyu. Kebenaran itu dapat diperoleh dengan rasio, dengan akal, tak perlu naqal, tak perlu agama. Ajaran moral tak perlu menyatu pada ajaran agama. Rasionalis ini pada masa lampau dengan julukan Mu’tazilah. Islam liberal menghendaki kebebasan sebebasnya tanpa batas. Untuk membebaskan diri dari ikatan Islam diupayakan dengan menggunakan pandangan Islam sendiri. Dikemukakan bahwa Islam itu sangat menjunjung kebebasan, tanpa menjelaskan kebebasan yang dikehendaki Islam. Secara tak langsung bisa juga melalui studi/kajian karya semacam “Madilog”nya Tan Malaka, kaum “Dahriyin” masa kini.

Orang-orang yang menganut paham Islam Rasional, Islam Liberal (Sinkretis, Pluralis, Talbis) tampaknya kelihatan sangat Islami, tetapi menolak formalisme Syari’at Islam, bahkan bisa anti Islam secara ideologis. Lahirnya di permukaan tampak Islam, tetapi Islamnya hanya sampai di tenggorokannya. Terdapat hadits-hadits dari Abu Said alKhudri tentang orang-orang Khawarij (secara ideologis : keluar dari agama, secara politis : keluar dari jama’ah) yang menyiratkan, mengesahkan suruhan/perintah untuk membunuh orang-orang yang mengaku Islam, tetapi punya pandangan anti Islam, menolak formalisasi Syari’at Islam (Mohammad Fauzil Adhim : “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”, 2001:113). Alergi, jijik, sinis terhadap Syari’at Islam. Dalam wawancara TVRI, Jum’at 12 April 2002, jam 1800-1830, tentang amandemen UUD-45, Rektor IAIN, Prof Dr Azyumardi Azra tak menyukai upaya penegakkan Syari’at Islam (melalui Piagam Jakarta). Untuk meluruskan Jalan Reformasi dalam mengakhiri transisi, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Ahmad Syafi’i Ma’arif lebih menyukai Pancasila daripada Islam (Simak antara lain KOMPAS, Sabtu, 13 Desembr 2003, “Meluruskan Jalan Reformasi dengan Pancasila?).

Ketika menyimak “Jejak Liberal IAIN” dalam SABILI, No.25, Th.IX, 13 Juni 2002, terbayang seorang keponakan lulusan IAIN Syarif Hidayatullah Ciputat tahun 2001 yang dalam rak perpustakaan pribadinya bertengger MADILOG karya Tan Malaka.Sejak dari awal sampai akhir bukunya, Tan Malaka menuntun, membimbing, mengarahkan pembacanya secara sistimatis.

Syari’at Islam hanya bisa tegak kalau sudah ada komunitas yang memiliki ruh tauhid. Komunitas yang memiliki ruh tauhid ini bisa disebut dengan masyarakat IMTAQ, masyarakat MARHAMAH, masyarakat ISLAMI. Msyarakat Islam adalah masyarakat yang intinya (kernya) terdiri dari orang-orang Islam yang tangguh, yang hidup matinya lillahi rabbil’alamin, dan plasmanya segenap orang tanpa membdakan asal, suku, agamanya yang bersedia melakukan yang baik dan tidak melakukan yang jahat serta siap sedia secara bersama-sama menindak yang melakukan tindak kejahatan, dan menyelesaikan sengketa menurut hukum Allah. Masyarakat yang mau diatur oleh hukum Tuhan Yang Maha Esa (Simak antara lain Sayid Qutub : “Dibawah Panji-panji Islam”, 1983:19, “Tarjamah Lukluk wal Marjan”, jilid II, hal 631, hadis 1104).

Di antara paham, pemikiran yang menghalangi, merintangi, menghambat, menjegal Syari’at Islam, adalah paham, pemikiran Islam Rasionalis, Islam Liberalis ( Islam Sekularis, Islam Sinkretis, Islam Pluralis). Pahamnya bertolak dari pemisahan agama dan politik, pemisahan hak privat dan hak politik. Menhendaki kbebasan mutlak yang sebebas-bebasnya tanpa batas. Padahal di negara adikuasa yang katanya sangat menghormati kebebasan, kemerdekaan, demokrasi, namun paham komunis dijegal, penggunaan simbol-simbol, lambang-lambang agama dibatasi. Mengebiri, memasung, memandulkan, melumpuhkan Islam. meredusir, mereduksi, membatasi hakikat dakwah, hakikat jihad. Menolak Islam didakwahkan sebagai acuan alternatif. menantang hak individu diintervensi, diatur oleh Islam. Mengusung ide pemisalah wilayah publik dan wilayah privat, bahwa agama adalah soal individu (bersifat pribadi), sedangkan soal publik adalah hak neara (SABILI, No.25, Th.IX, 13 Juni 2002, hal 81, “Melacak Jejak Liberal di IAIN”). Menolak Islam diterapkan secara formal. Menolak formalisasi/legalisasi ketentuan Syari’at Islam ke dalam praturan perundangan sebagai hukum positif. Ketua Forum mahasiswa Ciputat (Formaci), Iqbal Hasanuddin menjelaskan, bahwa ia bersama Formaci-nya tegas-tegas menolak penerapan Syari’at Islam. juga teman-temannya di HMI, PMII, Forkot tak setuju dengan itu. Hak kebebasan individu tak boleh diintervensi, diatur oleh aturan publik (idem, hal 82). Melakukan labelisasi/stigmatisasi umat Islam dengan julukan seprti sekretarian, primordial, ekstrim, fundamentalisme, dan lain-lain yang sejenis dan yang menyakitkan. Mengembar-gemborkan bahwa Syari’at Islam itu hanya cocok buat bangsa yang belum berbudaya, belum beradab, masih biadab, barbar, primitif, seram, kejam, sadis, bengis, beringas, jorok, dekil, kumal.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Pendidikan Budi Pekerti, apa masih diperlukan ?

Indonesia punya BUDI UTAMA (Budi Utomo, didirikan 20 Mei 1908 sebagai organisasi para cendekiawan Jawa yang berjiwa/bercorak Jawa sentris, elitis dan aristokratis).

Indonesia juga punya PENDIDIKAN MORAL PANCASILA (PMP) dan TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA (TPI).

Di samping itu Indonesia memiliki acara PENDIDIKAN BUDI PEKERTI melalui Mimbar Agama dan Mimbar Kepercayaan dalam siaran TVRI.

Masih ada lagi. Indonesia juga punya LEMBAGA PENDIDIKAN MASYARAKAT (LPM),

Harian ibukota 23 Oktober 1995 antara lain menyajikan tentang posisi dan fungsi dari PENDIDIKAN BUDI PEKERTI.

REPUBLIKA, Senin, 8 November 1999, di hlm 16 tampil dengan judul “Budi Pekerti akan Kembali Diajarkan di Sekolah”, berkenaan dengan gagasan Mendiknas Dr H Yahya Muhaimin.

BUDI LUHUR yang AMAT IKHLAS sudah hampir tak dikenal lagi. Demikian tutur Satya Graha hurip dalam “surat Undangan”nya.

Masyarakat saban waktu dihadapkan pada kecenderungan demoralisasi, kebringasan sosial, pemerkosaan, penjambretan, korupsi, kolusi, monopoli, perampokan, pembunuhan, tindakan kekerasan (violance), tontonan-bacaan-hiburan yang non-edukatif, dan lain-lain tindak kesadisan dan kebrutalan.

Pembantaian keluarga Herbin dan keluarga Rohadi, serta perkosaan dan perampokan terhadap keluarga Acan merupakan sebagian contoh kebringasan, kesadisan dan kebrutalan (sosial ?).

Munculnya kesan kecenderungan meluntur/meluncurnya kejujuran.

Masyarakat tanpa disadari cenderung digiring ke arah “kurang percaya diri”.

Sistim pendidikan lebih berorientasi pada IPTEK untuk menyiapkan sarana bagi peningkatan kekayaan konglomerat.

Untuk membentuk masyarakat yang memiliki BUDI PEKERTI diperlukan kesadaran dan keterlibatan berbagai pihak sebagai panutan (tuntunan dan tontonan), baik dari kalangan dunia pendidikan (formal maupun informal), penerangan (koran, radio, televisi, film), sosial budaya (olahraga, kesenian, kepariwisataan), hukum (kepolisian, kejaksaan, pengadilan, kehakiman), politik (kebijaksanaan, peraturan, perundang-undangan), dunia usaha, mode dan lain-lain.

Pendidikan budipekerti untuk membentuk sikap mental yang baik dibutuhkan oleh semua. Baik oleh anak didik (sejak dari tingkat Taman Kanak-Kanak sampai ke tingkat Perguruan Tinggi), pendidik (guru, ustadz, dosen), penceramaha (da’i, muballigh), pegawai, karyawan, perajurit, pejabat (eksekutif, legislatif, yudikatif), pengemis, pemulung, pengamen, hakim, dan lain-lain. Pendeknyaa pendidikan budi pekerti multi dimensi.

Faktor-faktor penyebab munculnya ketimpangan, kecemburuan, kesenjangan sosial secara serius harus disingkirkan sedini mungkin dalam rangka upaya menepis/menangkal munculnya keberingasan sosial dan tindak kekerasan.

Dalam menegakkan hukum secara adil, maka unsur ketimpangan, kesenjangan, kecemburuan sosial tak dapat dikesampingkan dari pertimbangan begitu saja sebagai penyulut timbulnya keberingasan dan tindak kekerasan.

Di Indonesia, Islam adalah agama yang terbanyaak dianut oleh penduduknya. Cendekiawan Muslim ditantang untuk menjabarkan BUDI PEKERTI dalam bentuk konsepsi yang jelas, tegas, lugas, yang mudah dicerna, dipahami, dilaksanakan, yang dapat dijadikan panduan untuk membentuk Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkwalitas. (Panduan Metodik/Didaktik Rasulullah Mengantisipasi Dekadensi Moral Ummat). Manusia yang berkwalitas menurut islam adalah yang memiliki BUDI PEKERTI, pembawa rahmat bagi lingkungan sekitarnya, serta lebih positip. Cendekiawan Muslim dituntut menampilkan keteladanan ber BUDI PEKERTI. Dalam hubungan ini ada seruan “Ambil Islam Seluruhnya Atau Tinggalkan Samasekali”, jangan setengah-setengah, jangan sepotong-sepotong.

Moral lokal boleh-boleh saja digunakan sebagai sarana untuk menegakkan BUDI PEKERTI Islam. Dan jangan sebaliknya, yaitu jangan menggunakan BUDI PEKERTI Islam sebagai sarana untuk menegakkan Moral lokal (ALMUSLIMUN, Bangil, No.289, April 1994, hlm 79, KOMPAS, 2/4, 10&20/5, 27/6, 7/8. 23/9, 23/10/95).

Mantan Panglima Divisi Siliwangi Jenderal TNI (Pur) AH Nasution dalam sebuah bagian bukunya yang berjudul “Pembangunan Moral, Inti Pembangunan Nasiona” (hlm 53-54) mengingatkan bahwa sesungguhnya suatu negara berdiri karena BUDI PEKERETI. (Bait madah Syauqi Bey mengungkapkan bahwa “Satu bangsa terkenal ialah lantaran budinya. Kalau budinya telah habis, nama bangsa itu pun hilanglah”. Prof Dr Hamka : “Lembaga Budi”, 1983:3). Nasution menunjuk lima ukuran (keberhasilan) pembangunan menurut agama Islam, yaitu :

# apakah orang yang diatas (pemimpin) memiliki kasih sayang sehingga dia tidak berani makan sebelum rakyatnya makan.

# apakah orang yang memerintah itu menjadi pelayan 9khadam) atau menjadi tuan besar bagi rakyatnya.

# apakah orang-orang-orang berwibawa, orang-orang kaya, orang-orang berilmu itu mencari kesenangan, kemewahan, kepuasan atau pencari pengabdian, pengorbanan dan keridhaan Tuhan.

# apakah par orang-orang di atasan (pemimpin) kian memperbanyak, menumpuk-numpuk kekayaan, tanpa memikirkan nasib mereka yang kian hari kian melarat, lapar dan kekurangan.

# apakah orang-orang jahat dilindungi dan orang-orang teraniaya dibiarkan, (KOMPAS, Senin, 23 Oktober 1995, hlm 11, “Pembangunan Moral Tertinggal”). (Bks 25-9-95)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Kedamaian dan Jaminan Kebebasan dalam Islam

Terdapat hadis yang menyatakan bahwa umat Islam tidak akan pernah tersesat selama ia berpegang teguh kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi (1).

Juga terdapat hadis yang menyatakan bahwa setiap bid’ah itu adalah sesat. Apakah arrti dari bid’ah itu? Apakah arti dari sesat, dhalalah itu? Apakah arti dari berpegang pada Qur:an dan Sunnah itu?

Terdapat hadis yang menyatakan bahwa umat Islam akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, hanya satu golongan yang selamat (2). Hadis ini masih diperselisihkan tentang kesahihannya, jadi bersifat zhanni (nisbi), bukan qath’I (mutlak) (3).

Di dalam politik, pemerintahan, kenegaraan, kepemimpinan, yang mula-mula muncul adalah paham Khawarij, kemudian muncul paham Syi’ah.

Khawarij lebih dulu memberontak kepada Khalifah Ali bin Abi Thalib, kemudian baru berusaha mencari alsan begi pembenaran pemberontakannya.

Sedangkan Syi’ah, pahamnya yang lebih dulu terbentuk, kemudian baru mulai mengadakan pemberontakan (4).

Jadi Khawarij, lebih dulu melancarkan aksi pemberontakannya, kemudian baru menyusun teori bagi pembenaran aksinya. Menurut teorinya, kepemimpinan seorang imam, amir, khalifah batal, kalau kebijakannya mengacu kepada ijtihad, pendapat orang, bukan langsung mengacu pada Qur:an.

Sedaangkan Syi’ah lebih dulu menyusun teori imamahnya, barulah kemudian melakukan aksi sesuai teori imamahnya. Menurut teori imamahnya, yang berhak memegang kendali pemerintahan setelah Rasulullah wafat adalah Ali bin Abi Thalib.

Baik Khawarij, maupun Syi’ah menyusun teori, pahamnya berdasarkan interpretasinya masing-masing terhadap Qur:an.

Di dalam akidah, kepercayaan muncul paham Qadariah, Jabariah, Asy’ariah, Maturidiah, dan lain-lain. Masing-masingnya menyusun teorinya berdasar pemahaman, interpretasinya pada Qur:an dan Hadis (5).

Di dalam ibadah, fikih muncul paham Hanafiah, Malikiah, Syafi’iah, Hanabilah, Zhahiriah, dan lain-lain. Masing-masing juga menyusun teori, paham, mazdhab dan metodenya berdasar interpretasinya pada Qur:an dan Hadis.

Di dalam tasauf juga muncul berbagai macam paham, seperti Naqsyqabandiah, Qadiriah, Samaniah, Syatariah, Tijaniah yang menurut Mohammad Natsir lebih bertolak pada rasa dan intuisi katimbang interpretasi, pemahaman akan Kitabullah dan Sunnah Rasul (6). Interpretasinya lebih cenderung pada signal, isyarat.

Syahrastani (479-584H) mengarang “AlMilal wan Nihal” yang menerangkan berbagai paham agama dan aliran-aliran kepercayaan samapai masa hidupnya (7). Syahrastani menyebut empat golonga besar, yaitu Qadariah, Shifatiah, Khawarij dan Syi’ah (8).

Berdasar dalil zhanni, bukan dalil qath’I, Ibnul Jauzi (wafat 597H) melihat ada enam golongan pokok yang masing-masing terpecah menjadi dua belas golongan, sehingga seluruhnya berjumlah tujuh puluh dua golongan. Keenam golongan pokok itu ialah : Haruriah, Qadariah, Jahmiah, Murjiah, Rafidhah, Jabariah (9).

Dalam Sahih Bukhari pada “Kitab alFitan” terdapat hadis-hadis tentang tanda-tanda hari kiamat (10) dan sifat-sifat dajjal (11).

Dalam Sahih Bukhari pada “Kitab alIman” terdapat hadis tentang testing, pengujian untuk membedakan antara Nabi dan yang bukan, menurut versi Heraklius (Herkules ?).

MUI Pusat merinci sepuluh kriteria untuk membedakan paham aliran yang sesat dan yang bukan sesat (12).

Di Indonesia kini marak muncul paham aliran baru. Masing-masing menyusun teori berdasar interpretasinya terhadap Qur:an untuk pembenaran pahamnya.

HM Amin Djamaluddin, Hartono Ahmad Jaiz dengan LPPInya (Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam) aktif menyoroti, mengkaji, menggugat paham aliran sesat.

Dalam bukunya “Aliran dan Paham Sesat di Indonesia”, Hartono Ahmad Jaiz mencatat sejumlah aliran sesat di Indonesia, di antaranya Inkarus Sunnah, Isa Bugis, Darul arqam, Lembaga Kerasulan, AzZaytun, Ahmadiyah, Baha:I, LDDII, Syi’ah, Salamullah, dan lain-lain.

Sejak 2001 hingga 2007, menurut BAKORPAKEM (Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan), sedikitnya ada 250 aliran sesat yang berkembang di Indonesia (14).

Ahmadiah, alQadiyah menggunakan hadis tentang turunnya Nabi Isa, turunnya Imam Mahdi, dan ayat Qur:an tentang naaiknya Nabi Isa (QS 3:55) menurut interpretasinya dalam menyusun teorinya, bahwa kedatangan alMasuh alMau’ud itu sudah disebutkan dalam Kitab Suci terdahulu, dan dialah alMasih alMau’ud itu (al masih adDajjal).

Abu Salam alias Ahmad Moshaddeq, pimpinan AlQiyadah AlIslamiyah mengangkat dirinya sebagai Rasul AlMasih AlMau’ud pada tanggal 23 Juli 2006 setelah bertapa di Gunung Bunder, Bogor, Jawa Barat selama 40 hari 40 malam.

Pada 8 November 2007 setelah ditangkap polisi, Ahmad Moshaddeq mencabut pengakuannya sebagai Rasul, dan menyatakan dirinya sebagai Da’i, Muballigh, sebagai, pengemban Risalah, serta mengucapkan “Ana basyarun mitslukum”, tanpa melanjutkan “yuhi ilaiya”.

Syi’ah menggunakan hadis tentaang turunnya Imam Mahdi, serta mengarang-ngarang tentang kesuperan Ali bin Abi Thalib dalam mengembangkan teori imamahnya.

Inkarus Sunnah, alQur:an Suci menggunakan interpretasinya terhadap Qur:an dalam menyusun teori, pahamnya.

Hidup Dibalik Hidup (HDH) mengingkari bahwa Nabi Muhammad saw dikurniai Allah wewenang untuk mengajukan syafa’at bagi ummatnya nanti pada hari Hisab.

Islam Jama’ah juga menggunakan interpretasinya terhadap Qur:an dan Hadis dalam menyusun teori, paham manqulnya.

Mahaesa Kurung alMukarramah juga menggunakan interpretasinya terhadap Qur:an dan Hadis dalam menyusun, mendukung teori, paham spiritualnya. Ia punya website, situs sendiri.

Wahidiah juga menyusun teori, paham spiritualnya menggunakan interpretasinya terhadap Qur:an dan Hadis. Menurut teorinya, olah batin (spiritual) itu mengacu dan mengikuti ungkapan, slogan, semboyan “Lillah-Billah, LirRasul-BirRasul, LilGhauts-BilGhauts”. Tunduk, patuh, setia pada alGhauts, karena ia punya wewenang memberikan syafa’at (13). Wahidiah juga punya situs sendiri.

Simak antara lain dalam :

1. “Muwaththa'” Imam Malik.
2. “Manhaj alFirqah an Najiah” oleh Muhammad bin Jamil Zainu.
3. PANJI MASYARAKAT, No.498, 21 Maret 1986, “Tentang sabda Nabi saw : Umatku akan pecah 73 golongan” oleh Muhammad Baqir.
4. “Sejarah dan Kebudayaan Islam” oleh Prof Dr A Syalabi, jilid II, 1982:308.
5. “Pedoman Pokok dalam Kehidupan Keagamaan Berdasarkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah” oleh KH Tb M Amin Abdullah alBantani, 1984.
6. “Sanggahan terhadap Tasauf dan Ahli Sufi” oleh SA alHamdany, 1982.
7. “Ulama Syafi’I” oleh KH Sirajuddin Abbas, 1975:157-162.
8. “AlMilal wan Nihal” oleh Syahrastani.
9. “Godaan Sytan” oleh Md Ali alHamidy, 1984:128-136.
10. “Jalan Menuju Iman” oleh Abdul Madjid azZaidan.
11. “Tafsir alAzhar” oleh Prof Dr Hamka, juzuk IX, 1982:191-197, re ayat QS 7:187.
12. RAKYAT MERDEKA, Rabu, 7 November, 2007.
13. “Pedoman Pembinaan Wanita Wahidiyah” oleh Penyiaran Shalawat Wahidiyah Kedunglo, Kediri, Jatim.

“Sanggahan terhadap Tasauf”, 1982:20-23.

14 KORAN TEMPO, Senin, 12 November 2007, hal A11, Surat Pembaca.

RAKYAT MERDEKA, Selasa, 13 Noveember 2007, hal 3, Buka Kartu.

(BKS0711060830)

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Menuju tegaknya syariat Islam

Menuju tegaknya syariat Islam

Diharapkan semua pihak dalam MUI, Ormas, Parpol, Legislatif, Eksekutif memanfa’atkan seoptimal dan semaksimal mungkin, kemerdekaan dan kebebasan yang diberikan dan dijamin oleh Pasal 29 UUD-45 untuk memeluk agama dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya. Memanfa’atkan seruan Ir Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUUPKI, agar para pemimpin menggerakkan, mengerahkan sebanyak mungkin utusan-utusan Islam ke dalam DPR, sehingga hukum-hukum yang keluar dari DPR itu aalah hukum Islam. Memanfa’atkan setiap peluaang bagi berlakunya syari’at Islam di atas bumi persada Nusantara ini.

Dalam rangka merintis, mewujudkan tegaknya syari’at Islam, diharapkan semua pihak dalam MUI, Ormas, Parpol, Legislatif, Eksekutif, agar dapat berijtihad (bersungguh-sungguh, serius) menyusun draft (rancangan) Undang-Undang yang Islami, seperti Undang-Undang tentang Zakat, Infaq, Waqaf, Wasiat, Rikaz, tentang Jaminan Sosial, tentang Jaminan Kesejahteraan Umum, tentang Pelayanan dan Santunan Sosial, tentang Kemashlahatan Masyarakat dan Pengadaan Sarana Penunjangnya, tentang Warisan, tentang Asuransi dan Riba, tentang Judi, Togel, Rolet, Kasino, tentang Prostitusi, Aborsi, Kumpul Kebo, Tentang Miras, Narkoba, Diskotik, dan lain-lain (Sayyid Quthub : “Keadilan Sosial Dalam Islam”, 1994:378-392, Dr Musthafa as Siba’I : “Sistem Masyarakat Islam”, 1987:89-110, Ahmad Zaki Yamani : “Syari’at Islam Yang Abadi Menjawab Tantangan Masa Kini”, 1986:64-109).

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Menyoal pola hidup tamak

1 Menyoal pola hidup tamak

Tamak adalah sifat untuk memiliki sesuatu secara berlebihan-lebihan tanpa ada puas-puasnya. Dalam bahasa canggihnya, tamak adalah orientasi hidup yang berlebihan pada materialisme. Bisa saja tamak akan harta, kekayaan, pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan.

Salah satu yang mengungkung, membelenggu manusia itu adalah sifat asli manusia itu sendiri, yaitu sifat ‘halu’a” (QS 70:19). Ada yang mengartikan dengan sifat keluh kesah lagi kikir. Dan ada pula yang mengartikan dengan sifat keluh kesah lagi tamak. Gelisah, tidak sabar, khawatir itu disebabkan oleh keserakahan dalam memperoleh kekayaan material. Itulah karakter asli manusia. Namun demikian, watak serakah manusia itu, jika dituntun dengan baik, akan kreatif menaiki ma’arij, jenjang kemajuan sosial ekonomi dan ilmu pengetahuan (Afzalurrahman, “Muhammad Sebagai Seorang Pedagang”, 1997, hal 195, 211-212.

“Ketamakan (avarice, emangnya lu gua pikirin) melekat pada watak, pembawaan ekonomi pasar (ekonomi kapitalis). Pembawaan dan dampak ekonomi kapitalis, pertumbuhan dan kemajuan besar, sekaligus juga kesenjangan´(KOMPAS, Kamis, 16 Januari 1997, hal 4, Tajuk Rencana). Ketimpangan sosial-ekonomi, antara rural-agraris-tradisional dan urban-industrial-modern. Terjadi seleksi rekayasa : struggle for existence, survival of the fittest, adoptability. Rakyat lemah tersingkir ke pinggir. Pemerintah ikut berperan sebagai agen, fasilitator, broker untuk kepentingan pemilik modal.

Ketamakan akan harta, kekayaan melahirkan industrialisasi. Disamping berhasil memacu pertumbuhan ekonomi dan modernisasi, industrialisasi juga telah merusak hubungan-hubungan sosial tradisional dan memunculkan perpecahan-perpecahan dan konflik-konflik baru dalam struktur sosial masyarakat. Proses industrialisasi telah merombak secara total hampir setiap sendi kehidupan masyarakat, baik kebudayaan mapun kepribadian. Akibat lanjutannya adalah munculnya gejala ketidak-seimbangan dan guncangan mental dalam kehidupan masyarakat. Pada saat yang bersamaan rasa tidak aman, tidak berharga, putus asa, mengalami ketegangan melanda relung kehidupan masyarakat. Pada gilirannya, norma-norma sosial masyarakat menjadi lemah atau tidak ada sama sekali.

Ketamakan akan pangkat, jabatan, kedudukan, kekuasaan, ketenaran dapat tercermin, terpanctul dalam ambisi memenuhi kebutuhan yang berlebihan. Kebutuhan untuk dapat berusaha mengontrol kepentingan kelompok subordinasi (miskin). Kebutuhan untuk dapat berusaha membenarkan (mempertahankan legitimasi kelanggengan dominasinya. Kebutuhan akan kerelaan berkorban dari pihak yang tersubordinasi, kerelaan masyarakat untuk menerima serta mendukung struktur kekuasaan. Kebutuhan agar sistem yang berjalan tetap bertahan. Pendukung struktur yang berkuasa (ketamakan akan kekuasaan) dan pemilik modal (ketamakan akan kekayaan) berkoalisi, berkolusi berusaha memperkuat dominasinya dengan memangkas, memasung kebebasan manusia. Demikian disimak dari analisa Tadjuddin Noer Effendi (KOMPAS, Rabu, 29 Januari 1997, hal4, “Pahami Kerusuhan dan Gejolak Sosial”).

Dari ayat 34 surah Taubah (QS 9:34) dipahami bahwa bencana akan menimpa perekonomian dunia oleh karena dua hal. Pertama disebabkan dari kaum agama (pendeta) yang memperkosa hak milik manusia dengan cara yang salah, dengan memperkedok agama dan Tuhan (lahir pada zaman Universal-Feodalisme). Kedua disebabkan dari kaum kapitalis yang sangat memperkuat dan memperhebat kekuasaan hak milik, dengan mengesampingkan sama sekali akan rasa Ke-Tuhanan dan rasa kemanusiaan (lahir pada zaman Individualistis-Kapitalisme). Inilah yang mengundang datangnya azab, siksaan Allah yang sangat pedih, yang menimbulkan bencana kesengsaraan manusia seluruh dunia. Demikian disimak dari analisa Z.A Ahmad tentang “Kebobrokan Ekonomi Dunia” (Dasar-Dasar Ekonomi dalam Islam, 1952, hal 27, 31).

Tamak biangnya ketimpangan, kesenjangan, keretakan, keresahan, kerusuhan, keonaran, kekacauan. Namun demikian, tamak terkendali (nafsu muthmainnah) perlu. Tanpa tamak takkan berhasil. Salah satu wujud tamak adalah tidak alergi untuk berutang. Dalam berbisnis harus berani berutang. Itu, kalau takut berutang, tak akan bisa berbisnis. Kalau mau kaya, makin banyak untung, makin nyenyak tidur. Demikian resep untuk jadi kaya yang dianjurkan oleh Ketua Umum ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) Marzuki Uman (KOMPAS, Jum’at, 23 Mei 1997, hal 15).

Dalam dunia industri, manusia dipandang tidak lebih dari robot-robot untuk mengoperasikan mesin-mesin industri. Manusia industri menghabiskan hidupnya dalam lingkungan yang bercorak pabrik yang senantiasa berhubungan dengan mesin. Dibesarkan dan dididik dalam pendidikan bersuasana, bergaya pabrik. Sekolah merupakan pendidikan massal yang menekankan kedisiplinan terhadap waktu (time is money), kepatuhan dan rutinitas kerja. Pekerja harus datang tepat waktu, melaksanakan perintah tanpa bertanya-tanya (oke boss), melakukan pekerjaan secara rutin. Aktivitas produk sekolah tak lebih dari robot-robot (manusia robot). Demikian disimak antara lain dari “Keluarga Islam Menyongsong Abad 21”, oleh Ibnu Musthafa.

Dalam dunia industri yang digalakkan, tenaga manusia adalah robot, pelayan dari mesin pabrik, abdi, hamba dari mesin. Timbul rasa kesedihan, bila jam kerja lembur dihapuskan. Maunya bekerja lebih dari tujuh atau delapan jam sehari. Memang demikianlah mental pabrik, mental pelayan, mental abdi, mental hamba, mental mengacu ke-atas. Pada industri, para pekerja (buruh) secara berkala tenaganya disedot pada malam hari, sebagai budak industri. Padahal malam itu diciptakan Allah untuk bisa beristirahat (QS Yunus 10:67).

Mental budak, mental inlander, mental anak jajahan tercermin dari sikap yang mempercayai tenaga ahli asing dari pada mempercayai tenaga ahli bangsa sendiri. Suatu perusahaan diyakini akan menjadi baik kinerjanya kalau pimpinannya orang asing, meskipun yang bekerja semuanya orang Indonesia. Mental demikian meyakini bahwa mustahil bisa berprestasi besar tanpa pengawasan orang asing. Demikian disimak dari analisa Kwik Kian Gie (KOMPAS, Senin, 3 Februari 1997, hal 15).

Kemitraan (koalisi, kolusi, persekongkolan) antar pendukung ketamakan akan kekuasaan (yang berkuasa) dan ketamakan akan kekayaan (pemilik modal) menghasilkan krisis, gejolak. Apa yang akan terjadi bila industri, keuangan, pemerintahan ditangani, dipimpin oleh kiai yang teknokrat-konglomerat ?

Amat disayangkan, tak ada upaya sama sekali untuk mengeliminir, meredusir, membatasi dampat negatif dari industrialisasi, mekanisasi, otomatisasi, investasi, kerja lebur. Bahkan malah pemerintah hanya berperan sebagai agen, fasilisator, broker, makelar, tengkulak untuk kepentingan pemilik modal (PMA, PMDN). Dan rakyat banyak jadi buruh, kuli dari pada investor (asing dan domestik).

Memang sistem yang dikendalikan oleh MNC (Multi National Corporation) dan lembaga-lembaga internasional seperti IMF dan World Bank memonopoli keputusan-keputusan global, dan pengaruhnya berdampak pada milyaran penduduk bumi. Di Indonesia hal ini dapat dilihat misalnya dengan musnahnya usaha-usaha industri rumah tangga, seperti limun, yang ketika dekade 70-an tumbuh menjamur di desa-desa. Tapi kini Coca Cola dan sejenis telah meluluh lantakkan mereka, nyaris tanpa sisa (GERAKAN KELUARGA SEJAHTERA Muhammadiyah, No.11, April-Juni 1994, hal 8).

= Bekasi 9 Februari 1997 =

2 Menyoal Orientasi Kepentingan

Dalam acara dua jam saja TVRI, Senin, 21 Agustus 2000, 07.00, Menteri Investasi dan BUMN, Rozy Munir menegaskan bahwa kebijakan Investasi dan BUMN itu berpangkal pada profit oriented.

Kebijakan penyelenggara negara yang berorientasi pada profit ini sungguh amat menyimpang dari amanat pasal 33-34 UUD-45 yang berorientasi sosial, untuk sebesar-besar kesejahteraan, kemakmuran rakyat banyak.

Bila kebijakan yang berorientasi profit ini yang harus diterapkan, maka terlebih dulu perlulah merubah pasal 33-34 UUD-45 itu, sehingga untuk sebesar-besar kesejaahteraan, kemakmuran pemodal.

Dalam penyusunan resyafel komposisi formasi personalia kabinet mendatang, oleh berbagai kalangan diminta agar berorientasi pada profesi. Orang-orang yang akan didudukkan dalam kabinet itu haruslah orang-orang profesional, bukan orang partisan, bukan orang partai.

Pola pikir yang berorientasi pada prefesi ini sungguh amat bertentangan dengan tata bernegara yang berorientasi pada partai. Presiden, pemegang hak prerogatif penyusunan kabinet itu diberi mandat, wewenang oleh MPR, yang sebagian besarnya adalah orang-orang partai (DPR).

Bilamana orang-orang eksekutif haruslah orang-orang profesional, maka perlulah UU pemilu dirubah, sehingga orang-orang legislatif itu semuanya adalah orang-orang profesional (yang diangkat dan yang ditunjuk oleh kalangan profesional).

3 Menyoal profit-oriented

Setiap kalangan merasa bahwa kalangan merekalah yang paling berperan. Pebisnis merasa bahwa yang menggerakkan roda perekonomian ini adalah kalangan mereka, para pelaku ekonomi. Karena itu yang paling pantas duduk dalam pemerintahan haruslah dari kalangan mereka, para pelaku ekonomi, pebisnis agar roda ekonomi berjalan lancar.

Namun kalangan lain memandang sebaliknya. Watak investor, pebisnis, pelaku ekonomi itu adalah avarice (emangnya lu gua pikirin), berorientasi pada profit (untuk kepentingan sendiri), dan sama sekali bukan berorientasi sosial (untuk kepentingan bersama). Dalam pandangan investor, pebisnis, pelaku ekonomi itu tenaga kerja hanyalah alat, sarana untuk menggandakan profit.

Berbeda dengan investor, pebisnis, pelaku ekonomi, maka penyelenggara negara (menteri dan aparatnya) itu haruslah berorientasi sosial. Sesuai pasal 33-34 UUD-45, maka profit bagi negara adalah untuk sebesar-besar kesejahteraan, kemakmuran rakyat banyak. Bila yang dikehendaki adalah sebesar-besar kesejahteraan, kemakmuran pemodal, maka haruslah dirubah pasal 33-34 UUD-45 tersebut. (Bks 17-8-2000)

4 Menyoal industrialisasi

Industrialisasi dipelopori oleh Revolusi Industri yang pertama kali terjadi di negeri Inggeris yang berlansung sejak 1750 dengan puncak perkembangannya pada sekitar 1850. Inti dari pengertian Revolusi Industri adalah penggantian tenaga manusia dengan tenaga uap sebagai tenaga penggerak. Revolusi industri didahului oleh Gerakan Intelektualisme (Renaissance dan Humanisme sekitar 1300-1500) yang mencapai puncaknya pada Revolusi Perancis 1789. Indonesia sendiri dalam sejarah perekonomiannya belum pernah mengalami Revolusi Industri seperti di negara-negara industri.

Industrialisasi membutuhkan daerah produsen (penghasil bahan mentah dan bahan baku bagi industri), daerah konsumen (pemakai/pembeli barang jadi hasil produksi industri), daerah investasi (untuk menanamkan modal lebih dari konglomerat). Industrialisasi berwatak tamak (imperialisme), punya nafsu serakah untuk merampas dan menguasai daerah atau negeri lain. Industrialisasi menimbulkan urbanisasi, gejolak sosial (keresahan dan kerusuhan). Industrialisasi menghasilkan kuli, buruh pabrik yang bernasib buruk, dan konglomerat yang menumpuk kekayaan triliunan. Industrialisasi tak pernah mendatangkan kemakmuran bagi kuli, buruh pabrik industri. Buruh tak pernah berhenti berjuang menuntut upah, jam kerja dan jaminan yang sangat layak. Besarnya upah buruh yang layak dapat dikalkulasikan dari besarnya kerugian yang diderita oleh konglomerat pada saat aksi mogok kerja yang dilakukan oleh buruh. Kegigihan perjuangannyalah yang dapat mengangkat standard/tingkat hidupnya (memakmurkannya). “Adalah suatu kemustahilan, kondisi golongan miskin itu akan berubah tanpa suatu kekuasaan. Dan suatu kekuasaan tidak akan lahir tanpa diperjuangkan” (TOPIK, No.6, 14 Februari 1984, hlm 6). (Bks 29-12-1997).

5 Menyoal PMA

Konglomerat Barat (juga Timur dan Domestik) menanamkan modalnya di tanah air Indonesia ini pada sektor industri dan niaga. Industri dan niaga ini langsung di bawah kontrol dari pimpinan konglomerat sendiri. Bagi konglomerat (juga bagi kompeni dulu), rakyat merupakan tambang emas. Mereka dipekerjakan sebagai buruh pabrik untuk melayani mesin produksi. Tenaganya diperas dan dikuras dengan upah yang sangat minim. Tak heran bila mereka berjuang berkepanjangan menuntut upah yang paling layak. Juga rakyat itu merupakan objek pasar, pembeli, konsumen barang produksi industri konglomerat. Rakyat digunakan konglomerat untuk menggandakan kekayaan konglomerat. Pertama dari upah buruh yang sangat tak layak (di bawah standard umum) dan dari keuntungan penjualan barang produksi kepada rakayat konsumen. Jutaan, milyaran, triliunan rupiah mengalir ke pos-kekayaan konglomerat. Rakyat tetap sebagai kuli, buruh dengan standard/tingkat hidup yang jauh di bawah layak.

Dimaklumi bahwa salah satu akibat dari penanaman modal Barat (juga Timur dan Domestik) yang berkelebihan adalah semakin melebarnya kesenjangan sosial ekonomi di tengah masyarakat (bergrafik tangensial). Yang sebagian besar hanya punya penghasilan dalam ribuan rupiah, sedangkan yang sebagian kecil lainnya punya penghasilan dalam jutaan rupiah, bahakan ada yang dalam milyaran dan triliyunan rupiah. Rakyat tetap saja kuli, buruh kilang pabrik konglomerat. Industrialisasi dan pabrik-pabrik telah menghasilkan kuli, buruh pabrik yang bernasib sangat buruk, dan konglomerat yang menumpuk kekayaan triliyunan. Industrialisasi tidaklah mendatangkan kemakmuran rakyat, kecuali bagi konglomerat.

Sistim pendidikan (link & match) juga mempersiapkan rakyat (anak didik) untuk melayani kebutuhan konglomerat yang menguasai industri. Sekolah itu diproyeksikan untuk mengabdi pada pembinaan SDM yang diperlukan bagi industri, untuk memberikan yang terbaik pada para pelaku ekonomi. Tegasnya sekolah harus mengabdi pada industri. Dalam bahasa pasaran “pendidikan harus mengabdi pada konglomerat”. Perbudakan modern.

Sampai di mana, sistim industri, sistim pendidikan, sistim ketenagakerjaan, sistim pengupahan mengangkat standard/tingkat hidup rakyat (memakmurkan rakyat) ? Di Cikarang, Jawa Barat, misalnya, tersedia lahan kawasan industri bagi lebih tiga-ratusan investor. Berapa jumlah kekayaan rakyat setempat yang tergusur/tersedot ? Seberapa jauh tingkat kesejahteraan rakyat sekitar kawasan industri dapat diharapkan naik dengan keberadaan industri ? Seberapa jauh sumbangan industri terhadap pembinaan SDM rakyat sekitar ? Apakah rakyat hanya harus bekarja keras (berkorban) dalam rangka memberikan saham bagi kepentingan konglomerat ? (Bks 27-12-1997)

Asrir sutan

1

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka

Perpecahan Menghalangi Turunnya Pertolongan Allah

Perpecahan Menghalangi Turunnya Pertolongan Allah

“Jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmua” (QS 47:7).

Rasulullah menyampaikan, bahwa jika Allah sudah menentukan suatu ketetapan, maka ketetapan itu tidak dapat dibatalkan, bahwa Allah tidak akan membiarkan umat Islam dikuasai oleh musuh mereka, kecuali kalau di antara umat islam sendikri timbul pertentangan, sehingga satu sama lain saling menghancurkan (Simak “Tafsir Ibnu Katsir”, jilid II, hal 144, “Zaadul Mi’ad”, jilid I, hal 90).

Umat Islam tak akan hancur karena bencana kelaparan yang berkepanjangan, karena dikuasai oleh musuh Islam, tapi akan hancur karena kekuatan dari dalam sendiri. Pertolongan allah terhalang oleh karena perpecahan umat. Segala perjuangan umat Islam yang dilakukan tidak menggunakan Islam sebagai cara, program dan perjuangananya tidak akan mendapatkan pertolongan Allah (WESTAFET, No.36, Th.IV, Oktober 1988, hal 32, “Bila Kehancuran Yahudi”).

Karena mulai selisih tentang siapa yang lebih berhak akan jadi ganti Rasulullah menjadi Khalifah Rasulullah, maka jenazah Rasulullah saw terlambat menguburkan beliau selama dua hari. Dan kemudian itu terjadi pertunmpahan darah yang hebat, memusnahkan berpuluh ribu pemeluk Islam karena perperangan saudara di antara Ali dan Mu’awiyah. Kemudian itu timbul pertentangan kaum Khawarij dengan kaum Syi’ah. Dan di zan Daulat Bani Abbas, telah terjadi pula berkali-kali pertumpahan darah di antara sesama pemeluk paham Sunni dalam perkara-perkara kecil yang sepatutnya tidak menjadi pangkal selisih.

Jatuhnya Kerajaan Bani Abbas di Baghdad, diserang, dijarah, dijajah oleh bangsa Mongol, karena Khalaifahnya orang Sunni, dan wazir besarnya (Perdana Menterinya) orang Syi’ah. Sejarah mengatakan bahwa wazir al Aiqani itulah yang membuka rahasia pertahanan aghdad kepada Hulago Khan, sehingga Baghdad diserbu dan dihancurkqan, dan Khaliah dibunuh dan akhirnya wazir itu sendiri dibunuh pula.

Di Baghdad pernah terjadi bunuh membunuh di antara pemeluk Islam Mazhab Syafi’I dengan pemeluk Mazhab Hanqafi karena perkara menjaharkan Bismillah. Perkelahian penganut mazhab Syafi’I dengan Mazhab Hanfi telah sampai menghancurleburkan negeri Meru sebagai pusat ibukota wilayah Khurasan.

Di abad ke 15, amat hebat pertarungan Kerajaan Turki dan Kerajaan Iran dan dengan terang-terang kedua pihak mengatakan bahwa mereka berperang adalah karena mempertahankan kesucian Mazhab mereka masing-masing, sebab Turki adalah Sunni Hanafi, dan Iran Syi’ah. Di dalam abad ke 19, Kerajaan Turki menyuruh Muhammad Ali Pasya Penguasa Negeri Mesir memerangi penganut faham Wahabi di Tanah Arab. Untuk ini dibuat propaganda di seluruh Dunia Islam, bahwa Wahabi itu telah keluar dari garis Islam yang benar, sehingga sisa dakinya sampai sekarang masih bersisa dalam otak golongan tua dalam Islam (Prof Dr Hamka : “Tafsir AlAzhar”, 1984, juzuk 3, hal 9-10).

Bertahun-tahun terjadi perang antara Irak dengan Iran. Kemudian terjadi Perang Teluk I antara Irak dan Kuwait yang dibantu oleh Saudi Arabia dan Amerika Serikat. Sepuluh tahun kemudian terjadi Perang Teluk II antara Irak dan Amerika Serikat dengan sekutunya. Kuwait dan Turki termasuk sekutu dan pendukung Amerika Serikat. Umat Islam di seluruh dunia dimanfa’atkan oleh negara Adidaya untuk saling bakuhantam sesama mereka untuk kepentingan neara Adidaya.

Tinggalkan komentar

Filed under catatan serbaneka